»
S
I
D
E
B
A
R
«
"Jaman Cina" : Belajar Menjadi Orang Ketiga
Nov 27th, 2009 by Elok Halimah
Sebuah sudut di "Kota Terlarang" (The Forbidden City), Beijing

Sebuah sudut di "Kota Terlarang" (The Forbidden City), Beijing

Dulu jika seseorang bisa bahasa Jepang, banyak orang langsung heboh. “Wah, ntar pasti bisa dapat kerjaan bagus tuh!”. Atau, “Hebat euy, pasti masa depan sudah terjamin.”

Jika bepergian di negara Asia, komentar bernada kekaguman mudah sekali didapatkan. Jika bepergian di benua lain selain Asia, orang juga ramai-ramai bertanya tentang kehidupan di Jepang. Harga-harga yang mahal, kenyamanan kota, kecantikan dan ke-eksotis-an alamnya, kemajuan dan kekayaan perusahaan-perusahaan Jepang, peluang membuka bisnis di Jepang, peluang joint-venture dengan perusahaan Jepang, dan seterusnya dan sebagainya.

Sekarang situasi sudah tak sama, terutama sejak dua tahun terakhir. Kawan-kawan saya berbondong-bondong mengirim anak mereka ke kursus bahasa Cina, memanggil guru pribadi ke rumah, memperkenalkan negara Cina sejak usia dini. Seorang kawan dari Haiti yang bersuamikan orang Jepang mengirim anaknya ke sekolah Cina di Yokohama yang bahasa resmi kurikulumnya tentu saja bahasa Cina. Pertimbangannya, bahasa Jepang bisa dipelajari pelan-pelan saja, sambil lalu saja, toh sekarang sedang tinggal di Jepang.

Read the rest of this entry »

Perangkat Makan Susan dan Rak Buku Saya
Nov 10th, 2009 by Elok Halimah
Merawat buku supaya tak menelantarkan ilmu pengetahuan

Merawat buku supaya tak menelantarkan ilmu pengetahuan

Ketika membaca artikel “The Joy of Polishing Silver” oleh Susan Orlean di majalah “Country Living” (US edition) bulan November 2009, saya melihat diri saya dalam tulisan Susan. Bedanya, Susan dengan sendok dan perangkat makannya, saya dengan rak buku saya.

Susan, yang juga seorang penulis di “The New Yorker”, menceritakan bagaimana awalnya dia tak pernah peduli dengan perangkat makannya. Tak biasa menyediakan waktu dan perhatian khusus untuk merawat mereka. Membersihkan seadanya, jika kotor langsung dibuang atau dialihkan fungsinya. Jika semua nampak kotor, cari lagi yang baru.

Lalu neneknya meninggal dunia dan tiba-tiba Susan mewarisi koleksi perangkat makannya, perak, lebih dari 100 buah yang tersimpan dengan rapi, dan terawat sangat bersih. Kakek dan neneknya mendapatkan perangkat itu sebagai hadiah pernikahan di tahun 1920, ketika mereka mengikat janji sehidup semati di Hungaria. Pada tahun 1927 mereka berimigrasi ke Mexico, lalu delapan tahun kemudian pindah ke Amerika, tepatnya ke Ohio.

Perangkat makan itu selalu mereka bawa, kenangan dan warisan dari “dunia” lain yang mereka tinggalkan, dunia Eropa Timur awal 1920an, tenggelam oleh dua Perang Dunia, terseret dalam masa Perang Dingin. Hebatnya, ketika Susan mewarisinya, perangkat itu masih bersinar terang, bersih luar biasa, tertata sangat teratur di tempatnya.

Read the rest of this entry »

Kabar Buruk dan Kabar Baik Saling Bertetangga
Nov 3rd, 2009 by Elok Halimah
Semoga kabar buruk membuka pintu ke rumah kabar baik

Semoga kabar buruk membuka pintu ke rumah kabar baik, karena kabar buruk dan kabar baik sebenarnya bertetangga tak terlalu jauh...........

Tanggal 30 Oktober hari Jumat. Kabar buruk saya terima, atau lebih tepatnya saya baca di internet. Nama saya tidak termasuk dalam 10 finalis pilihan para juri dalam sebuah kontes penulisan essay. Kecewa sekali, karena sebelumnya saya sudah sangat optimis, yakin bahwa tulisan saya akan mampu menembus babak final. Bahkan malam sebelumnya saya sudah “secara lancang” membayangkan bagaimana saya akan merayakan kemenangan.

Ketika menulis essay itu, tema sudah saya rumuskan dengan hati-hati, pilihan kata sudah saya tentukan beberapa hari, sebelum saya kirim naskah itu sudah saya edit dan baca berulang-ulang.

Dijelaskan pula bahwa pengalaman pribadi yang unik sangatlah diperlukan, maka saya pun memaparkan pengalaman pribadi dengan berusaha memakai bahasa yang menyentuh hati.

Namun apa daya, juri telah memutuskan 10 finalis yang akan bersaing di putaran final. Untuk menentukan para pemenang, di antara 10 orang itu akan dipilih secara langsung oleh para pembaca dan masyarakat umum. Dan nama saya tak tercantum di deretan sepuluh finalis.

Satu hari penuh saya merasa kecewa dan melankolis. Hari berikutnya saya terlalu sibuk untuk bersedih, pontang-panting ke beberapa tempat. Hari berikutnya lagi, atau dua hari setelah kabar buruk itu tiba, saya masih agak sedih, tapi hari itu juga harus menyelesaikan beberapa tugas. Sangat sibuk tapi justru tertolong, karena bisa melupakan rasa kecewa.

Read the rest of this entry »

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa