»
S
I
D
E
B
A
R
«
Sang Pemalas dan Penunda Bersulang Dengan Es Buah
Sep 30th, 2009 by Elok Halimah
Sang Penunda sedang berusaha memeras otaknya, mencari ide untuk menambah jumlah halaman

Sang Penunda sedang berusaha memeras otaknya, mencari ide untuk menambah jumlah halaman

Tiga minggu belakangan ini, blog ini agak terabaikan. Terima kasih kepada beberapa kawan yang dengan manisnya telah mengirim pesan khusus, menanyakan kapan tulisan baru akan muncul, termasuk yang protes karena blog bahasa Jepang melulu yang di-update. Mohon maaf, mulai hari ini blog ini akan terurus dengan baik lagi.

Asal perkaranya adalah sebuah proyek uji coba, menyelesaikan sebuah naskah non-fiksi sebanyak 70 halaman dalam 3 minggu, dalam bahasa Jepang. Bagi mereka yang tekun dan telaten, tentu ini bukan masalah besar. Tapi bagi saya, target bikinan sendiri ini alhasil membuat saya sempoyongan, kalang kabut membagi waktu antara kerja, kegiatan organisasi, urusan pribadi, dan proyek uji coba.

Proyek ini proyek tak pasti, artinya tak jelas naskahnya akan bernasib bagaimana. Bukan naskah kerja, jadi tak ada tekanan dari pihak atasan atau klien. Bukan pula naskah pesanan penerbit, jadi sesuka-suka saya saja. Namun, karena proyek uji coba pribadi, seperti yang sudah bisa Anda bayangkan, tak ada tekanan berarti makin bahaya untuk kategori pemalas, penunda-nunda pekerjaan seperti saya.

Read the rest of this entry »

Serba Serbi Pemilu Parlemen Rendah (Bagian 1)
Sep 9th, 2009 by Elok Halimah
Memperebutkan kursi parlemen. Mohon maaf, karena tak ada koleksi pribadi dari gedung parlemen Jepang, terpaksa memasang photo lain, ruang sidang di gedung parlemen Hungaria

Memperebutkan kursi parlemen. Mohon maaf, karena tak ada koleksi pribadi dari gedung parlemen Jepang, terpaksa memasang photo lain, ruang sidang di gedung parlemen Hungaria

Tiga hari menjelang hari-H Pemilu. Senja hari di Ikebukuro, saya berjalan ke stasiun dengan host sister orang Jepang dan anak laki-lakinya, usia hampir 4 tahun. Melalui blok-blok berkelok yang penuh dengan perumahan penduduk, si anak tiba-tiba berteriak keras.

“Ji…nto” sambil menunjuk ke sebuah poster di pagar dinding, bergambar seorang politikus terkemuka dari partai berkuasa.

“Wah, hebat! Kamu sudah bisa baca ya?” tanya saya sambil menepuk pelan kepala mungilnya.

“Belum, tapi gambar dia ada di mana-mana sih. Aku sampai bosan melihatnya, dia melulu. Di dekat taman bermain juga banyak sekali gambar dia. Bosaaaaaaaaaaaan, ” jawab si anak sambil menggeleng kesal.

Saya dan ibunya terkekeh. Si Ibu menjelaskan bahwa karena gambar kampanye itu bertebaran di segala penjuru, si anak suatu hari bertanya siapa nama kakek itu. Si ibu menjawab sambil membacakan nama yang tertulis, termasuk nama partai. Entah bagaimana ceritanya, si anak tak ingat nama si kakek, tapi tak pernah lupa nama partainya.

Read the rest of this entry »

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa