
Selamat datang di Prince Edward Island, Kanada. Banner di bandara dalam dua bahasa resmi negara, Inggris dan Perancis
Siang hari 4 Mei 2010, “Province House”, Charlottetown, ibukota Propinsi Prince Edward Island (PEI), Kanada.
Stocking dan rok hitam saya sudah agak berkerut, terlalu lama dipakai jalan. Sol sepatu hitam saya agak kotor oleh tanah merah, tanah khas pulau, sebab pagi hari itu kami pergi ke Victoria Park sebentar untuk jalan pagi. Rambut tak begitu teratur, angin kencang yang menerpa propinsi terkecil di Kanada itu terus mengacak-acaknya. Tas nampak penuh sekali, berisi beberapa buku, dua kamera, dan beberapa snack kecil.
Sama sekali bukan penampilan yang tepat dan terhormat untuk “menemui” para wakil rakyat, minister, dan beberapa anggota masyarakat terkemuka dari Prince Edward Island. Muka kusut turis yang sudah kecapekan!
Tapi saya memang tidak berniat menemui mereka! “Province House” termasuk dalam “National Historic Site of Canada”, karena di sinilah dimulainya gerakan untuk membentuk negara dan pemerintahan Konfederasi. Pada bulan September 1864, di tempat ini bertemu 23 pemimpin politik dari Prince Edward Island, Nova Scotia, New Brunwick, dan Kanada (waktu itu meliputi Ontario dan Quebec saja). Pertemuan ini kemudian disebut sebagai cikal bakal lahirnya Kondeferasi, meliputi banyak propinsi seperti yang terbentuk sekarang ini.
Tujuan saya ya untuk melihat lokasi bersejarah itu! Apalagi bisa melihat film dokumentasi terbentuknya Konfederasi secara gratis! Maka setelah makan siang, saya pun bersemangat empat lima untuk pergi ke “Province House”.

Charlottetown, ibukota Propinsi Prince Edward Island, disebut sebagai tempat lahirnya ide Konfederasi
Begitu pintu terbuka, seorang staff dan petugas keamanan menyapa ramah. Langsung tersenyum dan menyambut dengan suara riang gembira.
“Halo! Selamat datang di “Province House”. Anda bisa melihat-lihat seluruh ruangan dan saya akan mendampingi untuk memberi penjelasan. Atau, jika Anda tertarik bisa juga pergi ke ruang Gallery di lantai atas untuk menyaksikan sidang legislatif propinsi PEI yang akan dimulai beberapa menit lagi. Anda tinggal mendaftar di buku ini. Untuk keamanan, Anda bisa memilih. Jika tas dititipkan di sini, kami tidak perlu memeriksa isinya. Jika Anda mau bawa tas ke dalam, kami terlebih dahulu akan memeriksa isinya di sini. Silakan pilih!”
Memang benar kata buku panduan! Gedung ini sekarang juga dipakai sebagai ruang sidang para anggota perwakilan rakyat PEI. Namun saya ragu-ragu. Masak sih turis macam kami bakal diperbolehkan masuk? Orang asing, muka kusut masai, bawa-bawa tas segede gambreng pula!
Melihat tatapan ragu saya, Mbak petugas yang tinggi menjulang itu langsung tersenyum lagi. “Silakan, siapa saja boleh kok menyaksikan jalannya sidang!”
Semangat empat lima saya pun muncul lagi. Tulis nama di daftar tamu, menitipkan tas di petugas keamanan (sebab malu jika tas harus digeledah di depan mereka, takut ketahuan banyaknya pernak-pernik snack di dalamnya!), terima tanda pengunjung, lalu diantar si Mbak tadi ke atas.
Eh, di ujung tangga nampak beberapa orang membawa bendera berbaris rapi. Saya dan Donald bengong, ada apakah gerangan? Si Mbak berbisik pelan, menjelaskan bahwa pemimpin Dewan Perwakilan Rakyat (Legislative Assembly) akan memasuki ruang sidang melalui parade resmi singkat. Berbaris didahului dengan bendera negara dan propinsi serta lambang lain, diikuti dengan beberapa petugas sidang. Anggota Dewan lainnya menunggu di ruang sidang.

Di depan "Province House" dengan rambut berkibar-kibar oleh angin
Kami manggut-manggut. Lalu ikut berdiri di pinggir lorong, menunggu. Di sisi lorong lain nampak beberapa masyarakat umum yang juga akan menonton jalannya sidang. Beberapa nampak berbaju resmi nan rapi, beberapa lagi berpakain kasual saja.
Tiba-tiba Madame Speaker, pemimpin pertama Dewan datang menghampiri kami. Dengan jubah hitam yang nampak anggun melambai dan topi kehormatan seperti yang sering muncul di film-film kuno Inggris, perempuan cantik itu tersenyum ramah dan menyalami kami.
“Halo, selamat datang. Terima kasih sudah menyisakan waktu untuk mengikuti jalannya sidang nanti. Anda berdua datang dari mana?”
Kami yang sempat melongo kaget buru-buru menjawab. Setelah tahu asal usul kami, Madame Speaker ini lalu bertanya ini itu, kesan kami tentang PEI, dan sedikit menjelaskan jadwal sidang hari itu. Di tengah obrolan singkat, terompet dibunyikan tanda waktu telah tiba untuk memasuki ruang sidang. Ibu Ketua Dewan menyalami kami lagi dan berkata, “Sekali lagi, terima kasih ya kunjungannya.”
Parade usai dan beberapa menit kemudian pintu ruang Gallery dibuka. Hari itu kira-kira ada sepuluh masyarakat umun yang mengikuti sidang. Dan lagi-lagi saya terbengong-bengong.
Beberapa anggota Dewan dan minister berdiri menyampaikan sambutan sejenak, semuanya dimulai dengan ucapan terima kasih kepada para pengunjung di Gallery, yang sudah menyediakan waktu di tengah kesibukan untuk mengikuti jalannya sidang. Kadang sambil melambaikan tangan ke arah ruang Gallery.

Salah satu sudut Kota Charlottetown
Tak hanya itu, mereka juga menyampaikan laporan-laporan singkat dari distrik dan konstituen yang ada di wilayah mereka. Misalnya, rakyat bernama A dari daerah C baru saja sembuh total dari kanker dan saat ini sibuk menggerakkan kampanye untuk meningkatkan kesadaran terhadap kanker. Rakyat B dari daerah D baru saja merayakan ulang tahun ke 95 tahun, anak-anak sekolah dari daerah F tadi malam tampil gemilang dalam pertunjukan amal, dan seterusnya dan sebagainya.
Sentuhan pribadi yang sungguh membuat mulut saya terbuka menganga. Di ruang sidang yang tak seberapa besar namun bersuasana sangat resmi dan sedikit sakral (mungkin karena gedung bersejarah?) itu, bulu kuduk saya sempat sedikit berdiri. Para wakil rakyat yang sangat terhormat itu, bersidang dengan menempatkan rakyat sebagai topik pembicaraan utama mereka, memulai pembicaraan dengan mengucapkan terima kasih ke rakyat, memberi ucapan selamat ke rakyat, dan menyampaikan kehidupan sehari-hari si rakyat, dilengkapi dengan nama-nama mereka.
Karena Donald harus kembali ke tugas dan pekerjaan yang menunggu, kami tak bisa menyaksikan sidang hingga akhir. Dengan pelan kami bergerak menuju pintu keluar. Eh, Ibu Ketua Dewan melihat kami. Dari kursi besarnya (yang juga nampak anggun dan sakral itu!), dia melambaikan tangan sejenak ke kami, mengangguk dan tersenyum, tanda selamat tinggal.
Karena sangat terkesan dengan kebaikan sang pemimpin perwakilan rakyat itu, kami bertanya bagaimana cara mengirimkan ucapan terima kasih ke dia, bolehkah kami mengirim surat ke “Province House” dialamatkan ke dia. Si Mbak petugas langsung mengarahkan kami ke ruang keamanan. Di sana seorang bapak berusia sebaya menyodorkan beberapa lembar kertas dengan lambang resmi di dalamnya.

Tanah merah, tanah khas Prince Edward Island. Photo diambil di daerah Taman Victoria, di pagi hari
“Oh tentu saja bisa menulis pesan untuk dia. Silakan tulis di sini. Saat ini juga akan saya antar ke ruangannya. Biasanya sih di sela-sela sidang anggaran, Madame Speaker suka kembali sebentar ke ruangannya. Kalau Anda mau tunggu, siapa tahu malah bisa mengucakpan terima kasih secara langsung kepadanya,” kata si bapak ramah.
Sayangnya waktu kami sungguh terbatas. Maka kami hanya bisa menulis pesan, melipatnya dengan rapi. Si bapak langsung membawanya ke atas, mungkin ke ruang Ibu Ketua.
Esoknya, saya pamer ke dua orang pemilik tempat penginapan. Dengan bangga saya ceritakan bahwa kemarin saya nonton sidang dan sempat berbicara dengan Madame Speaker yang kesohor itu.
Namun, dengarlah apa jawab sepasang suami istri warga negara Inggris yang sebentar lagi juga akan mendapatkan kewarganegaraan Kanada itu.
“Iya, para pemimpin negara dan wakil rakyat di sini memang seperti itu. Kami juga pernah kaget setengah mati. Sedang berkunjung di ibukota, melihat-lihat suasana gedung pemerintahan, di lorong sebuah gedung kami bertabrakan dengan seorang laki-laki. Kami angkat kepala untuk minta maaf. Coba tebak siapa dia? Perdana Menteri Kanada, Mr. Harper! Bisa kamu bayangkan betapa kagetnya kami, telah menabrak Pak Perdana Menteri!”
Begitu cerita sang istri. Menurutnya, Pak Perdana Menteri tak marah atau tersinggung sama sekali, malah menyapa ramah dan sedikit berbasa-basi. Wah!!!!
Bagi saya, bukan soal bertemu dengan wakil rakyat (atau bahkan pemimpin pemerintahan dalam kasus si pemilik penginapan) itu yang membuat terkagum-kagum, tapi soal betapa merakyatnya mereka-mereka itu. Mungkin inikah yang disebut wakil rakyat, dari dan untuk rakyat?????