“Sorry, suami dan anak kami menunggu di hotel. Mesti buru-buru.” “Anak dia menangis di hotel, harus segera pulang.” “Lagi menunggu suami, 2 menit lagi mereka datang.”
Bulan Februari lalu, seminggu di Istanbul saya dan sahabat orang Korea puluhan kali berbohong seperti di atas.
Modus operandi: berpura-pura menunggu atau sedang ditunggu suami dan anak. Motif: “Menyelamatkan diri” dari tindakan usil para lelaki.
Turki masih diselimuti musim dingin. Kami berbaju tebal. Jas panjang dan syal menutup leher setiap hari. Kaos tangan juga. Kaki apalagi, tertutup sepenuhnya. Sexy? Barangkali, kalau Anda melihatnya pakai sedotan dari The Empire State Building di New York!
Tapi kami “hanya” dua perempuan saja, tak ada laki-laki di “kontingen” kami. Hari pertama langsung mendapat pelajaran berharga. Ditanya karyawan restoran (laki-laki) menjawab dengan jujur kalau kami hanya berdua.
Read the rest of this entry »
Terburu-buru. Dompet terbuka di depan mesin otomatis untuk beli tiket kereta. Tiket terbeli. Uang kembalian keluar. Masukkan ke dompet. Kuitansi keluar, belum sempat mengambil.
Mesin berdering mengingatkan. Dua orang antri di belakang. Tangan menyenggol dompet. Uang receh berjatuhan. Mesin berdering lebih keras lagi, mengingatkan untuk segera ambil kuitansi yang masih nempel di mesin.
“Iya iya, diam bentar kenapa sih….duh…berisik amat nih mesin,” tak sengaja menggerutu. Antrian bertambah dua orang.
“Tenang saja, gak perlu buru-buru kok. Mesinnya jangan dimarahi.” Seseorang dengan tongkat, kawan saya, mengingatkan. “Mesin ini dibuat bersuara ada tujuannya. Untuk orang yang tak bisa melihat seperti saya, misalnya.”
***bingung.com***
“Aku tertarik nih ikutan gabung di “shimin dantai” (organisasi kemasyarakatan). Kenalin dong yang OK, yang bener-bener membantu masyarakat, yang gak terlalu menyita banyak waktu, gak sampe ngganggu jadwal weekend, gak pake rapat malam hari.”
Saya belum sempat menjawab pertanyaan di atas, tapi si penanya langsung menembakkan pertanyaan berikut.
“Eh, ngomong-ngomong bayarannya berapa sih Mbak, kalo mbantu-mbantu di organisasi kayak gitu? Kalo mesti kerja di weekend dapet honor ekstra kan?”
Arggggggghhhhhhhhh…saya jadi melongo saja. Bingung dotcom.
Mungkin gara-gara Perdana Menteri Jepang yang baru, Naoto Kan, dulu memulai karirnya (kalau ini memang bisa disebut karir!) dari gerakan grass-root, aktif di organisasi kemasyarakatan lokal, akhir-akhir ini sering sekali kita dengar istilah “organisasi kemasyarakatan” disebut sana sini.
Naoto Kan dibandingkan, lalu didudukkan sama tinggi dengan Barack Obama, yang juga memulai langkahnya di masyarakat lokal, menjadi community organizer. Kalau ingatan saya tak salah, pendapatan Obama waktu itu tak lebih dari US$ 12.000 setahun (pernah baca di bukunya “Dreams From My Father”. Ini juga lagi-lagi kalau ingatan saya tak salah lho).
Inilah pohon itu! Photo diambil di musim semi tahun ini, ketika mawar sedang mekar penuh.
Di depan rumah mantan host family saya jaman AFS dulu ada sebatang pohon bunga mawar. Kira kira dua meter tingginya. Musim semi lalu di tengah kunjungan rutin saya, ibu menjelaskan.
“Pohon ini awalnya cuma satu atau dua tangkai mawar pemberian X. Sebelum pulang ke negaranya, dia memberiku mawar itu, sekedar tanda terima kasih katanya. Dulunya aku tanam di pot kecil, tapi lihatlah betapa tingginya dia sekarang.”
“Si X temenku di Facebook Ma, ntar aku tunjukkan photo ini ke dia. Boleh kan?,” kata saya meminta ijin untuk memotret pohon dan mawar yang berkembang. Ibu mengangguk senang.
Dua bulan berlalu. Saya lupa memasang photo itu di Facebook. Entah kenapa.
Hingga beberapa hari lalu. Saya berkomentar di wall dia soal bunga mawar itu, betapa ibu “Jepang” kami masih merawatnya dengan baik. Si X sangat terharu dan langsung memasang komentar saya di statusnya. Saya pun mendapatkan ucapan terima kasih luar biasa. Nampaknya si X benar-benar terharu mendengarnya.
Malam hari setelah sampai di rumah, langsung saya pasang photo itu di wall si X, supaya dia bisa melihatnya secara langsung. Kami pun bernostalgia di Facebook, saling memandang sebatang pohon mawar, mengingat yang baik-baik dari pertemuan kami di Jepang, ketika si X juga sedang menuntut ilmu dan tinggal di rumah host family itu.
“Elok-san, kamu sebenarnya orang mana sih? Orang Jepang?”
Dua anak tetangga bertanya, kelas 4 dan 2 SD. Dua-duanya perempuan. Suatu sore hari, minggu lalu. Di depan rumah. Saya sedang membuka kotak surat, mengambil koran harian dan beberapa surat.
“Bukan orang Jepang, orang Indonesia. Kenapa?” jawab saya.
Saya dan dua anak itu sudah akrab. Sore hari mereka dan beberapa anak dari kompleks sekitar suka bermain di halaman depan. Saya kadang main bulutangkis dengan mereka, lempar-lemparan bola, atau hanya sekedar mengobrol sambil berdiri (sebab tak ada kursi di halaman, kecuali ketika mereka sedang pesta atau piknik di sana).
“Kemarin aku tiba-tiba kepikiran aja. Dari dulu kita kan selalu ngobrol pake bahasa Jepang, tapi kalo dipikir-pikir kamu dan suami kan bukan orang Jepang? Makanya jadi bingung….” jawab yang kelas 2 SD sambil bersender pada seruas kayu tempat kotak surat tertempel.
Benar sekali! Sejak dia masih TK kami sudah sering ngobrol, tentu saja dalam bahasa Jepang. Dan baru pertama kali ini dia menanyakan “identitas” saya, asal usul saya..
Pernahkah Anda mencoba berpikir, kapankah anak-anak usia dini mulai bisa mempertanyakan identitas kewarganegaraan, asal usul daerah, atau identitas berdasarkan ras?
“Ibu, Tuhan pernah menjawab doamu?”
Seorang anak perempuan dengan rambut pirang sebahu, saya perkirakan umurnya 7 atau 8 tahun. Bertanya polos kepada ibunya yang sama seperti saya dan banyak pengunjung lainnya, sedang mencari-cari kartu ucapan Hari Ibu yang tepat. Di sebuah toko Hallmark di Madison, Wisconsin-Amerika.
Terjadi dua hari menjelang peringatan Hari Ibu yang jatuh pada hari Minggu, 9 Mei 2010. Di bagian “Mother’s Day”, ratusan kartu (mungkin sebetulnya ribuan?) dengan berbagai macam ucapan untuk ibu dipajang di beberapa rak. Di depannya, banyak sekali orang berdiri, melihat-lihat, memilah-milah, dan memilih-milih.
Beberapa dari orang itu tersenyum, menoleh, mencoba mencari sumber suara dan pemilik pertanyaan polos itu. Si anak yang berdiri tak jauh dari saya asyik masyuk menatap sebuah kartu di rak khusus untuk kartu ucapan bertema religi.
Dari tempat saya berdiri, tak jelas apa tulisan di kartu itu. Yang pasti, berbau keagamaan. Barangkali, karena itulah si anak lalu bertanya ke ibunya, “Tuhan pernah menjawab doamu?”
Pagi hari seperti biasa. Di pelataran parkir sepeda dekat stasiun, sepeda berjejer-jejer, para pemiliknya berangkat bekerja
Jet lag tak kunjung sembuh total. Kadang kepala masih pening, sebab tengah malam masih sering terbangun.
Printer rusak. Oke, jangan panik! Coba bersihkan dulu, ganti tinta dengan yang baru. Sip, coba lagi. Masih tak bergerak. Sabar, coba lagi. Masih sama. Satu jam berlalu. Naskah laporan dan pidato yang baru saja direvisi oleh beberapa staff tak dapat di-print. Baiklah, besok akan berangkat ke Kantor Kota lebih awal, supaya bisa dapat naskah itu dari staff lebih awal.
Pindah ke tugas lain. Selesai. Waktunya tidur.
Pagi hari. Pergi ke stasiun lebih awal. Di tengah jalan baru ingat, harus membawa stempel pribadi. Balik lagi ke rumah. Beberapa tetangga menyapa ramah. Senyum manis, jangan panik.
Sampai di stasiun, ratusan orang “terbengkalai” di stasiun. Mungkin mencapai ribuan, sebab dua stasiun saling berdekatan satu sama lain. Ada kecelakaan, orang bunuh diri, terjun di jalur kereta. Jadwal kereta pun kacau balau. Hanya beberapa yang berjalan, dengan kecepatan bagaikan keong. Pelan sekali.
Melirik HP, untuk melihat jam. Tak apa-apa, toh tadi sengaja berangkat lebih awal. Berdiri berdesak-desakkan, menunggu kereta. Seorang bapak tua (sangat tua, mungkin sekitar 80-an) bertanya jalur kereta. Saya menjawab, meskipun tak ditanyai. Sebab laki-laki muda yang dia tanyai, tak kunjung menjawab. Hanya menatap bapak tua itu dengan beku. Mungkin laki-laki muda itu kalut oleh jadwal yang kacau balau. Read the rest of this entry »
Saya sedang berdiri memandangi deretan majalah gosip artis di bagian majalah impor, toko buku Kinokuniya. Berpikir, sebaiknya beli “People” atau “Us”.
“Maaf, sekarang jam berapa ya?”
Suara laki-laki muda di belakang saya. Setelah menoleh, tahulah saya dia sedang bertanya ke perempuan muda berdiri di sebelahnya. Si perempuan tak langsung menjawab, mengernyitkan dahi. Saya juga langsung mengernyitkan dahi. Di tangan kanan laki-laki itu, bertenggerlah jam tangan berkilau, nampak barang mahal. Di tangan yang lain dia menenteng majalah sepakbola.
Saya perhatikan raut muka si laki-laki, sambil pura-pura membuka-buka gambar artis Hollywood. Mukanya merah padam. Pahamlah saya seketika! Olala, dia sedang “ngecengin” si perempuan muda memakai rok biru muda itu.
“Jam Anda rusak?” jawab si perempuan dengan nada ketus, tak berperasaan. Aduh….muka saya langsung saya tutupi dengan majalah “People”, untuk menahan jeritan simpati (mungkin juga sedikit tawa?).
Terus terang, saya sudah sering kagok kalau harus memulai percakapan dengan orang tak dikenal dalam perjalanan. Waktu kecil, orang tua selalu mengingatkan untuk ramah dan sopan kepada siapa saja, terutama ketika bepergian. Saya pun sering menyaksikan secara langsung bagaimana bapak dan ibu dengan luwesnya bercakap-cakap dengan orang sekitar.
Saya sering menjadikan “jaman” sebagai kambing hitam. “Jaman sekarang sudah bedalah”. Tengok saja di ruang tunggu stasiun atau bandara. Calon penumpang sibuk memencet keyboard laptop, bicara di telepon, meng-update status di Twitter dan Facebook “I’m @ the………” (sok yakin bahwa orang lain butuh info itu). Di ruang tunggu, jika mata cukup jeli, Anda pasti bisa menemukan meeting-meeting penting sedang diadakan, lewat chatting, skype, atau telpon biasa.
Nah, bagaimana saya harus memulai percakapan dalam situasi seperti itu? Apalagi saya sendiri sering menjadi “pelaku utama” kejadian di atas. Di dalam kendaraan pun teknologi sudah siap menghibur kita. Layar-layar TV untuk setiap penumpang, radio, puluhan channel musik, majalah dan koran dengan pilihan aneka warna.
Bulan ini genap satu tahun sejak saya mulai menulis di blog ini. Berkat kebaikan hati seorang kawan lama waktu kuliah di Yogya, yang kukuh menyarankan saya untuk menyalurkan hobi menulis di blog, yang lalu membuatkan blog ini dengan sukarela.
Terima kasih banyak, kawan! Semoga kebahagiaan & kesehatan selalu dilimpahkan kepadamu & istri sekeluarga. Dan semoga anak-anakmu yang lucu tumbuh sehat, kuat, dan riang gembira!