»
S
I
D
E
B
A
R
«
Kok Ikal dan Arai Pakai Uang Palsu?
Dec 30th, 2009 by Elok Halimah

Hari Natal, sekolah dan kantor libur. Di bioskop orang berduyun-duyun datang dengan keluarga, hendak menonton “Sang Pemimpi”, difilmkan dari novel kedua Andrea Hirata.

Di tengah pemutaran film, ketika banyak orang tua sedang terharu melihat perjuangan Ikal, Arai, dan Jimbron yang gigih bekerja serabutan dan menabung untuk melanjutkan pendidikan, terdengarlah celetukan polos dari deretan kursi belakang.

“Ma, kok mereka nabungnya pake uang palsu sih. Kan gak boleh? Ma……kok uang palsu???”

Deg….saya tiba-tiba merasa sudah menjadi “manusia purba”. Lipatan uang lusuh yang dimasukkan Ikal dan Arai ke kotak yang tak kalah lusuh itu tentu saja bukan uang palsu. Lembaran seratus rupiah jaman saya kecil dan remaja dulu, warna merah khas. Dulu inilah uang saku saya, untuk membeli minum atau jajanan di sekolah. Membayar iuran kelas. Juga untuk arisan dan yang lain-lain.

Ibu si anak lalu berbisik-bisik menjelaskan bahwa itu bukan uang palsu, tapi uang yang dipakai di jaman itu.

Saya menoleh ke penjuru ruangan, para orang tua nampak menangis, terharu melihat perjuangan tiga remaja pengejar mimpi. Barangkali banyak yang mengingat masa sulit mereka. Saya termasuk salah satunya, teringat ketika hanya keyakinan bahwa pendidikan harus diperjuangkan semaksimal mungkin-lah yang membuat bertahan ketika uang di rantau semakin menipis.

Tapi saya bertanya-tanya, bisakah anak-anak kecil dan remaja yang sedang menonton itu merasakan “roh” perjuangan “Sang Pemimpi”?

Semoga bagi mereka ini bukan sekedar tontonan aneh dan mengada-ada dari jaman purba. Semoga mereka tak berpikir “mau sekolah aja kok susah amat sih? Masak sih?”

Jempol Untuk Laki-laki, Kelingking Untuk Perempuan
Dec 18th, 2009 by Elok Halimah
Jempol sama dengan laki-laki, sama dengan gajah?

Jempol sama dengan laki-laki, sama dengan gajah?

Dua hari lalu adalah peringatan ulang tahun pernikahan saya. Setelah bekerja seperti biasa di pagi hari, saat jam makan siang saya langsung permisi, bergegas ke stasiun. Setelah ganti jalur kereta satu kali, sampailah saya di “Rougakko”, sekolah khusus untuk anak-anak tuna rungu (menderita gangguan pendengaran atau tidak dapat mendengar sama sekali).

Saya bertugas mengisi kuliah umum, mengenalkan program antarbudaya ke murid-murid SD. Di satu bangunan megah dengan pagar-pagar tinggi dilengkapi tombol-tombol security itu terdapat TK, SD, SMP, dan SMU. Namun jumlah total muridnya hanya 40 orang. Letak gedungnya tak jauh dari kantor perusahaan Fujitsu yang jauh lebih megah lagi.

Ada 9 murid duduk manis di depan saya. Di pertemuan singkat dengan guru wali, saya sudah diberitahu bahwa guru wali akan menerjemahkan penjelasan saya dengan bahasa isyarat untuk tuna rungu (dalam bahasa Jepang disebut “shuwa”, bahasa Inggris “sign language”). Maka selama kuliah umum, di samping saya berdiri guru wali yang sibuk menggerak-gerakkan tangannya.

Beberapa murid bisa bicara dengan jelas sekali, saya bisa mengerti seluruh pertanyaan mereka. Beberapa mengalami kesulitan, guru wali menerjemahkan pertanyaan atau komentar mereka ke saya, dengan penuh kesabaran. Saya tahu mereka membaca gerak bibir saya, maka saya pun selalu berhati-hati, supaya tak terlalu cepat bicara.

Read the rest of this entry »

"Mengintip" Dua Remaja Putus Cinta: Cicipilah Patah Hati Ini!
Dec 4th, 2009 by Elok Halimah
Jalanan menguning di musim gugur. Catatan: photo ini bukan jalan yang dimaksud dalam tulisan di blog, tak ada hubungan dengan seruas jalan di dekat gedung bekas TK

Jalanan menguning di musim gugur. Catatan: photo ini bukan jalan yang dimaksud dalam tulisan di blog, tak ada hubungan dengan seruas jalan di dekat gedung bekas TK

Di anak tangga sebuah bangunan bekas TK. Hanya beberapa langkah dari tempat saya berjalan. Dua remaja berseragam SMA duduk berdampingan, tak terlalu dekat. Sang gadis mukanya lunglai, menatap jalan beraspal yang penuh dengan daun kuning dan merah, rontok dan tersapu oleh angin musim gugur.

“Aku akan selalu mengingatmu, di mana pun aku berada,” kata si lelaki. Saya tinggal dua langkah saja dari mereka, berjalan sambil menatap lurus ke depan, pura-pura tak mendengar apa pun.

“Pasti kamu akan melupakanku. Karena itu kamu ingin putus kan? Sudahlah…..” sahut si gadis lemah, namun suaranya kering oleh rasa marah. Saya sudah berjalan melewati mereka, namun jalanan yang sangat sepi membuat angin “membawa” suara si gadis sampai ke telinga saya.

Lalu saya berbelok, meniti jalanan yang sebenarnya bernuansa sangat romantis di tengah musim gugur. Setelah beberapa langkah, saya berhenti, menunggu mobil-mobil lewat lalu menyeberang ke blok seberang. Namun suara sepeda dan isak tangis di belakang mengejutkan saya. Gadis SMA itu mengayuh sepedanya pelan dengan mata merah oleh air mata. Dia menggigit bibirnya, mungkin untuk menahan rasa pedih supaya air mata berhenti mengalir.

Saya keluarkan sekotak tisu dari tas, lalu saya ulurkan ke si gadis. Saya tak berkata apa-apa, si gadis pun hanya menerima tisu itu, tak berkata apa-apa. Diusapnya mata dan pipinya. Kami berdiri berdampingan menunggu dua truk besar lewat. Lalu jalanan sepi. Si gadis siap mengayuh sepedanya lagi. Dia menoleh ke saya, mengembalikan sisa tisu dan berkata lirih, “Terima kasih.” Matanya masih terus memerah, nampaknya air mata tak bisa dihentikan seketika.

Saya menggelengkan kepala, “Ambil saja semuanya. ” Si gadis patuh, dimasukkan tisu ke tasnya dan dia pun berlalu, mengayuh sepedanya menyusuri jalanan berwarna kuning dan merah, membelah deretan pohon-pohon yang mulai mengering, bersiap menghadapi musim dingin.

Sambil meneruskan perjalanan dan menatap punggung si gadis yang terus menjauh, saya berkata dalam hati, “Menangislah sepuasmu, Dik. Cicipilah patah hati dan kecewa ini, karena ini akan membuatmu tangguh menghadapi patah hati, sakit hati, dan kecewa hati yang lain….yang sayangnya akan banyak kau temui dalam perjalanan ke masa depan.”

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa