»
S
I
D
E
B
A
R
«
Ketika Debut Pertama TVRI-ku Gagal Total!
Feb 28th, 2009 by Elok Halimah

Siang itu aku mendapat berita baik dari Bu Guru. Berita besar! Aku akan pergi ke Jakarta! Bayangkan, aku akan pergi ke ibukota Republik Indonesia! Dan ini bukan perjalanan sembarangan, aku akan mengikuti upacara “Gelar Senja” di Jakarta. Bu Guru juga bilang kami akan muncul di layar TVRI, karena stasiun Surabaya akan menyiarkannya di Jawa Timur. Ah, hebat sekali!

Sesampainya di rumah cepat kusampaikan kabar itu ke Ibuku. Beliau hanya tersenyum saja melihat semangatku yang menyala-nyala pergi ke Ibukota.

Sejak hari itu setiap hari aku rajin mempelajari kode Morse. Itu lho, kode yang kita pelajari di Pramuka, cara pengiriman tanda melalui bendera kecil. Aku ingin memastikan bahwa perjalanan pertamaku ke Ibukota tidak akan sia-sia dan aku tidak akan mempermalukan nama keluarga, nama sekolah, dan nama Kwartir Cabang yang aku wakili. Aku harus menjadi anak Pandu yang sukses! Begitu tekadku waktu itu.

Read the rest of this entry »

Dokter Berkata "Paling Lama Dua Bulan". Apa Yang Akan Anda Lakukan?
Feb 28th, 2009 by Elok Halimah

img_0597

Jika Dokter mengatakan bahwa hidup seseorang yang sangat kita cintai dan hormati tak lama lagi, paling lama dua bulan, apa yang Anda akan lakukan?

Berdoa? Sudah. Berdoa tiap hari, pagi, siang, sore, dan malam. Bukan hanya ketika bersembahyang, tapi setiap detik dan menit malah, sambil berjalan, sambil makan, sambil bekerja.

Read the rest of this entry »

Babi atau Ayam? Kanan atau Kiri? Reporter atau Turis Biasa?
Feb 28th, 2009 by Elok Halimah

Saya tidak bisa makan daging babi tapi penggemar berat sosis. Seperti Anda tahu, di banyak negara lain sosis berarti daging babi, kecuali jika kita berbelanja di toko khusus penjual makanan halal. Makanya jika ada kesempatan makan sosis sapi atau ayam, saya cenderung lupa diri, alias maruk alias nggragas alias rakus.

Nah, kemarin juga begitu. Mata saya langsung bercahaya kegirangan melihat tanda “chicken sausage” di depan sebuah piring besar yang tersedia di meja sarapan pagi. Supaya lebih yakin, saya tanya ke petugas yang sedang berdiri di situ. “Chicken?” tanya saya sambil menunjuk ke piring besar. Si petugas menjawab dengan ramah dalam bahasa Perancis, “Wi Madame, chicken.”

"Pedagang sosis kaki lima di kota kelahiran saya"

"Pedagang sosis kaki lima di kota kelahiran saya: uenaaaaaak tenan"

Read the rest of this entry »

Excuse Me, Are You Under 26?
Feb 26th, 2009 by Elok Halimah

It was a sunny afternoon and I was walking slowly through the narrow yet elegant street towards the cinema building. I had been listening to so many positive reviews on “Slumdog Millionaire” and was happy that finally I would soon be watching it by myself. The day before, I also went to the same cinema, to make sure that the movie would be in English, not dubbed in French.

Standing at the ticket window, I smiled at the staff whose eyes were so beautifully big.
“One ticket for Slumdog Millionaire, please.”
“Are you a student?”
“No.”
“Are you under 26 year old?”
“Pardon me?”

Read the rest of this entry »

I Dream of Yogyakarta
Feb 24th, 2009 by Elok Halimah
"Salah satu sudut jalan di Yogya yang hiruk pikuk dengan pengendara motor."

"Salah satu sudut jalan di Yogya yang hiruk pikuk dengan pengendara motor."

Saya kangen Yogya. Mungkin lebih tepatnya, kangen kawan-kawan lama yang dulu sama-sama tinggal, kuliah, bermain, dan berjuang di Yogya.

Oh tidak, saya tidak sedang mendengarkan lagu “Yogyakarta” dari Kla Project. Terakhir saya menikmati lagi itu beberapa bulan lalu, melalui “konser” murah meriah Youtube. Saya juga tidak (setidaknya belum dalam waktu dekat ini) berencana pergi ke Yogya. Hanya saja, minggu lalu saya bertemu dengan beberapa kawan lama, sahabat di masa awal tinggal di Tokyo. Mereka sudah pulang ke negaranya, bekerja di negara lain, atau tinggal di negara lain mengikuti keluarganya. Setelah bertahun-tahun tak bertemu, minggu lalu kami duduk dan menikmati secangkir kopi (dan berpiring-piring camilan) bersama-sama lagi.

Seperti apa yang biasa dilakukan di acara reuni, topik yang paling seru tentu saja membahas kenangan masa lalu. Tentang si A yang sempat naksir si C, si D yang pernah berantem hebat sama si X, si E yang sekarang sudah punya dua anak sama si F, si R yang sekarang berkelana di Afrika, dan sebagainya. Kami tertawa hingga keluar air mata ketika mengingat kebodohan dan keluguan masa lalu.

Read the rest of this entry »

A Lesson From My Japanese Colleagues: Don't Order Steak!
Feb 21st, 2009 by Elok Halimah

It was my first day of work at a Japanese firm. All new hire from my department was invited by our president to attend a welcome luncheon held at a Western restaurant nearby our office complex. Fresh from graduate school with no experience at a totally Japanese company, I didn’t quite understand about its strictness of hierarchy system. Of course I had heard a lot of it, but I wasn’t aware that once I joined the company, I have to eliminate my impatience attitude to the zero level.

"This one is definitely cheaper than steak. Unfortunately, it was not on the menu."

"This one is definitely cheaper than steak. Unfortunately, it was not on the menu."

It was an a la carte luncheon. As the president couldn’t make up his mind right away, he politely offered us to go ahead first with our orders. None of us did. I was still debating, steak or Japanese fish lunch set. The steak looked dangerously tempting. But I was in the middle of my effort, which is now still an unsuccessful one, to switch my status from meat lover to fish eater.

Read the rest of this entry »

Pedagang Pasar China vs. Wanita Indonesia
Feb 18th, 2009 by Elok Halimah
"Salah satu sudut kota Beijing di pagi hari, akhir musim panas 2006"

"Salah satu sudut kota Beijing di pagi hari, akhir musim panas 2006"

Kisah ini terjadi beberapa waktu lampau di Pasar Sutera Beijing atau yang di buku panduan biasanya disebut “Silk Market”. Aku sedang berburu beberapa cinderamata khas Cina untuk oleh-oleh kawan dan rekan kerja. Setelah keliling beberapa saat, mataku menemukan tumpukan sarung bantal yang cantik. Sulaman khas Cina dengan rumbai-rumbai di empat ujungnya. Aku pikir pasti cocok untuk diberikan ke seorang kawan baik yang aku tahu penggemar sarung bantal.

Sejak sebelum berangkat, sang pemandu wisata yang asli penduduk Beijing sudah wanti-wanti bahwa kami harus pandai-pandai menawar. Silk Market merupakan salah satu tujuan utama bagi para turis yang berniat mencari oleh-oleh. Selain karena lokasinya yang strategis, juga karena banyaknya jenis oleh-oleh yang bisa dipilih di satu tempat. Dia bilang para pedagang tak segan memberi harga selangit, berlipat-lipat dari harga normal. Dia juga menegaskan, selama proses tawar menawar dia tidak mau dilibatkan, karena dia tak mau dianggap tidak “memihak” orang sebangsa.

Read the rest of this entry »

Berapa Harga Secangkir Coklat Panas di Tempat Anda?
Feb 18th, 2009 by Elok Halimah
"Secangkir coklat panas dan apple pie sebagai hidangan sore hari di musim dingin"

"Secangkir coklat panas dan apple pie sebagai hidangan sore hari di musim dingin"

Saya sedang membaca The Wall Street Journal Asia edisi akhir pekan, 23-25 Januari 2009 ketika tiba-tiba saya merasa sedih. Kalau saja saat itu sedang tidak berada di warung kopi, mungkin saya sudah menangis. Penyebabnya adalah sebuah kolom kecil di halaman W5 dengan judul “A cup of hot chocolate” yang memuat harga rata-rata secangkir coklat panas di beberapa kota besar dunia, yaitu Sydney, Manila, Bangkok, London, Kuala Lumpur, Jakarta, Frankfurt, Hong Kong, Paris, Singapore, Seoul, Shanghai, Tokyo, New York, dan Rome.

Di Tokyo harganya rata-rata 417 yen atau $4.62 dalam kurs ketika berita itu diturunkan. Di Jakarta tertulis Rp. 30.333 atau $3.25. Mahal? Tergantung dari kaca mata siapa kita melihatnya. Dan inilah yang membuat saya merasa sedih. Sudah bertahun-tahun saya kecanduan minum coklat di warung kopi. Dulu ketika harus mengejar tenggat waktu untuk mengumpulkan laporan penelitian atau tesis, saya akan membopong laptop ke Starbucks terdekat dari rumah. Duduk di sana berjam-jam, mengetik beberapa halaman sambil kadang-kadang menyeruput es caramel macchiato. Alasannya? Karena kalau saya mengetik di kamar, pasti langsung tergoda untuk menonton TV, membaca majalah, atau yang paling parah untuk berbaring di kasur, merasa yakin akan bisa bangun lagi dalam waktu 10 menit. Dan biasanya saya bablas ketiduran, bangun-bangun sudah sore karena perut lapar.

Read the rest of this entry »

Antara Suamiku, Barack Obama, dan Kota Kecil di Minnesota
Feb 18th, 2009 by Elok Halimah
"Memasuki wilayah negara bagian Minnesota dari arah Wisconsin"

"Memasuki wilayah negara bagian Minnesota dari arah Wisconsin"

Tanggal 21 Januari pukul 1:30 pagi waktu Jepang, kami duduk di depan TV sambil menahan kantuk. Menyaksikan para petinggi negara AS satu persatu memasuki podium kehormatan di National Mall yang terletak di ibukota negara. Ketika pembawa acara mengumumkan bahwa Joe Biden, wakil presiden terpilih, akan segera memasuki podium, Donald sudah duduk tegak lagi tanpa rasa kantuk, terhanyut oleh emosi keharuan yang sulit digambarkan. Lalu ketika sang bintang, Barack Obama, melangkahkan kaki menuju podium, saya genggam tangan suami saya. Meskipun bukan warga negara AS, saya paham betapa bangganya malam itu suami saya, menyaksikan satu episode bersejarah yang akan dikenang sepanjang masa, Amerika menobatkan presiden kulit hitam pertamanya.

Donald lahir di tahun 1964. Tiga belas bulan setelah mantan presiden John F. Kennedy tewas terbunuh dan kemudian digantikan oleh Lyndon Johnson. Kira-kira setahun setelah Martin Luther King, Jr. memimpin march di Washington dan menyampaikan pidato terkenalnya, “I have a Dream”. Tahun kelahirannya juga bersamaan dengan dihapusnya UU segregasi dan dianugerahkannya Nobel Perdamaian kepada Martin Luther King. Di Asia, pada tahun itu Jepang menggelar olimpiade musim panas, menjadi tuan rumah negara Asia yang pertama dalam sejarah olimpiade. Pendek kata, Donald belum lahir ketika rakyat masih dibedakan kelas dan statusnya menurut warna kulit. Dia masih terlalu kecil ketika segala bentuk segregasi dan prakteknya dinyatakan tidak konstitusional. Dia tidak ingat lagi apa yang terjadi di sekitarnya ketika pada tahun 1968 Martin Luther King tewas terbunuh, karena pada saat itu dia hanya berumur 4 tahun.

Read the rest of this entry »

"Bu Guru, Apa Beda Semut Dengan Sumut?"
Feb 18th, 2009 by Elok Halimah

Bagi Anda yang sedang atau pernah mengajar bahasa Indonesia kepada orang Jepang, tentu Anda sudah paham maksud judul di atas. Orang Jepang kesulitan membedakan pelafalan “semut” dengan “Sumut”. Nampaknya bagi mereka semua terdengar “sumut”. Hal serupa terjadi pada kata “hilang” dan “bayangan”. Orang Jepang kelihatannya susah mengenali perbedaan akhiran “ng” dengan “n”. Yang satu mendengung dengan lidah tak melekat pada rongga mulut, yang satunya lagi ditutup dengan lidah yang dilekatkan pada dinding mulut bagian atas. Mungkin ada istilah linguistik tertentu untuk situasi seperti ini, saya tak tahu apa namanya.

Sejak masih mahasiswa di Yogya, saya mulai mengajar bahasa Indonesia pada beberapa mahasiswa asing, kebanyakan orang Jepang dan Korea. Motivasinya sederhana, untuk mencari uang saku dan mencicil uang kuliah yang dibayar tiap semester. Sekarang pun saya masih membantu beberapa kawan orang Jepang yang mendalami bahasa ibu tercinta, meskipun dengan motivasi yang berbeda. Tingkat kemampuan mereka pun beraneka-ragam. Ada yang masih baru mulai, di mana saya biasanya membantu mengenalkan kosakata baru dan tata bahasa dasar. Bisa dikatakan ini tingkat yang termudah, karena mereka juga masih “polos”, belum mempunyai pengetahuan khusus tentang bahasa Indonesia. Seperti menggambar di atas kertas putih bersih, terserah kita mau menggambar apa. Biasanya mereka ini kawan lama yang menjadi tertarik dengan Indonesia setelah bertahun-tahun berinteraksi dengan lingkungan saya.

Ada juga tingkat menengah. Biasanya mereka sudah paham percakapan dasar, sudah pernah berkali-kali jalan-jalan ke Indonesia (minimal Bali), dan bertekad untuk menguasai bahasa Indonesia. Bisa juga mereka yang akan dikirim oleh instansi atau perusahaanya untuk bertugas di Indonesia. Ini tingkat tersulit menurut saya, karena mereka sudah bisa mengerti banyak hal tetapi belum menguasai nuansa-nuansa tertentu. Misalnya perbedaan antara kata “memukul” dan “memukuli”. Kadang kami harus duduk dan belajar berjam-jam sekedar untuk memastikan bahwa mereka bisa membuat contoh-contoh kalimat yang benar.

Read the rest of this entry »

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa