
Jalanan menguning di musim gugur. Catatan: photo ini bukan jalan yang dimaksud dalam tulisan di blog, tak ada hubungan dengan seruas jalan di dekat gedung bekas TK
Di anak tangga sebuah bangunan bekas TK. Hanya beberapa langkah dari tempat saya berjalan. Dua remaja berseragam SMA duduk berdampingan, tak terlalu dekat. Sang gadis mukanya lunglai, menatap jalan beraspal yang penuh dengan daun kuning dan merah, rontok dan tersapu oleh angin musim gugur.
“Aku akan selalu mengingatmu, di mana pun aku berada,” kata si lelaki. Saya tinggal dua langkah saja dari mereka, berjalan sambil menatap lurus ke depan, pura-pura tak mendengar apa pun.
“Pasti kamu akan melupakanku. Karena itu kamu ingin putus kan? Sudahlah…..” sahut si gadis lemah, namun suaranya kering oleh rasa marah. Saya sudah berjalan melewati mereka, namun jalanan yang sangat sepi membuat angin “membawa” suara si gadis sampai ke telinga saya.
Lalu saya berbelok, meniti jalanan yang sebenarnya bernuansa sangat romantis di tengah musim gugur. Setelah beberapa langkah, saya berhenti, menunggu mobil-mobil lewat lalu menyeberang ke blok seberang. Namun suara sepeda dan isak tangis di belakang mengejutkan saya. Gadis SMA itu mengayuh sepedanya pelan dengan mata merah oleh air mata. Dia menggigit bibirnya, mungkin untuk menahan rasa pedih supaya air mata berhenti mengalir.
Saya keluarkan sekotak tisu dari tas, lalu saya ulurkan ke si gadis. Saya tak berkata apa-apa, si gadis pun hanya menerima tisu itu, tak berkata apa-apa. Diusapnya mata dan pipinya. Kami berdiri berdampingan menunggu dua truk besar lewat. Lalu jalanan sepi. Si gadis siap mengayuh sepedanya lagi. Dia menoleh ke saya, mengembalikan sisa tisu dan berkata lirih, “Terima kasih.” Matanya masih terus memerah, nampaknya air mata tak bisa dihentikan seketika.
Saya menggelengkan kepala, “Ambil saja semuanya. ” Si gadis patuh, dimasukkan tisu ke tasnya dan dia pun berlalu, mengayuh sepedanya menyusuri jalanan berwarna kuning dan merah, membelah deretan pohon-pohon yang mulai mengering, bersiap menghadapi musim dingin.
Sambil meneruskan perjalanan dan menatap punggung si gadis yang terus menjauh, saya berkata dalam hati, “Menangislah sepuasmu, Dik. Cicipilah patah hati dan kecewa ini, karena ini akan membuatmu tangguh menghadapi patah hati, sakit hati, dan kecewa hati yang lain….yang sayangnya akan banyak kau temui dalam perjalanan ke masa depan.”