»
S
I
D
E
B
A
R
«
"Kamu Sebenarnya Orang Mana, Sih?"
Jun 15th, 2010 by Elok Halimah

“Elok-san, kamu sebenarnya orang mana sih? Orang Jepang?”

Dua anak tetangga bertanya, kelas 4 dan 2 SD. Dua-duanya perempuan. Suatu sore hari, minggu lalu. Di depan rumah. Saya sedang membuka kotak surat, mengambil koran harian dan beberapa surat.

“Bukan orang Jepang, orang Indonesia. Kenapa?” jawab saya.

Saya dan dua anak itu sudah akrab. Sore hari mereka dan beberapa anak dari kompleks sekitar suka bermain di halaman depan. Saya kadang main bulutangkis dengan mereka, lempar-lemparan bola, atau hanya sekedar mengobrol sambil berdiri (sebab tak ada kursi di halaman, kecuali ketika mereka sedang pesta atau piknik di sana).

“Kemarin aku tiba-tiba kepikiran aja. Dari dulu kita kan selalu ngobrol pake bahasa Jepang, tapi kalo dipikir-pikir kamu dan suami kan bukan orang Jepang? Makanya jadi bingung….” jawab yang kelas 2 SD sambil bersender pada seruas kayu tempat kotak surat tertempel.

Benar sekali! Sejak dia masih TK kami sudah sering ngobrol, tentu saja dalam bahasa Jepang. Dan baru pertama kali ini dia menanyakan “identitas” saya, asal usul saya..

Pernahkah Anda mencoba berpikir, kapankah anak-anak usia dini mulai bisa mempertanyakan identitas kewarganegaraan, asal usul daerah, atau identitas berdasarkan ras?

Read the rest of this entry »

"Ibu, Pernahkah Tuhan Menjawab Doamu?"
Jun 6th, 2010 by Elok Halimah

“Ibu, Tuhan pernah menjawab doamu?”

Seorang anak perempuan dengan rambut pirang sebahu, saya perkirakan umurnya 7 atau 8 tahun. Bertanya polos kepada ibunya yang sama seperti saya dan banyak pengunjung lainnya, sedang mencari-cari kartu ucapan Hari Ibu yang tepat. Di sebuah toko Hallmark di Madison, Wisconsin-Amerika.

Terjadi dua hari menjelang peringatan Hari Ibu yang jatuh pada hari Minggu, 9 Mei 2010. Di bagian “Mother’s Day”, ratusan kartu (mungkin sebetulnya ribuan?) dengan berbagai macam ucapan untuk ibu dipajang di beberapa rak. Di depannya, banyak sekali orang berdiri, melihat-lihat, memilah-milah, dan memilih-milih.

Beberapa dari orang itu tersenyum, menoleh, mencoba mencari sumber suara dan pemilik pertanyaan polos itu. Si anak yang berdiri tak jauh dari saya asyik masyuk menatap sebuah kartu di rak khusus untuk kartu ucapan bertema religi.

Dari tempat saya berdiri, tak jelas apa tulisan di kartu itu. Yang pasti, berbau keagamaan. Barangkali, karena itulah si anak lalu bertanya ke ibunya, “Tuhan pernah menjawab doamu?”

Read the rest of this entry »

Sepeda? (Ke Laut Aje Kali Ye)……….???
Jun 2nd, 2010 by Elok Halimah
Tanda "Dilarang Parkir Sepeda" di dekat Stasiun Shin-Kawasaki, Saiwai-ku, Kawasaki. Lokasi photo ini tidak ada hubungan dengan lokasi kejadian di tulisan blog ini. Kebetulan saya sedang ada di sana dan tertarik untuk memotretnya.

Tanda "Dilarang Parkir Sepeda" di dekat Stasiun Shin-Kawasaki, Saiwai-ku, Kawasaki. Lokasi photo ini tidak ada hubungan dengan lokasi kejadian di tulisan blog ini. Kebetulan saya sedang ada di sana dan tertarik untuk memotretnya.

Sepeda saya pembuat onar! Sering membuat pusing tujuh keliling. Kadang juga membuat saya dapat ceramah gratis dari beberapa petugas, swasta dan pemerintah, yang dapat gaji maupun para tenaga sukarela. Belum lagi harus ngos-ngoson, putar ke kiri dan ke kanan, kadang sengaja menyiapkan waktu 30 menit untuk si sepeda.

Murah dan menyehatkan, minimal untuk otot kaki. Ramah lingkungan dan tidak mengeluarkan gas emisi. Sempurna, bukan?

Dan saya ingin selalu mematuhi peraturan parkir yang sudah ditetapkan. Tak boleh sembarangan parkir sepeda, maka di pagi hari saya selalu memarkir sepeda di tempat yang sudah ditetapkan, di dekat stasiun kereta terdekat. Harus membayar, tentu saja. Ada sistem kontrak bulanan, atau bisa juga harian. Tak masalah! Para petugas di tempat parkir itu pun sudah saya anggap teman. Saling menyapa, kadang bertukar cerita beberapa saat ketika waktu sama-sama memungkinkan.

Yang jadi masalah adalah jika saya harus pergi ke tempat lain. Pernah pergi ke bank. Cuaca cerah, pas untuk mengayuh sepeda sambil menikmati hembusan udara di sepanjang Sungai Tamagawa. Niatnya hanya mau transfer uang, 5 menit pasti selesai. Tapi tak ada tempat parkir sama sekali. Bank itu nampaknya tak punya ide sama sekali bahwa akan ada nasabah yang datang dengan sepeda???

Seorang bapak, petugas penertib parkir, berdiri tegak di depan gedung di dekat bank (sebetulnya bank itu ada di dalam kawasan gedung itu juga, lantai pertama). Saya tahu siapa pun dilarang parkir di sekitar gedung itu, maka saya bertanya ke bapak itu, dimana ada tempat parkir. Mengikuti petunjuk, saya kayuh sepeda ke tempat parkir, dengan ongkos 150 yen satu kali parkir.

Read the rest of this entry »

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa