»
S
I
D
E
B
A
R
«
India dan Indonesia di Peron Stasiun
Jan 29th, 2010 by Elok Halimah

Ketika menunggu kereta, seorang ibu menyapa dengan ramah. Masih sangat muda, mungkin belum memasuki 50 tahun. Ibu disingkat “I” dan saya disingkat “S”.

I: “Anda aslinya dari mana?”
S: “Dari Indonesia, Bu.”
I: “Ah….saya suka makanan dari negara Anda, terutama nan dan ayam Tandori.”

S: “Eh? Itu bukan makanan Indonesia Bu, tapi India.”

I: Diam saja memandangi kios penjual koran dan makanan. Lalu tiba-tiba bersuara lagi, “Wah, saya baru tahu kalo India itu termasuk kawasan Indonesia.”

S: Haaaaaaaaa??????

S: “Bukan Bu, Indonesia dan India negara berbeda. Letaknya juga berbeda. India itu berdekatan dengan Sri Lanka, Bangladesh, atau Nepal. Tapi Indonesia itu ada di Asia Tenggara. Ibu tahu Bali? Nah…Bali itu termasuk kawasan Indonesia.”

I: “Ya ya…saya tahu Bali.”

Percakapan terhenti karena seorang anak perempuan berseragam SMU mendekati ibu itu. Rupanya mereka keluarga.

I: “Nak, orang ini aslinya dari Indonesia lho. Kakak (menyebut nama kakak laki-kali si gadis) juga pernah ke Indonesia kan ya?”

Anak: “Ya….dia pernah pergi ke negara Anda. Dulu katanya dia keliling kota Mumbai dan Delhi.”

Elok: Hmmmm???????? Tuing-tuing *pusing tujuh keliling*, tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan.

Lalu mohon diri, sebab kereta sudah datang.

"Jangan Dipasang di Facebook ya!"
Jan 26th, 2010 by Elok Halimah

Photo paling "aman" : pemandangan

Photo paling "aman" : pemandangan

“Jangan dipasang di Facebook ya.”

“Eh, ini jangan dimuat di blog lho….”

Inilah permintaan yang akhir-akhir ini lumayan sering saya terima. Di acara kumpul-kumpul, biasanya orang gemar mengambil photo rame-rame. Dulu ketika Facebook sangat digemari karena siapa saja bisa melihat apa saja tentang kawan mereka(terutama yang bertahun-tahun tak pernah bertemu), setelah jepret sana jepret sini, pasti saling mengingatkan, “Pasang di Facebook ya. Ntar aku tolong di-tag ya.”

Sekarang, “siapa saja bisa melihat apa saja” justru menjadi bumerang. Meskipun Facebook sebenarnya mempunyai sistem keamanan & privacy yang bagus,  tak semua user menggunakannya. Banyak kawan saya yang justru tak tahu bahwa mereka BISA (dan HARUS) menerapkan privacy setting yang sangat ketat.

Artinya, meski kita tidak memasang photo-photo (atau informasi) pribadi, namun jika orang lain yang tidak menerapkan privacy setting apapun memasang photo itu dengan seenaknya sendiri, maka tetap saja orang tak dikenal bisa melihat photo itu.

Tentu saja ini tergantung pilihan masing-masing. Ada yang tak keberatan photonya dilihat orang lain, ada yang rajin memilah-milah, hanya photo yang dirinya kelihatan cantik/tampan saja yang boleh dilihat. Atau ada juga yang sama sekali tak suka photonya dilihat orang tak dikenal. Menurut saya, kita juga harus menghormati pilihan-pilihan itu.

Read the rest of this entry »

Empat Keluhan Beruntun Membawa ke "Anak" Kahlil Gibran
Jan 20th, 2010 by Elok Halimah
"Anak milik masa depan..........."

"Anak milik masa depan..........."

“Serendipity?”
“Ini pasti wangsit dari langit untuk membuka biro perkenalan dan perjodohan, tapi kliennya para orang tua, bukan pihak calon pengantin.”

Begitulah komentar dua kawan ketika saya beritahu soal kejadian beruntun yang saya alami. Sebetulnya kata “kejadian” terkesan sedikit membesar-membesarkan perkara, sebab sebenarnya saya hanya secara tak sengaja mendengarkan pembicaraan di sekitar. Semuanya bertema sama, pelaku pembicaraan pun rata-rata berusia sama, kira-kira 60 -70 tahun (minimal satu generasi-lah), di empat tempat yang berbeda dan berjauhan.

Jumat minggu lalu di ruang loker gym di Futako Tamagawa, Setagaya-Tokyo. Saya sedang berbenah, di bangku sebelah tiga orang ibu sedang berbincang.

“Kalo ada yang bisa dikenalkan ke anak laki-lakiku, tolong ya. Dia gak ada waktu, jadi mendingan aku aja deh yang ambil inisiatif,” seorang ibu berkata.

“Aku juga dong. Pengen cepet-cepet menikmati masa bulan madu kedua ama suami, berdua saja di rumah. Moga-moga anak sulungku segera punya pacar deh, lalu pindah dan berkeluarga sendiri,” sahut ibu yang lain sambil sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Read the rest of this entry »

"Mencemburui" Pemimpin
Jan 16th, 2010 by Elok Halimah

Dua hari lalu saya duduk di sebuah ruang rapat. Di luar suhu udara sangat dingin. Tapi di dalam ruangan serasa tak perlu lagi penghangat ruangan. Diskusi terus menerus “memanas”, membahas kebijakan apa yang hendak diusulkan pada pemerintah daerah.

Dan saya sungguh merasa “cemburu” pada pimpinan organisasi kemasyarakatan yang saya ikuti. Pengusaha berusia 45 tahun, sungguh kalem, berwibawa, dan tak kehilangan ketenangan sikap sama sekali. Di tengah “kegaduhan” yang memuncak, dia duduk serius mendengarkan seluruh pro-kontra. Kadang-kadang dia mencatat di sana-sini di atas laporannya.

Seusai rapat, kami keluar gedung bersama-sama. Sempat saya tanya rahasia ketenangan sikapnya. Dengan kalem dia menjawab.

“Saya dipercaya menjadi pemimpin, artinya saya harus mau dengan bijaksana mendengarkan yang kanan dan kiri, yang pro dan yang kontra, yang tenang dan yang emosi. Di rapat penentuan nanti, barulah saatnya kita mengambil keputusan final. Kalau dari awal kita sudah mudah terpancing dan ceplos sana ceplos sini, apa dong fungsi pemimpin sebagai pemersatu?”

Dan itulah mengapa saya merasa kagum dan “cemburu”. Mencemburui kebijakan sifatnya yang mengutamakan kewajibannya sebagai “pemersatu”, daripada haknya sebagai “pemimpin”.

Namaku Sayang Namaku Malang
Jan 9th, 2010 by Elok Halimah
Salah satu sudut Bandara Internasional Hongkong. Papan tulisan ini pemandangan favorit saya.

Salah satu sudut Bandara Internasional Hongkong. Papan tulisan ini pemandangan favorit saya.

Anda tentu pernah membaca peringatan di kertas konfirmasi dari agen wisata atau dari kantor penerbangan yang bersangkutan.

“Tolong periksa nama Anda. Pastikan bahwa ejaan dan urutan nama (nama diri, middle name, dan nama keluarga) telah benar sesuai paspor. Jika tidak, Anda bisa dilarang terbang.”

Saya selalu memeriksa nama saya, terutama karena nama saya tidak (belum) memakai middle name dan nama keluarga suami. Selalu saya pastikan bahwa urutan nama di tiket SAMA PERSIS dengan nama di paspor, yaitu Elok Halimah, dan bukan Halimah, Elok.

KECUALI kali ini. Mungkin karena memesan tiketnya sambil terbirit-birit ke sana kemari, menyelesaikan pekerjaan ini itu, saya LALAI memeriksa urutan nama saya. SIALNYA, kali ini pula nama saya ditulis terbalik. Tidak sama persis dengan nama di paspor, tapi kebalikannya. Padahal biasanya ketika saya rajin memeriksa, eh..malah tak pernah salah.

Maka dengan suksesnya saya tertahan di Bandara Internasional Hongkong selama beberapa menit. Petugas di loket imigrasi berkerut keningnya, memperhatikan tiket dan paspor saya. Saya waktu itu belum sadar bahwa nama di tiket ditulis terbalik.

Read the rest of this entry »

Hingga Kita Saling Menyumpahi & Memaki Lagi
Jan 6th, 2010 by Elok Halimah
Ketika persenan cinta sedang turun karena banyaknya penumpang kereta yang sangat "grasa-grusu" sodok sana sodok sini, merasa bersyukur sekali karena ada "Women Only" cars, gerbong khusus untuk penumpang perempuan.

Ketika persenan cinta sedang turun karena banyaknya penumpang kereta yang sangat "grasa-grusu" sodok sana sodok sini, merasa bersyukur sekali karena ada "Women Only" cars, gerbong khusus untuk penumpang perempuan.

Selesai sudah libur akhir tahun. Saya pun kembali ada di Jepang. Seorang kawan baik bertanya, “Kok kerasan bener tinggal di Jepang. Apa gak bosen? Kapan main lagi?”

Saya menyahut, “Ntar kalo dah saling menyumpahi ama Jepang, main lagi deh. Kalo sumpah serapahnya dah hilang, balik lagi.”

Ini pernyataan setengah bercanda setengah serius. Ketika duduk berdua dengan ibu saya di mushola kecil di rumah (sebenarnya hanyalah sepetak ruang khusus untuk sholat berjamaah keluarga), kami membahas soal cinta.

“Cinta itu ada persen-persenannya. Kadang mencapai 100 persen, kadang kurang dari itu. Bisa juga mencapai titik yang sangat rendah. Kayak gelombang. Yang penting kita tetap berusaha menyeimbangkannya.”

Begitulah perasaan saya terhadap Jepang. Ada saat tertentu di mana saya merasa bahagia sekali tinggal di sini. Ini biasanya terjadi ketika berurusan dengan sistem asuransi kesehatan yang sangat mudah dimengerti dan efesien, pergi ke toko dan mendapat pelayanan ibaratnya raja & ratu, juga ketika bertemu dengan teman-teman yang telah menjadi keluarga di sini.

Ada saatnya juga persenan cinta saya terhadap Jepang turun drastis. Misalnya saat petugas di kantor pemerintah atau swasta mempermasalahkan nama saya yang berbeda dengan nama keluarga suami, saat petugas memberhentikan saya di tengah jalan dan dengan kasarnya menyuruh saya memperlihatkan kartu identitas, atau ketika para penumpang di kereta dengan cueknya main sodok sana sini tanpa memperdulikan ada ibu hamil, anak kecil, atau orang jompo.

Read the rest of this entry »

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa