»
S
I
D
E
B
A
R
«
"Ai Lap Yu, Sayang." "Apa? Kamu Selingkuh Ya?"
Aug 25th, 2009 by Elok Halimah
"Ai Lap Yu, Sayang"

"Ai Lap Yu, Sayang"

Minggu lalu ketika sedang makan bersama dengan seorang wanita tengah baya, host mother jaman SMA dulu, saya mendapat satu pertanyaan.

“Kenapa sih orang asing selalu bilang i love you pada pasangannya, sering sekali? Maksudku kenapa harus bilang setiap hari? Apa kalo gak dibilangin setiap hari lalu langsung cerai? Apa pernyataan i love you ini semacam untuk mengkonfirmasi cinta mereka? Masak harus konfirmasi setiap hari?”

Saya yang sedang menyantap sepiring makanan Italia langsung tersenyum geli. Bukan pertama kali saya mendengar pertanyaan atau komentar yang senada, namun karena kali ini datangnya dari seorang ibu yang telah membesarkan dua anak dan mengarungi mahligai pernikahan selama hampir 40 tahun, saya merasa ada yang perlu diluruskan.

Read the rest of this entry »

Kisah Nabi, Hikayat Raja, dan Cerita Nenek Moyang
Aug 21st, 2009 by Elok Halimah
Kisah raja-raja (photo diambil ketika berkunjung ke Keraton Yogyakarta)

Kisah raja-raja (photo diambil ketika berkunjung ke Keraton Yogyakarta)

Seorang sahabat orang Amerika pernah bertanya ke saya apakah ketika kecil orang tua saya membacakan cerita sebelum tidur. Saya jawab, bukan hanya sebelum tidur! Orang tua, terutama ibu saya, sungguh gemar membacakan cerita, mendongeng tentang kisah Nabi-Nabi, hikayat raja-raja, dan legenda para tokoh sejarah maupun pahlawan bangsa.

Saya balik bertanya ke kawan itu kenapa dia menanyakan soal itu. Dia yang kebetulan saat itu sedang bertugas di Beijing menjelaskan bahwa ada seorang kenalannya di sana, warga setempat, yang bilang ia tak mengerti dengan budaya orang Barat yang suka membacakan cerita ketika menidurkan anak kecil. “Apa fungsinya? Kenapa harus didongengi?” begitu tanya orang itu.

Lalu sahabat saya menanggapi, “Mungkin supaya si anak segera bisa tidur. Memangnya ketika kecil dan kamu tak segera tidur, apa yang biasanya dilakukan orang tuamu?”

Orang itu menjawab singkat, “Hm..mungkin, ayo cepat tidur, kalau tidak..polisi akan datang menangkapmu.” Menurut sahabat saya, orang itu lalu terkekeh-kekeh senang, entah maksudnya serius atau bercanda.

Read the rest of this entry »

Tiga Puluh Satu Tujuh Belas Agustusan
Aug 17th, 2009 by Elok Halimah
"Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya......"

"Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya......"

Merdeka! Selamat ulang tahun ke-64 untuk Indonesia tercinta! Dari 64 peringatan, saya telah ikut mengalami 31 di antaranya. Sebagian dari 31 peringatan itu, saya hanya ingat samar-samar atau malah sudah lupa sama sekali. Tapi tak mengapa, jika Tuhan merestui, saya toh setiap tahun masih akan bertemu dengan peringatan baru.

TUJUH PULUH DELAPAN: inilah peringatan dirgahayu bangsa yang pertama bagi saya. Masih bayi ingusan umur 6 bulan. Tak ingat lagi apa yang terjadi. Mungkin ibu saya belepotan mengurus tiga anak kecil di hari kemerdekaan.

DELAPAN PULUH EMPAT: peringatan ke-7 dan upacara hari kemerdekaan pertama di sekolah. Berseragam merah putih yang telah diseterika licin mengkilat, langsung oleh tangan bapak saya. Dasi merah dan topi seragam.

Read the rest of this entry »

Sopir Taksi dan Dua Anak Perempuannya
Aug 12th, 2009 by Elok Halimah
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian

Di bawah ini cuplikan percakapan antara seorang sopir taksi (berikutnya disingkat “ST”) dan saya (berikutnya disingkat “EH”). Terjadi pada hari Minggu tanggal 9 Agustus yang lalu.

ST: “Anak saya ada dua. Dua-duanya perempuan, Bu. Yang nomor satu bekerja sebagai akuntan, bosnya orang Amerika.” (sambil melirik ke Donald)

EH: “Wah, pekerjaan yang tidak mudah! Pasti anak Bapak pintar ya.” (Awalnya sekedar untuk menyenangkan hati pak sopir yang ramah itu)

ST: “Dia dulu sekolah di Inggris dua tahun, lalu di Amerika tiga tahun. Setelah kembali, dia langsung bekerja di kantor yang sekarang. Sebentar lagi kita akan melewati gedung kantornya.”

Read the rest of this entry »

Ketika HP Nenek Berdering Di Desa Naganeupseong
Aug 9th, 2009 by Elok Halimah
Desa Naganeupseong dari kejauhan

Desa Naganeupseong dari kejauhan

Hari Jumat sore di Kota Suncheon, Korea Selatan, tepatnya di Naganeupseong Folk Village atau desa masyarakat asli tempo dulu. Tawa sekitar 15 penonton meledak, berderai-derai di depan sebuah rumah asli di mana pertunjukkan nyanyian rakyat sedang dilangsungkan. Pasalnya, pertunjukkan tiba-tiba berhenti karena telepon genggam si nenek penyanyi berdering dan dia langsung berhenti menyanyi, mengangkat telpon, dan dengan cueknya mengubah posisi duduk, tadinya bersila takzim, berganti menjadi bersila dengan satu kaki diangkat. Satu tangan memegang HP, tangan yang lain menekur di lutut kaki yang terangkat.

Penonton, termasuk saya, tak bisa menahan tawa melihat kecuekan si nenek yang sebetulnya tengah menjalankan tugas, pekerjaan sehari-harinya sebagai penyanyi lagu rakyat. Maka selama nenek penyanyi bicara di telepon, kami tertawa terbahak-bahak di depan panggung pertunjukkan. Nenek melambaikan tangan sebentar ke arah kami, seakan ingin memberi tanda bahwa ia tak akan lama bicara di HP.

Read the rest of this entry »

Ada Anak Bertanya…….
Aug 5th, 2009 by Elok Halimah
Pentingnya pendidikan pengertian antarbudaya untuk anak-anak dan generasi muda

Pentingnya pendidikan pengertian antarbudaya untuk anak-anak dan generasi muda

Menjawab pertanyaan anak-anak usia 8 sampai 10 tahun tentang negara kita, tentu harus memakai bahasa sederhana yang dipahami oleh mereka. Tak bisa terlalu rumit, malah membuat mereka bingung. Juga tak boleh terlalu abstrak, anak-anak akan mengalami kesulitan membayangkan dalam benak mereka. Sebisa mungkin hanya memberikan jawaban positif, lebih mengutamakan banyaknya persamaan daripada banyaknya perbedaan. Menghindari pernyataan yang terlalu negatif dan menjelek-jelekkan kebiasaan budaya lain.

Inilah dua contoh pertanyaan sederhana dari pola pikir kanak-kanak mereka yang selama ini paling banyak saya terima.

1. Apakah di negara Ibu orang-orangnya besar semua, atau kecil semua?
Pertanyaan diajukan oleh murid SD umur 8 tahun, laki-laki.

Jawaban saya: tentu saja tidak. Selain saya tergolong pendek di sana, negara saya juga seperti negara lain. Ada yang tinggi besar, sedang-sedang saja, atau yang pendek. Waktu kecil saya tak terlalu suka minum susu dan benci sekali sayuran, mungkin karena pasokan makan yang tak seimbang ya.

Reaksi si anak: manggut-manggut dan terus menerus menatap saya dan seorang kawan secara bergantian. Kawan ini kebetulan tingginya sekitar 195 cm, bisa Anda bayangkan “keserasian” antara saya dan dia ketika kami berdiri di depan kelas di sebuah SD bersama-sama. Tentu merupakan “pemandangan” menarik bagi murid kelas 2 SD.

Read the rest of this entry »

After Reading “Traveling Man-The Journey of Ibn Battuta, 1325-1354”
Aug 2nd, 2009 by Elok Halimah
"Traveling Man"

"Traveling Man"

I found the book “Traveling Man – The Journey of Ibn Battuta, 1325-1354” (written, illustrated, and illuminated by James Rumford, 2001) last Friday. As a little girl growing up in a small city in eastern part of Java Island, I was very familiar with the name. My very own father was a great admirer of Ibn Battuta and he usually spent long hours telling us the story of Battuta’s journey around the world.

The book captured my heart as soon as I saw it on the bookshelves of a tiny bookstore in Donald’s office building. Thinking about how my siblings and I were always hypnotized by father’s storytelling on Ibn Battuta, I decided to buy it and send it someday to my niece. I hope she will enjoy learning about Battuta’s journey, as much as her mother, aunt and uncles enjoyed it when we were her age.

Read the rest of this entry »

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa