
Tanda "Dilarang Parkir Sepeda" di dekat Stasiun Shin-Kawasaki, Saiwai-ku, Kawasaki. Lokasi photo ini tidak ada hubungan dengan lokasi kejadian di tulisan blog ini. Kebetulan saya sedang ada di sana dan tertarik untuk memotretnya.
Sepeda saya pembuat onar! Sering membuat pusing tujuh keliling. Kadang juga membuat saya dapat ceramah gratis dari beberapa petugas, swasta dan pemerintah, yang dapat gaji maupun para tenaga sukarela. Belum lagi harus ngos-ngoson, putar ke kiri dan ke kanan, kadang sengaja menyiapkan waktu 30 menit untuk si sepeda.
Murah dan menyehatkan, minimal untuk otot kaki. Ramah lingkungan dan tidak mengeluarkan gas emisi. Sempurna, bukan?
Dan saya ingin selalu mematuhi peraturan parkir yang sudah ditetapkan. Tak boleh sembarangan parkir sepeda, maka di pagi hari saya selalu memarkir sepeda di tempat yang sudah ditetapkan, di dekat stasiun kereta terdekat. Harus membayar, tentu saja. Ada sistem kontrak bulanan, atau bisa juga harian. Tak masalah! Para petugas di tempat parkir itu pun sudah saya anggap teman. Saling menyapa, kadang bertukar cerita beberapa saat ketika waktu sama-sama memungkinkan.
Yang jadi masalah adalah jika saya harus pergi ke tempat lain. Pernah pergi ke bank. Cuaca cerah, pas untuk mengayuh sepeda sambil menikmati hembusan udara di sepanjang Sungai Tamagawa. Niatnya hanya mau transfer uang, 5 menit pasti selesai. Tapi tak ada tempat parkir sama sekali. Bank itu nampaknya tak punya ide sama sekali bahwa akan ada nasabah yang datang dengan sepeda???
Seorang bapak, petugas penertib parkir, berdiri tegak di depan gedung di dekat bank (sebetulnya bank itu ada di dalam kawasan gedung itu juga, lantai pertama). Saya tahu siapa pun dilarang parkir di sekitar gedung itu, maka saya bertanya ke bapak itu, dimana ada tempat parkir. Mengikuti petunjuk, saya kayuh sepeda ke tempat parkir, dengan ongkos 150 yen satu kali parkir.
Read the rest of this entry »