»
S
I
D
E
B
A
R
«
Berhenti Menuduh "Jaman" Sebagai Biang Keladi Kebosanan & Kesepian
March 3rd, 2010 by Elok Halimah

Terus terang, saya sudah sering kagok kalau harus memulai percakapan dengan orang tak dikenal dalam perjalanan. Waktu kecil, orang tua selalu mengingatkan untuk ramah dan sopan kepada siapa saja, terutama ketika bepergian. Saya pun sering menyaksikan secara langsung bagaimana bapak dan ibu dengan luwesnya bercakap-cakap dengan orang sekitar.

Saya sering menjadikan “jaman” sebagai kambing hitam. “Jaman sekarang sudah bedalah”. Tengok saja di ruang tunggu stasiun atau bandara. Calon penumpang sibuk memencet keyboard laptop, bicara di telepon, meng-update status di Twitter dan Facebook “I’m @ the………” (sok yakin bahwa orang lain butuh info itu). Di ruang tunggu, jika mata cukup jeli, Anda pasti bisa menemukan meeting-meeting penting sedang diadakan, lewat chatting, skype, atau telpon biasa.

Nah, bagaimana saya harus memulai percakapan dalam situasi seperti itu? Apalagi saya sendiri sering menjadi “pelaku utama” kejadian di atas. Di dalam kendaraan pun teknologi sudah siap menghibur kita. Layar-layar TV untuk setiap penumpang, radio, puluhan channel musik, majalah dan koran dengan pilihan aneka warna.

"Teman sejati" dalam perjalanan.............

"Teman sejati" dalam perjalanan.............

Plus, urusan keamanan. Di jaman seperti ini, hati selalu was-was. Membentengi diri dari orang tak dikenal, tak boleh keceplosan bicara soal urusan kerja, pantang hukumnya untuk terlalu gampang bicara soal pribadi. Lengkap sudah pasal-pasal untuk menjalani rute perjalanan dengan diam seribu bahasa, kecuali kita bepergian dengan rekan kerja atau keluarga.

Namun, pertengahan bulan lalu saya betul-betul mati kutu, bosan di dalam kabin. Dalam sebuah perjalanan singkat, mesti berganti-ganti jalur penerbangan, berpindah ke ruang tunggu beberapa kali. Di jalur penerbangan yang kelima (dalam satu minggu) antara Dubai – Singapura, saya sudah tak berminat lagi pada layar TV di depan mata. Majalah dan koran sudah semuanya saya lihat. Rekan seperjalanan sedang berkonsentrasi tinggi pada sebuah catatan sejarah yang ditekuninya.

Ketika menoleh ke deretan kursi di sekitar, saya terkejut. Enam orang penumpang lain di kabin depan itu sedang asyik bercengkrama! Beberapa berdiri menghadap satu sama lain, saling menyantap camilan dan bersenda gurau. Saya tahu mereka bukan rekan seperjalanan. Tawa mereka lepas sekali, membahana mengisi kabin.

Pusat cengkrama adalah seorang ibu setengah baya. “Peserta” lainnya sepasang suami istri dari Kroasia, seorang laki-laki muda entah dari mana (saya perkirakan Asutralia), dua orang laki-laki bermuka Timur Tengah berjas necis rapi. Mereka sedang membicarakan sebuah karya seni lukis.

Bandara sunyi sepi...............

Bandara sunyi sepi...............

Ibu setengah baya tak sengaja melihat saya sedang melihatnya, dia lambaikan tangan. Saya pun berdiri, berjalan sedikit untuk bergabung dengan mereka. Ibu yang ternyata seorang seniman berkebangsaan Turki dan sudah ternama itu dengan mudahnya “memasukkan” saya ke dalam “tim cengkrama”.

Seniman luar biasa! Pernah tinggal di banyak kawasan yang berbeda (termasuk Yogyakarta dan beberapa tempat di Jepang), lalu menjalankan banyak proyek di beberapa negara. Dalam sekejap, saya pun terbebas dari kebosanan, ikut tenggelam dalam pembicaraan soal seni, sejarah, sedikit soal politik, dan sedikit soal hukum internasional.

Lalu “tim” menjadi semakin meriah oleh sepasang suami istri dari Spanyol yang ikut bergabung dengan anak laki-laki usia 15 bulan mereka. Ibu seniman mengajari si anak beberapa mainan, si anak langsung “jatuh cinta” dengan ibu itu. Maka riuh rendah di kabin depan pun tak terbendung lagi. Ibu seniman memperlihatkan beberapa photo hasil karyanya, beberapa buku yang baru saya beli “beredar” di antara beberapa penumpang yang lalu sibuk mengomentari ini itu.

Sesampainya di Singapura, saya berterima kasih ke ibu seniman. Dia mengucapkan selamat jalan, sebab saya masih harus meneruskan perjalanan ke Tokyo. Saya pun mengucapkan hal yang sama, sebab dia hendak meneruskan perjalanan panjang ke New Zealand.

Barangkali sudah saatnya saya berhenti menjadikan “jaman” sebagai kambing hitam dan belajar dari ibu itu. Bahwa kewaspadaan tak harus membuat kita mati kutu oleh rasa bosan dan kesepian. Bahwa menjadi ramah tak berarti harus “mengobral” cerita pribadi dan urusan kerja.


One Response  
ney writes:
April 5th, 2010 at 5:23 am

salam kenal blogger mba….

baru nemu blog “elok” ini pas nyari artikel tentang bunga sakura…
kereee….salam bwt tokyo yoh mba..hehehe…

ohya,sekalian aq izin mw pasang link blog nya mba diblog baruku….arigatou…

Leave a Reply

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa