***bingung.com***
“Aku tertarik nih ikutan gabung di “shimin dantai” (organisasi kemasyarakatan). Kenalin dong yang OK, yang bener-bener membantu masyarakat, yang gak terlalu menyita banyak waktu, gak sampe ngganggu jadwal weekend, gak pake rapat malam hari.”
Saya belum sempat menjawab pertanyaan di atas, tapi si penanya langsung menembakkan pertanyaan berikut.
“Eh, ngomong-ngomong bayarannya berapa sih Mbak, kalo mbantu-mbantu di organisasi kayak gitu? Kalo mesti kerja di weekend dapet honor ekstra kan?”
Arggggggghhhhhhhhh…saya jadi melongo saja. Bingung dotcom.
Mungkin gara-gara Perdana Menteri Jepang yang baru, Naoto Kan, dulu memulai karirnya (kalau ini memang bisa disebut karir!) dari gerakan grass-root, aktif di organisasi kemasyarakatan lokal, akhir-akhir ini sering sekali kita dengar istilah “organisasi kemasyarakatan” disebut sana sini.
Naoto Kan dibandingkan, lalu didudukkan sama tinggi dengan Barack Obama, yang juga memulai langkahnya di masyarakat lokal, menjadi community organizer. Kalau ingatan saya tak salah, pendapatan Obama waktu itu tak lebih dari US$ 12.000 setahun (pernah baca di bukunya “Dreams From My Father”. Ini juga lagi-lagi kalau ingatan saya tak salah lho).
Read the rest of this entry »
“Elok-san, kamu sebenarnya orang mana sih? Orang Jepang?”
Dua anak tetangga bertanya, kelas 4 dan 2 SD. Dua-duanya perempuan. Suatu sore hari, minggu lalu. Di depan rumah. Saya sedang membuka kotak surat, mengambil koran harian dan beberapa surat.
“Bukan orang Jepang, orang Indonesia. Kenapa?” jawab saya.
Saya dan dua anak itu sudah akrab. Sore hari mereka dan beberapa anak dari kompleks sekitar suka bermain di halaman depan. Saya kadang main bulutangkis dengan mereka, lempar-lemparan bola, atau hanya sekedar mengobrol sambil berdiri (sebab tak ada kursi di halaman, kecuali ketika mereka sedang pesta atau piknik di sana).
“Kemarin aku tiba-tiba kepikiran aja. Dari dulu kita kan selalu ngobrol pake bahasa Jepang, tapi kalo dipikir-pikir kamu dan suami kan bukan orang Jepang? Makanya jadi bingung….” jawab yang kelas 2 SD sambil bersender pada seruas kayu tempat kotak surat tertempel.
Benar sekali! Sejak dia masih TK kami sudah sering ngobrol, tentu saja dalam bahasa Jepang. Dan baru pertama kali ini dia menanyakan “identitas” saya, asal usul saya..
Pernahkah Anda mencoba berpikir, kapankah anak-anak usia dini mulai bisa mempertanyakan identitas kewarganegaraan, asal usul daerah, atau identitas berdasarkan ras?
“Ibu, Tuhan pernah menjawab doamu?”
Seorang anak perempuan dengan rambut pirang sebahu, saya perkirakan umurnya 7 atau 8 tahun. Bertanya polos kepada ibunya yang sama seperti saya dan banyak pengunjung lainnya, sedang mencari-cari kartu ucapan Hari Ibu yang tepat. Di sebuah toko Hallmark di Madison, Wisconsin-Amerika.
Terjadi dua hari menjelang peringatan Hari Ibu yang jatuh pada hari Minggu, 9 Mei 2010. Di bagian “Mother’s Day”, ratusan kartu (mungkin sebetulnya ribuan?) dengan berbagai macam ucapan untuk ibu dipajang di beberapa rak. Di depannya, banyak sekali orang berdiri, melihat-lihat, memilah-milah, dan memilih-milih.
Beberapa dari orang itu tersenyum, menoleh, mencoba mencari sumber suara dan pemilik pertanyaan polos itu. Si anak yang berdiri tak jauh dari saya asyik masyuk menatap sebuah kartu di rak khusus untuk kartu ucapan bertema religi.
Dari tempat saya berdiri, tak jelas apa tulisan di kartu itu. Yang pasti, berbau keagamaan. Barangkali, karena itulah si anak lalu bertanya ke ibunya, “Tuhan pernah menjawab doamu?”
Makam Soekarno, proklamator kemerdekaan Indonesia
“Saya tidak punya rasa buruk apa-apa terhadap Amerika. Kita semua adalah manusia dengan tujuan sama, memperoleh kehidupan yang baik. Tugas kita semua untuk menjaga perdamaian.”
Dalam sebuah pesta pernikahan orang Jepang, dengan saya dan suami sebagai satu-satunya orang asing di daftar undangan, seorang bapak Jepang berkata dengan halus ke saya. Saya hanya tersenyum mengangguk, menyetujui dua kalimat terakhirnya.
Saya sangat paham maksud si bapak. Suami saya warga negara Amerika. Jepang pernah dibom atom Amerika dan menjadi satu-satunya negara di dunia yang menjadi korban serangan bom atom. Lalu ia diduduki oleh GHQ setelah kalah perang dalam Perang Dunia II (yang kemudian memberi peluang bagi Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya).
Saya tak tahu usia pasti si bapak Jepang itu, saya perkirakan beliau lahir di awal tahun 1950-an, merasakan pahitnya kehidupan dan kemiskinan di negara yang kalah perang dan harus tunduk pada tentara sekutu.
Beliau juga bukan orang pertama yang mengungkapkan pernyataan serupa. Beberapa kali generasi tua tiba-tiba mengatakan ke saya bahwa Jepang dan Amerika sekarang ini adalah sahabat yang harus bersama-sama membangun perdamaian dunia. Terutama setelah tahu kewarganegaraan suami.
Sebuah sudut di "Kota Terlarang" (The Forbidden City), Beijing
Dulu jika seseorang bisa bahasa Jepang, banyak orang langsung heboh. “Wah, ntar pasti bisa dapat kerjaan bagus tuh!”. Atau, “Hebat euy, pasti masa depan sudah terjamin.”
Jika bepergian di negara Asia, komentar bernada kekaguman mudah sekali didapatkan. Jika bepergian di benua lain selain Asia, orang juga ramai-ramai bertanya tentang kehidupan di Jepang. Harga-harga yang mahal, kenyamanan kota, kecantikan dan ke-eksotis-an alamnya, kemajuan dan kekayaan perusahaan-perusahaan Jepang, peluang membuka bisnis di Jepang, peluang joint-venture dengan perusahaan Jepang, dan seterusnya dan sebagainya.
Sekarang situasi sudah tak sama, terutama sejak dua tahun terakhir. Kawan-kawan saya berbondong-bondong mengirim anak mereka ke kursus bahasa Cina, memanggil guru pribadi ke rumah, memperkenalkan negara Cina sejak usia dini. Seorang kawan dari Haiti yang bersuamikan orang Jepang mengirim anaknya ke sekolah Cina di Yokohama yang bahasa resmi kurikulumnya tentu saja bahasa Cina. Pertimbangannya, bahasa Jepang bisa dipelajari pelan-pelan saja, sambil lalu saja, toh sekarang sedang tinggal di Jepang.
Merawat buku supaya tak menelantarkan ilmu pengetahuan
Ketika membaca artikel “The Joy of Polishing Silver” oleh Susan Orlean di majalah “Country Living” (US edition) bulan November 2009, saya melihat diri saya dalam tulisan Susan. Bedanya, Susan dengan sendok dan perangkat makannya, saya dengan rak buku saya.
Susan, yang juga seorang penulis di “The New Yorker”, menceritakan bagaimana awalnya dia tak pernah peduli dengan perangkat makannya. Tak biasa menyediakan waktu dan perhatian khusus untuk merawat mereka. Membersihkan seadanya, jika kotor langsung dibuang atau dialihkan fungsinya. Jika semua nampak kotor, cari lagi yang baru.
Lalu neneknya meninggal dunia dan tiba-tiba Susan mewarisi koleksi perangkat makannya, perak, lebih dari 100 buah yang tersimpan dengan rapi, dan terawat sangat bersih. Kakek dan neneknya mendapatkan perangkat itu sebagai hadiah pernikahan di tahun 1920, ketika mereka mengikat janji sehidup semati di Hungaria. Pada tahun 1927 mereka berimigrasi ke Mexico, lalu delapan tahun kemudian pindah ke Amerika, tepatnya ke Ohio.
Perangkat makan itu selalu mereka bawa, kenangan dan warisan dari “dunia” lain yang mereka tinggalkan, dunia Eropa Timur awal 1920an, tenggelam oleh dua Perang Dunia, terseret dalam masa Perang Dingin. Hebatnya, ketika Susan mewarisinya, perangkat itu masih bersinar terang, bersih luar biasa, tertata sangat teratur di tempatnya.
Ratusan labu baru saja dipanen, hendak dipajang dan dijual di sebuah pumpkin patch di Wisconsin, AS.
Jangan membayangkan suasana Halloween di Amerika. Tidak ada anak-anak membunyikan bel pintu depan lalu meneriakkan “trick or treat”, menodong permen dari tuan rumah. Tidak ada acara keluarga beramai-ramai ke pumpkin patch yang luas untuk berbelanja berbagai jenis labu. Tidak ada pula kontes menghias, mengukir, mendesain labu yang biasanya meriah oleh kerumunan keluarga, kerabat, dan para tetangga.
Tapi jangan salah sangka! Bukan berarti Anda tidak bisa “merayakan” Halloween di Jepang. Silakan pergi ke toko bunga terdekat, bisa dipastikan seluruh toko sudah berwarna oranye sejak musim panas. Belum lagi supermarket, mall, toko barang anak, hingga butik-butik. Semuanya demam Halloween. Ibu-ibu sibuk memenuhi permintaan anaknya yang merengek minta perhiasan labu. Anak-anak remaja ramai-ramai membeli pernak-pernik Halloween. Toko alat tulis memajang berbagai jenis kartu “Happy Halloween”, berderet-deret di beberapa rak khusus.
Belum lagi di sekolah-sekolah, terutama TK, SD, dan sekolah swasta. Bukan sekolah international atau sekolah asing, yang jika muridnya kebanyakan memang dari sononya sudah merayakan Halloween, tentu wajar-wajar saja mereka punya acara Halloween. Yang saya maksud adalah sekolah asli Jepang, dikelola oleh pemerintah Jepang, atau yayasan swasta Jepang, 90 persen muridnya adalah anak orang Jepang. Banyak sekali sekolah seperti itu yang tak kalah serunya menyambut Halloween. Murid-murid punya acara di mana mereka berdandan menjadi nenek sihir, hantu gentayangan, bajak laut, hingga putri raja. Komplit!
Kisah raja-raja (photo diambil ketika berkunjung ke Keraton Yogyakarta)
Seorang sahabat orang Amerika pernah bertanya ke saya apakah ketika kecil orang tua saya membacakan cerita sebelum tidur. Saya jawab, bukan hanya sebelum tidur! Orang tua, terutama ibu saya, sungguh gemar membacakan cerita, mendongeng tentang kisah Nabi-Nabi, hikayat raja-raja, dan legenda para tokoh sejarah maupun pahlawan bangsa.
Saya balik bertanya ke kawan itu kenapa dia menanyakan soal itu. Dia yang kebetulan saat itu sedang bertugas di Beijing menjelaskan bahwa ada seorang kenalannya di sana, warga setempat, yang bilang ia tak mengerti dengan budaya orang Barat yang suka membacakan cerita ketika menidurkan anak kecil. “Apa fungsinya? Kenapa harus didongengi?” begitu tanya orang itu.
Lalu sahabat saya menanggapi, “Mungkin supaya si anak segera bisa tidur. Memangnya ketika kecil dan kamu tak segera tidur, apa yang biasanya dilakukan orang tuamu?”
Orang itu menjawab singkat, “Hm..mungkin, ayo cepat tidur, kalau tidak..polisi akan datang menangkapmu.” Menurut sahabat saya, orang itu lalu terkekeh-kekeh senang, entah maksudnya serius atau bercanda.
Desa Naganeupseong dari kejauhan
Hari Jumat sore di Kota Suncheon, Korea Selatan, tepatnya di Naganeupseong Folk Village atau desa masyarakat asli tempo dulu. Tawa sekitar 15 penonton meledak, berderai-derai di depan sebuah rumah asli di mana pertunjukkan nyanyian rakyat sedang dilangsungkan. Pasalnya, pertunjukkan tiba-tiba berhenti karena telepon genggam si nenek penyanyi berdering dan dia langsung berhenti menyanyi, mengangkat telpon, dan dengan cueknya mengubah posisi duduk, tadinya bersila takzim, berganti menjadi bersila dengan satu kaki diangkat. Satu tangan memegang HP, tangan yang lain menekur di lutut kaki yang terangkat.
Penonton, termasuk saya, tak bisa menahan tawa melihat kecuekan si nenek yang sebetulnya tengah menjalankan tugas, pekerjaan sehari-harinya sebagai penyanyi lagu rakyat. Maka selama nenek penyanyi bicara di telepon, kami tertawa terbahak-bahak di depan panggung pertunjukkan. Nenek melambaikan tangan sebentar ke arah kami, seakan ingin memberi tanda bahwa ia tak akan lama bicara di HP.
Pentingnya pendidikan pengertian antarbudaya untuk anak-anak dan generasi muda
Menjawab pertanyaan anak-anak usia 8 sampai 10 tahun tentang negara kita, tentu harus memakai bahasa sederhana yang dipahami oleh mereka. Tak bisa terlalu rumit, malah membuat mereka bingung. Juga tak boleh terlalu abstrak, anak-anak akan mengalami kesulitan membayangkan dalam benak mereka. Sebisa mungkin hanya memberikan jawaban positif, lebih mengutamakan banyaknya persamaan daripada banyaknya perbedaan. Menghindari pernyataan yang terlalu negatif dan menjelek-jelekkan kebiasaan budaya lain.
Inilah dua contoh pertanyaan sederhana dari pola pikir kanak-kanak mereka yang selama ini paling banyak saya terima.
1. Apakah di negara Ibu orang-orangnya besar semua, atau kecil semua? Pertanyaan diajukan oleh murid SD umur 8 tahun, laki-laki.
Jawaban saya: tentu saja tidak. Selain saya tergolong pendek di sana, negara saya juga seperti negara lain. Ada yang tinggi besar, sedang-sedang saja, atau yang pendek. Waktu kecil saya tak terlalu suka minum susu dan benci sekali sayuran, mungkin karena pasokan makan yang tak seimbang ya.
Reaksi si anak: manggut-manggut dan terus menerus menatap saya dan seorang kawan secara bergantian. Kawan ini kebetulan tingginya sekitar 195 cm, bisa Anda bayangkan “keserasian” antara saya dan dia ketika kami berdiri di depan kelas di sebuah SD bersama-sama. Tentu merupakan “pemandangan” menarik bagi murid kelas 2 SD.