"Sekarang tinggal di mana?"
Kalimat di dalam kurung adalah pendapat pribadi, tidak menggunakan referensi ilmiah apapun selain pikiran sendiri.
1. Sekarang tinggal di mana?
(Oke, ini pertanyaan biasa, kalau tidak bertemu selama bertahun-tahun, pasti kita ingin tahu di mana kawan itu sekarang berada. Siapa tahu ternyata kita masih sekampung, sekota, senegara bagian, senegara. Ini pernah terjadi pada beberapa kawan lama. Ternyata bahkan ada yang tinggal di blok yang sama!)
2. Sudah menikah apa belum?
(Hm……menikah cepat, lambat, atau tidak menikah adalah soal pribadi. Kadang menyangkut pilihan hidup dan kebebasan mutlak tiap pribadi. Menjadikan “menikah” sebagai standar, sesuatu yang selayaknya sudah harus dilakukan oleh kawan seusia menurut saya merupakan isu sensitif. Saya sendiri berusaha tak menanyakan hal ini, kecuali jelas-jelas tertulis statusnya).
Read the rest of this entry »
Tak semua orang bisa mendapatkan bahan makanan melimpah seperti ini
Jika kita sering bertemu di acara makan-makan di restoran, besar kemungkinan Anda pernah beberapa kali melihat saya membungkus sisa makanan dan membawanya pulang. Bukan sisa yang ada di piring makan masing-masing orang, namun sisa yang ada di piring-piring besar tempat makanan disajikan.
Hingga beberapa tahun lalu, karyawan di restoran Jepang sering keberatan jika saya minta tas plastik untuk membungkus sisa makanan yang tak sempat termakan oleh rombongan kami. Alasan yang selalu mereka sampaikan: jika makanan tidak langsung dimakan hari itu juga, mereka tidak bisa menjamin kadar keamanan zat-zat makanan. Jika terjadi sesuatu (keracunan makanan, misalnya), mereka tidak bisa dituntut pertanggungjawaban.
Saya harus menenangkan mereka, mengatakan bahwa makanan sebisa mungkin langsung dimakan, dipanaskan lama sebelum dimakan lagi, dan jika terjadi sesuatu setelah memakan sisa makanan itu, pihak restoran tidak akan dituntut apa-apa. Adakalanya usaha saya berhasil, pihak restoran langsung membungkuskan sisa yang ada. Namun beberapa kali saya tertolak, pihak restoran sama sekali tak mau berkompromi.
Takoyaki
When people think of Japanese food, they invariably think of Sushi. Not me. I am not a sushi fan! I like Aburizushi, which is another way of saying yakizushi, but I am getting ahead of myself.
I dine out for sushi very rarely, mostly when I have to take care of some friends who visit Japan. I can eat sushi when I have to, but if I was put in one room for a week with only two kinds of food, sushi or noodles, I would undoubtedly go for the latter. I enjoy Japanese cuisine, but my passion is never for sushi. I love something else.
My greatest love is for “yaki foods”. All kinds of it! The one with yaki as the beginning of its name, such as yakitori (grilled chicken), yakisoba (fried noodles), or yakiniku (grilled meat, usually beef). Also the one with yaki as the ending of its name, such as teppanyaki, okonomiyaki (vegetable pancakes), monjayaki (thin vegetable pancakes), taiyaki (Japanese sweets made in a sea bream shape), and takoyaki (grilled octopus dumplings).
Anak-anak bermain bersama
Tentu tidak mudah mengajarkan pada anak tentang keanekaragaman manusia dan kepercayaannya. Tetapi jika kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk, tidak ada pilihan lain. Hanya dengan memberikan pengertian sejak dini yang akan membuat mereka mempunyai landasan paling dasar untuk belajar hidup rukun dan menghormati perbedaan.
Seorang anak perempuan salah satu sahabat pernah dengan bersemangat mengajari saya mengucapkan doa sebelum makan menurut ajarannya. Ketika itu dia hanya berumur 6 tahun dan kami sedang duduk di ruang makan, siap menyantap makan malam. Saya tak tahu harus bersikap bagaimana, memandang wajah cantiknya yang polos.
Ayah si anak dengan pelan dan lembut berlutut di samping si anak. Lalu berkata, “Honey, Elok mempunyai cara berdoa yang berbeda dengan kamu. Dia berdoa di tempat yang berbeda, kepada Tuhan yang berbeda. Kita tidak boleh menyuruhnya berdoa dengan cara kita, karena itu akan menyakiti hatinya. Kamu sayang pada dia kan? Berarti kamu tidak boleh memaksanya.”
Spanduk pencalonan Tokyo untuk olimpiade tahun 2016 (Museum Edo Tokyo)
Suatu petang di ruang makan The Foreign Correspondents’ Club of Japan di Tokyo, awal musim gugur tahun lalu.
Saya, Donald, dan dua orang sahabat dari Madrid dan Bogota (Colombia) sedang berbincang dengan seorang wartawan ekonomi Jepang yang sudah sangat ternama. Sebelumnya kami sama-sama berbicara di sebuah konferensi dan petang itu berniat hanya berbincang santai setelah kerja.
Namun, perbicangan menjadi sangat bergairah ketika kami membicarakan siapa yang akan menjadi tuan rumah olimpiade musim panas tahun 2016 nanti. Tiga bulan sebelumnya, tepatnya pada bulan Juni 2008, IOC mengumumkan secara resmi 4 kota kandidat akhir yang akan bertarung memperebutkan gelar tuan rumah. Kota Madrid di Spanyol, Chicago di Amerika Serikat, Tokyo di Jepang, dan Kota Rio De Jinairo di Brazil. Mereka berhasil mengalahkan Kota Praha (Ceko), Baku (Azerbaijan), dan Doha (Qatar).
Memanfaatkan barang
“Susunlah daftar pekerjaan Anda di tempat yang langsung terlihat mata. Kadang di tengah tumpukan kerja, kita kehilangan kendali dan efesiensi. Waktu sering jadi sia-sia. Bentangkan daftar itu tepat di depan muka Anda.”
Masukan di atas saya peroleh tiga tahun lalu, ketika melaksanakan perintah atasan, hadir di sebuah seminar efesiensi kerja.
Beberapa waktu lalu masukan itu terngiang lagi di telinga, ketika membersihkan laci-laci, kloset, lemari kamar mandi, dan juga kloset di sepanjang pintu depan. Berjam-jam kemudian saya “memanen” empat tas sampah ukuran sedang berisi makanan, obat, dan kosmetik yang telah kedaluwarsa. Kedaluwarsanya pun bukan main-main, sudah lewat 2 tahun dan bahkan ada yang 3 atau 4 tahun lebih.
Sebentar, jangan keburu menuduh tempat tinggal saya jorok dan penuh barang busuk! Barang-barang itu masih terbungkus dengan sangat rapi, kebanyakan bungkus plastik luarnya pun belum dibuka. Makanan juga bukan barang mentah, namun makanan kemasan instant. Kotak-kotak sup, beberapa jenis suplemen, kacang dan buah yang dikeringkan dan dikemas cantik, serta berbagai biskuit.
Ingin memasang photo orang padahal belum minta ijin? Solusi: photo yang kecil sekali, dipotret dari kejauhan, dan tak nampak jelas orangnya
Beberapa hari terakhir ini secara beruntun terjadi kejadian yang serupa tapi tak sama.
Pertama
Seseorang dari kantor sekretariat sebuah konferensi internasional meminta ijin apakah boleh memasang nama dan photo di DM dan brosur mereka. Permintaan disertai contoh desain, katanya supaya saya bisa membayangkan bagaimana penampakan nama dan photo setelah semua proses selesai. Juga dijelaskan kepada siapa saja brosur itu akan dikirimkan. Memang tidak disebutkan nama mereka satu persatu, namun ditulis menurut setiap kategori (misalnya klien perusahaan sekian jumlahnya, anggota sebuah NPO sekian, pelanggan newsletter sekian orang, dsbnya).
Saya langsung jawab “silakan”. Saya menghargai cara mereka yang sangat profesional. Meskipun sejak bulan lalu nama dan photo telah muncul di website resmi mereka sebagai salah satu pembicara, mereka tetap meminta ijin secara resmi untuk memakai nama dan photo yang sama untuk tujuan yang berbeda, padahal masih untuk konferensi yang sama.