Belanja, belanja! Selamatkan ekonomi Jepang!
Hari ini hari terakhir bulan Maret. Berarti besok sudah bulan April. Asyik! Berarti tinggal beberapa saat lagi pemerintah Kota Kawasaki akan mengirimkan informasi dan formulir pendaftaran ke penduduk untuk menerima uang cash handouts yang sebesar 12.000 yen, sebagai salah satu usaha Perdana Menteri Taro Aso untuk merangsang ekonomi. Supaya masyarakat membelanjakan uang itu, sehingga roda ekonomi terus berputar, sehingga ekonomi Jepang tidak terpuruk lebih dalam lagi dan segera bangkit dari resesi global ini.
Begitulah pengertian dangkal orang yang bukan ahli ekonomi tapi suka melihat & membaca berita ekonomi, dan kadang (menurut seorang kawan baik) sok berkomentar ilmiah dari segi ekonomi seperti saya.
Usulan PM Aso sudah disetujui dan disyahkan oleh Parlemen, meskipun melalui perundingan yang alot, dan pro-kontra masih terus ada hingga sekarang. Namun karena sudah disyahkan, artinya harus dilaksanakan. Bahkan di awal bulan Maret, Desa Nishi-Okoppe di Hokkaido dan Nishimeya di Aomori Prefecture sudah membagi-bagikan uang itu ke penduduknya.
Read the rest of this entry »
PR membaca terakhir yang belum selesai, "Maryamah Karpov"
Hari ini, setelah tersesok-seok membagi waktu antara pekerjaan, urusan rumah, kegiatan di lingkungan masyakarat sekitar, organisasi sukarelawan, akhirnya saya berhasil menyelesaikan novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi yang berjudul “Edensor”.
Kesimpulan yang bisa ditarik dari membaca tiga novelnya: saya mabuk kepayang, tergila-gila kepada tulisan Andrea Hirata yang memabukkan.
Dahsyatnya lagi, pengaruh cinta itu telah dengan sukses saya tularkan kepada suami tercinta yang sebetulnya tak mengerti bahasa Indonesia, apalagi logat Melayu seperti dalam novel. Medium penularan? Saya terjemahkan secara lisan bab per bab, setiap malam sebelum tidur, dengan syarat kalau masih ada sisa tenaga setelah bekerja seharian. Donald pun telah kecanduan tulisan Andrea. Seperti kemarin, waktu dilihatnya saya membaca “Edensor”, dia spontan berkata, “Tak sabar aku menunggu untuk mendengar lanjutan cerita, kisah petualangan Ikal dan Arai di Sorbonne!”
Sakura dan mereka yang berpiknik untuk menikmatinya di Taman Kinuta, Setagaya
Bau musim semi sudah di mana-mana. Musim bunga Sakura! Seperti tahun-tahun sebelumnya undangan untuk ber-hanami (berpiknik menikmati Sakura) mulai berdatangan. Sayangnya, karena banyaknya proyek, naskah, dan pekerjaan yang terbengkalai, selama beberapa waktu ke depan setiap akhir pekan saya harus tetap duduk di depan komputer atau rapat di luar. Bagi kawan-kawan yang undangannya terpaksa tertolak, maafkanlah saya.
Bunga Sakura memang cantik. Tidak diragukan lagi! Di jalan besar dekat rumah saya berderet-deret pohon Sakura. Jika semuanya mekar berbarengan, bisa Anda bayangkan kecantikannya. Seperti berjalan di bawah terowongan bunga-bunga cantik merah muda. Setiap melewati jalan itu saya secara otomatis berhenti sejenak untuk menikmati kecantikannya. Di bagian yang berkelok terdapat seruas tanah kosong, tepat di bawah rimbunnya Sakura. Setiap siang dan sore di tempat itu selalu ada segerombolan orang yang duduk menengadah. Mengagumi sang primadona musim semi.
Camilan dan buku memoar Amy Dickinson "The Mighty Queens of Freeville" untuk menghabiskan waktu menunggu sekitar 7 jam
Pesawat American Airlines dengan nomor penerbangan AA 175 berangkat dari Texas, tepatnya Bandara Internasional Dallas/Forth Worth menuju Bandara Narita, Tokyo.
Para penumpang baru saja selesai menyantap makan siang, beberapa masih belum selesai menyeruput kopi atau teh panas penutup hidangan. Saya berdiri hendak antri ke kamar kecil ketika tiba-tiba pengumuman berkumandang di seluruh kabin.
“Para penumpang, jika ada dokter, perawat, atau profesi medis lainnya di dalam penerbangan ini, tolong segera menghubungi awak kabin terdekat Anda.”
Saya tak terkejut dengan isi pengumuman. Sebelumnya pernah beberapa kali mengalami hal yang sama. Tetapi, beberapa menit kemudian pengumuman yang sama diulang, kali ini dengan nada yang lebih mendesak. Setelah itu nampak suasana yang agak tegang di antara para awak kabin. Beberapa pramugari dan pramugara mondar-mondir, kadang sedikit berlarian. Beberapa penumpang yang duduk di dekat saya mulai saling melempar pandang, bertanya-tanya apa yang terjadi.
Beberapa kartu ucapan di stock saya
Ada satu tas plastik besar di salah satu sudut kamar kecil kami. Isinya macam-macam kartu ucapan. Ucapan apa saja, yang berhubungan dengan perayaan keagamaan seperti selamat menunaikan ibadah puasa, selamat Hari Raya Idul Fitri, happy Easter, dan selamat hari Natal dan Tahun Baru. Yang berhubungan dengan perayaan pribadi, seperti selamat ulang tahun, selamat bertunangan, selamat menempuh hidup baru, dan selamat menikmati rumah baru. Yang berhubungan dengan karir, seperti selamat bertugas di tempat baru, selamat atas promosi kenaikan jabatan, dan selamat menikmati hidup baru di masa pensiun (happy retirement). Yang berhubungan dengan perayaan keluarga, seperti selamat atas kelahiran putra/putri, kelahiran cucu, selamat hari Thanksgiving, selamat hari Ibu, dsb.
Yang tak kalah penting adalah kartu ucapan simpati, mulai dari kartu turut berduka cita atas meninggalnya seseorang, kartu pemberi semangat untuk mereka yang baru saja mengalami musibah atau kecelakaan, sampai kartu ucapan semoga cepat sembuh untuk mereka yang sedang sakit.
Mungkin beberapa dari Anda bertanya-tanya, di jaman yang serba digital dan elektronik ini, kenapa repot-repot menulis dan mengirim kartu ucapan?
Kalau Anda penggemar gosip selebritis Hollywood, pasti Anda sudah mendengar berita terbaru yang menggemparkan. Rihanna kembali ke pelukan Chris Brown! Padahal beberapa minggu lalu Chris baru saja memukulinya hingga berdarah-darah. Tetapi menurut majalah People, Rihanna ternyata tidak bersedia memberikan testimoni di pengadilan tentang tindak kekerasan sang kekasih. Oh kehidupan…! Jadi teringat jaman SMA, ketika slogan “cinta itu buta” sering aku ucapkan.
Tadi malam, ketika sedang membaca majalah People itu (sekedar informasi bagi yang belum tahu: aku penggemar majalah gosip!), aku jadi senyum-senyum sendiri. Teringat seorang kenalan yang percaya seratus persen bahwa cinta itu mutlak, harus buta. Susahnya, bagi dia ini berlaku hampir di semua sisi kehidupan sehari-hari, bukan hanya di dunia asmara. Dia tidak percaya adanya “gray zone”, semua harus jelas hitam putihnya.
Mencetak photo sendiri di selembar "uang" di Pameran Sejarah Ekonomi dan Keuangan di Bank Central Hungaria. Kertas yang di bawah adalah bagian belakang.
Saya gemar membaca buku sejarah dan menonton film yang dibuat berdasarkan fakta sejarah. Sejarah apa saja, dari yang berkaliber besar seperti sejarah suatu bangsa sampai yang berskala kecil, misalnya sejarah sebuah keluarga tertentu. Novel fiksi yang latar belakangnya menyangkut sejarah tertentu juga bisa menjadi santapan lezat. Mungkin ini pengaruh dari orang tua saya yang sejak anak-anaknya masih kecil suka “mendongeng” tentang sejarah. Saya ingat dengan samar ketika masih tahun-tahun awal di SD sudah “didongengi” sejarah negara-negara Balkan oleh bapak saya yang dengan lihai menggambar peta buta untuk menjelaskan di mana letak negara yang dimaksud.
Jangan heran jika saya menjadi gemar pergi ke museum atau pameran yang ada hubungannya dengan sejarah. Saya bisa mengamati suatu benda yang dipajang, membaca penjelasannya, lalu termenung di situ beberapa saat. Sekedar untuk membuat gambaran di kepala bagaimana situasi kehidupan di masa itu. Jika belum puas, sesampainya di rumah saya cari informasi yang lebih terperinci tentang apa yang baru saya lihat atau dengar. Mungkin ini pula yang menyebabkan orang tua saya membelikan kami satu set lengkap buku Ensiklopedia Indonesia dan Dunia, ketika kami masih duduk di SD. Asal muasalnya mungkin sederhana, bapak dan ibu mungkin capek menjelaskan satu per satu setiap kali kami menonton Dunia Dalam Berita di TVRI (di kemudian hari saya paham bahwa ensiklopedia itu dibeli bapak saya dengan kredit cicilan).
"One corner of Hokkaido University, in front of Dr. Clark's statue. Takeo always loved Hokkaido and finished his first degree here."
I was going through some old books and papers yesterday. Not looking for something in particular, just trying to get rid of things I don’t need anymore. After a few minutes, my eyes found something special. Papers filled with my handwritting in a peculiar file. It’s my Kanji’s practice book when I was preparing myself for the entrance exam at the Graduate School of Area & Culture Studies, Tokyo University of Foreign Studies.
It brought back many memories.
It was never easy for me to get accepted in a Japanese graduate school to do a research on Japanese literature during the Taisho period (1912-1926).
"Saling menyapa dengan sedikit membungkukkan badan."
Tulisan ini tidak untuk mengolok-olok orang Jepang. Siapa saya ini kok punya wewenang untuk mengolok? Tulisan ini murni untuk bahan pelajaran bagi kita. Pelajaran gratis yang datang langsung dari tukang rekrut Kantor Pusat PBB di New York sana.
Tadi malam di tengah hujan deras dan angin kencang, saya dua kali tersesat dalam rangka mencari Masaru Ibuka Memorial Hall-nya Universitas Waseda. Maklum, saya tidak bisa baca peta. Setelah bertanya ke seorang ibu, akhirnya saya menemukan baliho besar di sebuah pintu gerbang, “Advice on Careers at the United Nations-A Review of 2009 UN Recruitment Mission to Japan. ”
"Don't push. Don't rush." Pesan di sebuah stasiun metro di Hong Kong.
Akhir-akhir ini saya sering teringat beberapa pepatah lama yang dulu saya pelajari di sekolah. Lain padang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Semuanya mempunyai makna yang sama. Bahwa kita harus menghormati adat istiadat, kebiasaan, tata cara, dan budaya masyarakat di daerah yang sekarang kita tempati.
Seiring dengan semakin globalnya jaman, pepatah ini terasa sekali kesaktiannya. Semakin banyak orang menjadi nomaden, tinggal berpindah-pindah, merantau di tempat yang berganti-ganti. Jangka waktunya macam-macam. Merantau sesaat dengan tujuan pasti kembali ke daerah asal,
merantau dalam jangka lama di tempat yang berbeda-beda dan pindah setiap beberapa tahun, atau yang memutuskan untuk hijrah ke tempat baru selama-lamanya. Bentuknya pun beraneka ragam. Merantau untuk menuntut ilmu, untuk mencari penghidupan yang lebih baik, untuk mengikuti keluarga, atau mengikuti aturan kerja alias sedang dinas luar.