Elok Halimah
“Please put a “ku” at the end of it, Sir. It’s EROKU, not ERO.”
Many of us know that many Japanese have hard time in pronouncing “L” correctly, as they don’t have this letter in their three characters; Hiragana, Katakana, or Kanji. As the personal consequence I must bear, my name is pronounced “EROKU”, quiet faraway from how my parents wanted me to be called.
My parents didn’t choose the name for no reasons. ELOK means “pretty, beautiful” in Malay language (Go ahead! Feel free to laugh!). But if it becomes ERO, as how it will if Japanese don’t put a “KU” at the end of it, the meaning becomes something quiet raunchy. There, I believe you know what I mean! If you still don’t get it, try to say it out loud a few times.
And if you still don ‘t get it, here is one hint. The word is imported from English and that’s what teenagers usually would say if they saw a movie scene when the hero and heroin start kissing.
Read the rest of this entry »
Bicara bahasa asing tak harus sempurna, bisa "NG", "Cut", dan "Retake"
Dua hari lalu seorang sahabat bercerita tentang keponakannya yang baru berusia 6 tahun. Gadis kecil ini sangat gemar belajar bahasa Inggris dan setiap sore hari pergi ke sekolah bahasa di mana seluruh pengajarnya merupakan penutur asli bahasa Inggris.
Setiap bertemu dengan orang baru, atau orang yang lama tak berjumpa, termasuk kawan saya yang tinggal di Tokyo (keponakan tinggal di Pusan, Korea Selatan), si gadis kecil selalu bertanya apakah orang itu bisa bicara bahasa Inggris atau tidak. Kepada orang dewasa yang sudah akrab, dia suka “mengetes” kemampuan bahasa mereka, sengaja menyuruh mereka mengucapkan suatu kata tertentu.
Jika ucapannya kurang fasih atau kurang pas menurut standar gurunya (seperti yang dia pelajari di sekolah bahasa), maka dia dengan gesit akan membenarkan ucapan si orang dewasa itu. Kawan saya yang berbahasa Korea sebagai bahasa ibunya, tak luput dari “kritik” si keponakan. Sering dibetulkan ucapan bahasa Inggrisnya.
Cerita ini menarik sekali, terutama karena ketika kami membincangkannya, kami semua bicara dalam bahasa Jepang. Seorang Amerika berbahasa ibu bahasa Inggris, seorang Brazil berbahasa ibu bahasa Portugis, seorang Korea berbahasa ibu bahasa Korea, dan seorang Indonesia berbahasa ibu bahasa Jawa.
Suguhan kue tradisional
Akhirnya saya selesai juga membaca “Three Cups of Tea”. Kebanyakan dari Anda pasti sudah membaca buku ini sejak beberapa tahun lalu, mengingat buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2006. Namun saya baru mendapat kesempatan untuk membacanya beberapa hari belakangan ini, setelah dua minggu lalu mendapatkannya secara barter, menukar dengan buku “Bloomberg By Bloomberg”.
Inilah fakta setelah selesai membaca “Three Cups of Tea”. Pertama, seperti jutaan pembaca lainnya, saya juga terharu melihat kegigihan dan keuletan Greg Mortenson dalam misi mulianya, membangun sekolah untuk rakyat miskin di Pakistan dan Afghanistan. Menulis surat permohonan dana bantuan ke 580 orang ternama dan hanya mendapatkan selembar check sebagai balasan. Hebatnya, dia menulis memakai mesin ketik di sebuah toko persewaan komputer, sebelum akhirnya sang pemilik yang kebetulan orang Pakistan mengajarinya cara memakai komputer.
"Masa depan tak berpredensi"
Hari Sabtu minggu lalu, sepulang dari “The 14th International Conference for Women in Business” di Le Meredien Odaiba Tokyo, saya pulang “membawa” lima kutipan menarik, setidaknya menurut saya. Kutipan diambil dari berbagai babak, dari pembicara utama di sesi pagi hari, dari sesama panelist atau hadirin di workshop sore hari, maupun di resepsi makan malam.
Kutipan PERTAMA: dari Kansai Yamamoto (designer, event producer)
“Masa depan tak berpredensi”. Jika kita ingin melakukan sesuatu yang menggebrak dan berbeda, jangan hiraukan mereka yang ingin menyurutkan semangat kita dengan mengatakan “sebelumnya belum ada yang pernah/bisa melakukan ini”. Sekali lagi, jika Anda ingin berhasil dalam menekuni bidang yang Anda cintai, ingatlah selalu bahwa “masa depan tak berpredensi”.
CATATAN: tema utama konferensi adalah “Act Outside the Box” dan Pak Yamamoto berkali-kali mengulang kutipan tersebut di akhir presentasinya.
Seorang mempelai laki-laki dilihat dari belakang
Terus terang, saya merasa lega sekali setelah membaca tulisan Ira Ishida berjudul “Pernikahan, Apakah itu?” yang dimuat di majalah “Seishun To Dokusho” (Masa Muda dan Membaca) edisi bulan Juli 2009 terbitan Shueisha.
Pasalnya, penulis kelahiran Tokyo tahun 1960 itu mengemukakan perasaannya yang semakin kosong dan pilu selama mengumpulkan beberapa bahan tentang “Konkatsu”, terjemahan bebas dalam Bahasa Indonesianya kira-kira “kegiatan mencari jodoh, menemukan pasangan untuk menikah”. Syarat penting yang diajukan para perempuan adalah pendapatan laki-laki minimal 6 juta yen per tahun. Sebaliknya, syarat penting yang dicari laki-laki adalah kemudaan. Semakin muda semakin baik.
Di sinilah Ira Ishida memaparkan kegundahannya. Bukankah pernikahan lebih dari sekedar soal uang dan umur muda? Bisakah kita menjamin bahwa laki-laki yang berpendapatan 10 juta yen per tahun dan menikah dengan perempuan cantik jelita usia 20 tahun, sudah pasti bahagia dan pernikahannya akan langgeng? Atau mari kita coba balik posisinya. Bisakah kita memastikan bahwa laki-laki yang hanya berpendapatan 4 juta yen per tahun dan beristrikan perempuan berumur 39 tahun, tak bahagia dan pernikahannya akan berantakan?
Tokyo Big Sight, Odaiba
Saya sedikit terkejut ketika memasuki West Hall 1 dan 2 Tokyo Big Sight di mana pameran buku internasional, “The 16th Tokyo International Book Fair” diselenggarakan dari tanggal 9 Juli (Kamis) sampai 12 Juli (Minggu) 2009. Suasana tak semegah yang saya bayangkan, mengingat malam sebelumnya seorang rekan memberitahu bahwa pameran buku ini katanya merupakan yang terbesar di Asia, dan nomor dua di dunia. Begitu pula yang tertulis di situs resmi mereka, “pameran buku terbesar kedua di dunia, tahun ini dengan 800 peserta dari 30 negara”.
Apakah ini juga salah satu dampak nyata resesi ekonomi???
Hari itu hari kedua pameran, pengunjung lumayan membludak, meski tak sebanyak yang saya bayangkan. Mungkin karena pameran secara resmi baru akan dinyatakan terbuka untuk masyarakat umum di hari ketiga dan keempat, ketika buku, majalah, dan barang-barang pameran lainnya akan dijual dengan harga diskon khusus. Saya lihat di sekeliling lebih banyak orang memakai tanda pengenal “Penerbit”, “Agen Hak Cipta”, “Distributor”, “Toko Buku”, “Organisasi Pendidikan”, “Perpustakaan”, dan institusi lainnya. Pameran, khususnya dua hari pertama, memang ditujukan untuk urusan bisnis, mulai dari negosiasi hak cipta penerbitan hingga survei pangsa pasar Asia.
Salah satu contoh iklan untuk tenaga pembantu di Hongkong
Hari Sabtu lalu saya mengikuti sebuah meeting sambil membawa koper ukuran sedang berisi dua ekor ikan yang sudah dibersihkan oleh pihak toko, sekotak besar paprika kuning dan merah yang sudah dipotong tipis-tipis, dua butir bawang Bombay yang juga sudah dipotong, wortel dan terong masing-masing empat batang, daging ayam cincang dua kilo, dua botol kecil minyak virgin olive, satu kaleng sedang saus tomat, dua kotak bahan kus-kus, cabai merah, basil, oregano, dan beberapa bumbu lainnya.
Semuanya terbungkus rapat dan rapi di kotak-kotak plastik terpisah, setiap kotak plastik dimasukkan ke tas kresek bersih, lalu semuanya dijejerkan di koper yang kemudian juga terkunci rapat.
Anda mungkin mengira meeting itu untuk membahas soal makanan. Atau saya sedang ikut kursus memasak profesional? Semuanya salah. Meeting itu tak ada hubungan sama sekali dengan masakan. Saya terpaksa membawa bahan-bahan tersebut seharian karena pagi hari saya harus menyelesaikan beberapa materi kerja, lalu meeting di Shibuya, dan setelah itu harus segera ke Roppongi untuk membantu menyiapkan selamatan pindah rumah salah seorang sahabat.