»
S
I
D
E
B
A
R
«
Apakah "Murahan" dan "Sok Jual Mahal" Juga Berlaku Untuk Laki-laki?
March 20th, 2010 by Elok Halimah

Saya sedang berdiri memandangi deretan majalah gosip artis di bagian majalah impor, toko buku Kinokuniya. Berpikir, sebaiknya beli “People” atau “Us”.

“Maaf, sekarang jam berapa ya?”

Suara laki-laki muda di belakang saya. Setelah menoleh, tahulah saya dia sedang bertanya ke perempuan muda berdiri di sebelahnya. Si perempuan tak langsung menjawab, mengernyitkan dahi. Saya juga langsung mengernyitkan dahi. Di tangan kanan laki-laki itu, bertenggerlah jam tangan berkilau, nampak barang mahal. Di tangan yang lain dia menenteng majalah sepakbola.

Saya perhatikan raut muka si laki-laki, sambil pura-pura membuka-buka gambar artis Hollywood. Mukanya merah padam. Pahamlah saya seketika! Olala, dia sedang “ngecengin” si perempuan muda memakai rok biru muda itu.

“Jam Anda rusak?” jawab si perempuan dengan nada ketus, tak berperasaan. Aduh….muka saya langsung saya tutupi dengan majalah “People”, untuk menahan jeritan simpati (mungkin juga sedikit tawa?).

"Maaf, sekarang jam berapa ya?" (Padahal tepat di atas kepala Anda ada jam sebesar roda sepeda, di tangan Anda ada jam tangan, dan di saku Anda ada HP lengkap dengan penunjuk waktunya.......)

"Maaf, sekarang jam berapa ya?" (Padahal tepat di atas kepala Anda ada jam sebesar roda sepeda, di tangan Anda ada jam tangan, dan di saku Anda ada HP lengkap dengan penunjuk waktunya.......)

Sesegera mungkin saya pergi ke kasir, bersiap membayar. Tak tega melihat raut muka si laki-laki muda. Tapi hei! Tunggu sebentar. Dengarlah apa jawabannya terhadap si perempuan.

“Tidak, jam saya baik-baik saja. Saya hanya cari alasan supaya bisa berkenalan dengan Anda.”

Gedubrak! Kira-kira begitu bunyi jantung saya. Tersungkur kaget! Wah, hebat juga si laki-laki itu. Saya tak jadi pergi ke kasir. Berdiri mematung, masih memandangi gambar artis Hollywood. Menunggu reaksi si perempuan.

“Jam setengah tiga,” jawabnya kalem, nadanya malu-malu, tapi jelas dengan senang hati!

Lagi-lagi gedubrak! Ternyata cara “mejeng” (bahasa jaman saya remaja dulu, entah kata ini masih populer apa tidak) ini mujarab juga!

Kejadian di toko buku itu mengingatkan saya akan cerita seorang mantan rekan kerja. Suatu pagi di hari Jumat dia memproklamasikan ke saya bahwa hari itu dia akan meninggalkan kantor jam setengah tujuh tepat! Ada kencan dengan si A, begitu katanya.

Saya dibuat melongo tak berdaya! Rekan itu tertawa geli. Dia tahu kenapa saya melongo. Beberapa hari sebelumnya si A menggaet perhatiannya dengan cara nekat yang spektakuler. Pulang kerja, tiba-tiba A mencegat rekan saya dan berkata, “Permisi, bagaimana ya caranya pergi ke sini? Anda bisa tolong jelaskan?” Pura-pura menanyakan jalan.

Si rekan yang baik hati berniat membantu dengan serius. Dia berhenti dan memperhatikan peta yang dibawa si A. Namun beberapa detik kemudian, sadarlah dia! Peta itu adalah peta kota Shanghai di Cina (peristiwa terjadi di Tokyo!).

"Maaf, gimana ya caranya pergi ke sini?" (Bertanya cara pergi ke China di Tokyo. Aduh....naik perahu, kapal, pesawat, tinggal pilih Mas.....)

"Maaf, gimana ya caranya pergi ke sini?" (Bertanya cara pergi ke China di Tokyo. Aduh....naik perahu, kapal, pesawat, tinggal pilih Mas.....)

Rekan saya itu bertugas di bagian penanganan klien di Cina, fasih berbahasa Cina, dan memang pernah bermukim di sana. Mantap sekali cara si A mendapatkan perhatiannya! Meskipun awalnya rekan itu bersungut-sungut merasa dipermainkan (dan saya harus mendengarkan sungutannya berjam-jam!), cara si A terbukti tokcer! Minimal, satu janji dinner bisa didapatkan!

Kadang saya merenung, bagaimana jika pelaku kejadian kita putarbalikkan. Si perempuan muda memakai rok biru menjadi pihak yang pura-pura menanyakan jam, sambil di tangan kanannya nampak jelas bertengger jam tangan berkilau, dan di tangan kirinya majalah sepakbola? Lalu setelah ketahuan niat aslinya, perempuan berkata, “Saya hanya cari alasan supaya bisa berkenalan dengan Anda?”.

Bagaimana reaksi si laki-laki? Siapa bisa dan berani menjamin bahwa si perempuan tidak akan mendapat cap “terlalu agresif”? Atau lebih parah lagi, “murahan”?

Sering saya dengar ekpresi “sok jual mahal” ditujukan kepada perempuan, terutama ketika dia dirasa kurang ramah kepada laki-laki yang menyimpan rasa. Bagi saya, ini sangat membingungkan! Dulu, bertahun-tahun lalu, ketika pertama kali berkenalan dengan “Pride and Prejudice”-nya Jane Austen, saya pernah berkomentar ke sahabat saya. “Duh, susah bener jadi perempuan. Tak boleh “murahan”, tak boleh “jual mahal.”

Barangkali, itulah sebabnya rekan saya bersungut-sungut ketika ditanya cara pergi ke Shanghai (dari Tokyo?), meskipun akhirnya dia pergi makan malam dengan si laki-laki itu. Atau, alasan yang sama untuk si perempuan di toko buku yang meskipun tahu si laki-laki sedang berusaha mencari perhatiannya, pertama dia berlagak ketus. Namun akhirnya mau diajak kenalan juga.

Barangkali, memang jaman belum mengijinkan perempuan (setidaknya di masyarakat & daerah tertentu) untuk langsung berbinar-binar senang ketika “dikecengin” lawan jenisnya? Artinya, mungkin perempuan “terpaksa” bersikap “jual mahal”, supaya tak menjadi “murahan”?

Ah, repot bener! Tanyakan saja jawabannya pada ikan yang bergoyang-goyang di kolam!


One Response  
Dian writes:
August 13th, 2010 at 7:21 am

:) separuh kaki kita memang masih di timur, walaupun kaki yang sebelah sudah melangkah ke barat
ulasan yang sangat menarik

Leave a Reply

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa