»
S
I
D
E
B
A
R
«
"Ayah, Mereka Kan Sudah Tante-Tante, Kenapa Panggil "Mbak"?"
Oct 25th, 2009 by Elok Halimah
Hati-hati "membujuk" calon pembeli di depan anak-anak!

Hati-hati "membujuk" calon pembeli di depan anak-anak!

Seorang kawan berteriak-teriak menjajakan sup merah Rumania, dumpling rebus Cina, dan Ginatan (hidangan pencuci mulut Filipina, yang kalau di Indonesia disebut kolak).

Empat orang ibu-ibu cantik berjalan melihat-lihat kedai makanan “dadakan” yang berderet di lantai paling atas (balkoni terbuka) sebuah pusat perbelanjaan. Saya perkirakan ibu-ibu itu berusia sekitar 40an ke atas.

“Mari Mbak, cuaca dingin begini paling enak menyantap sup merah Rumania yang hangat. Isinya penuh dengan sayuran bergizi. Baik untuk kesehatan,”kata kawan itu berapi-api kepada empat ibu tersebut. Mereka berdiri agak jauh dari kedai, nampak ragu-ragu karena di sebelah ada kedai yang memajang berbagai makanan dan minuman Spanyol, tak kalah menggoda. Kawan saya langsung sigap bertindak, “mencegah” mereka supaya tak pergi ke kedai sebelah.

“Mari Mbak, hidangan kami cocok untuk makan siang. Rendah kolesterol lho,” rayunya meyakinkan. Setelah beberapa saat, para ibu tersebut memang memutuskan untuk membeli sup Rumania.

Lalu, terjadilah peristiwa tak terduga. Ketika salah satu ibu sedang mengulurkan uang untuk membayar, anak bungsu kawan saya yang berusia 7 tahun lebih beberapa bulan (yang kebetulan sedang berada di situ juga) tiba-tiba bertanya ke ayahnya, dengan suara keras membahana, di depan para ibu itu.

Read the rest of this entry »

"Halloween"nya Indonesia dan Modifikasi Orang Jepang
Oct 21st, 2009 by Elok Halimah
Ratusan labu baru saja dipanen, hendak dipajang dan dijual di sebuah pumpkin patch di Wisconsin, AS.

Ratusan labu baru saja dipanen, hendak dipajang dan dijual di sebuah pumpkin patch di Wisconsin, AS.

Jangan membayangkan suasana Halloween di Amerika. Tidak ada anak-anak membunyikan bel pintu depan lalu meneriakkan “trick or treat”, menodong permen dari tuan rumah. Tidak ada acara keluarga beramai-ramai ke pumpkin patch yang luas untuk berbelanja berbagai jenis labu. Tidak ada pula kontes menghias, mengukir, mendesain labu yang biasanya meriah oleh kerumunan keluarga, kerabat, dan para tetangga.

Tapi jangan salah sangka! Bukan berarti Anda tidak bisa “merayakan” Halloween di Jepang. Silakan pergi ke toko bunga terdekat, bisa dipastikan seluruh toko sudah berwarna oranye sejak musim panas. Belum lagi supermarket, mall, toko barang anak, hingga butik-butik. Semuanya demam Halloween. Ibu-ibu sibuk memenuhi permintaan anaknya yang merengek minta perhiasan labu. Anak-anak remaja ramai-ramai membeli pernak-pernik Halloween. Toko alat tulis memajang berbagai jenis kartu “Happy Halloween”, berderet-deret di beberapa rak khusus.

Belum lagi di sekolah-sekolah, terutama TK, SD, dan sekolah swasta. Bukan sekolah international atau sekolah asing, yang jika muridnya kebanyakan memang dari sononya sudah merayakan Halloween, tentu wajar-wajar saja mereka punya acara Halloween. Yang saya maksud adalah sekolah asli Jepang, dikelola oleh pemerintah Jepang, atau yayasan swasta Jepang, 90 persen muridnya adalah anak orang Jepang. Banyak sekali sekolah seperti itu yang tak kalah serunya menyambut Halloween. Murid-murid punya acara di mana mereka berdandan menjadi nenek sihir, hantu gentayangan, bajak laut, hingga putri raja. Komplit!

Read the rest of this entry »

Perempuan 91 Tahun "Mengalahkan" Perempuan 31 Tahun
Oct 15th, 2009 by Elok Halimah
Salah satu sudut Futako Tamagawa, tempat sport club berada

Salah satu sudut Futako Tamagawa, tempat sport club berada (photo diambil dari depan stasiun, gedung yang tampak di photo adalah Takashimaya SC yang terletak tepat di depan stasiun)

Kemarin saya kalah berenang dengan seorang ibu nan anggun, sopan, dan ramah. Lebih hebatnya lagi, ada perbedaan usia 60 tahun di antara kami. Saya umur 31 tahun dan ibu itu 91 tahun. Ya para pembaca yang budiman, Anda tak salah baca. Sembilan puluh satu tahun! Sembilan tahun lagi menjadi 100 tahun!

Sebenarnya kami bukan sengaja berlomba di kolam renang di klub olahraga di mana kami berdua sama-sama menjadi anggota. Namun, karena banyaknya peserta program senam, dalam satu lane di “free area” ada 4 orang pengguna, termasuk saya dan ibu itu. Kami sama-sama tak ikut kelas senam dan memilih berenang bebas. Maka 4 perempuan berenang susul menyusul dengan kecepatan dan gaya yang berbeda.

Setelah beberapa saat saya mendapat giliran tepat di belakang ibu itu. Sebelum start, dia berkata dengan sopan, “Saya pelan sekali lho, sebaiknya Anda duluan saja, supaya tak harus berhenti di tengah jalan karena menunggu saya.”

Saya menolak dengan halus dan mempersilakan dia start duluan. Saya sengaja menunggu beberapa saat, menduga ibu itu akan berenang pelan sekali mengingat usianya (waktu itu saya belum tahu usianya yang pasti, saya hanya mengira-ngira, mungkin 75 tahun?). Namun dugaan saya meleset jauh. Si ibu berenang cepat, melesat ke ujung kolam yang lain. Saya terperangah dan buru-buru start juga, sebelum dua perempuan lainnya kembali ke titik start.

Sesampainya di ujung kolam, ibu itu sedang beristirahat. Dia mempersilakan saya start duluan. “Orang tua seperti saya tak bisa langsung balik ke sana lagi, harus istirahat setiap putaran. Maklum, sudah 91 tahun,” begitu katanya dengan enteng. Lagi-lagi saya terperangah. Sembilan puluh satu tahun?

Read the rest of this entry »

Puaskah Anda Dengan Kebijaksanaan Pemerintah?
Oct 11th, 2009 by Elok Halimah
Pendidikan membantu anak menyongsong masa depan

Pendidikan membantu anak menyongsong masa depan

Hari Jumat malam, minggu lalu. Saya baru saja meninggalkan sport center langganan di Futako Tamagawa ketika HP berdering nyaring. Dari salah seorang direktur NPO tempat saya menjadi salah satu pekerja, meminta datang ke sebuah gedung pemerintah malam itu juga. Wawancara mendadak, begitu katanya.

Untungnya gedung itu hanya tiga stasiun dari Futako Tamagawa, tak sampai 30 menit saya sudah duduk semeja dengan tiga pemimpin NPO dan seorang laki-laki asing. Wartawan dan produser dari sebuah media di Korea Selatan, sedang berada di Jepang untuk membuat liputan khusus soal komunitas asing, kebijaksanaan pemerintah lokal terhadap komunitas asing, dan anak-anak internasional di masyarakat lokal Jepang.

Saya terkejut. Baru sebulan sebelumnya beberapa orang dari Kantor Kota Kawasaki, ditambah dengan saya dan seorang kolega warga negara Korea Selatan mendapat kunjungan dan permintaan wawancara dari sebuah stasiun TV Korea, news channel. Isi wawancaranya mirip sekali dengan apa-apa yang hendak ditanyakan oleh produser itu.

Read the rest of this entry »

Penggemar Warung dan Perut Tahan Bantingnya
Oct 6th, 2009 by Elok Halimah
Salah satu sudut kota di Vietnam

Salah satu sudut kota di Vietnam

Sore hari di Hanoi, Vietnam. Di satu sudut lobi Hotel Sofitel, saya sedang duduk menunggu petugas tur menelpon seorang tamu. Sehari sebelumnya tamu itu mendaftar untuk ikut sebuah tur berperahu, namun tur hanya bisa dijalankan jika ada minimal dua orang yang mendaftar. Karena hanya dia seorang, maka batal rencananya.

Keesokan harinya, sayalah yang mendaftar, hanya seorang saja. Saya tak terlalu ngotot, maka ketika diberitahu bahwa jika hanya seorang saja, tur tak jadi berangkat, saya pun hendak langsung pergi, kembali ke kamar meneruskan beberapa urusan tugas & pekerjaan.

Namun petugas tour desk yang ramah itu memanggil nama saya. “Sebentar, akan saya tanyakan ke tamu yang kemarin, mungkin dia masih berminat!”, begitu katanya. Saya mengucapkan terima kasih lalu duduk menunggu.

Beberapa menit kemudian, petugas datang ke meja saya dengan muka berseri-seri. “Oke, jadi berangkat! Dua orang!” Dia memberikan penjelasan tentang jadwal tur, di mana harus berkumpul, apa yang perlu dibawa, dan minta tanda tangan pembayaran.

Read the rest of this entry »

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa