Terburu-buru. Dompet terbuka di depan mesin otomatis untuk beli tiket kereta. Tiket terbeli. Uang kembalian keluar. Masukkan ke dompet. Kuitansi keluar, belum sempat mengambil.
Mesin berdering mengingatkan. Dua orang antri di belakang. Tangan menyenggol dompet. Uang receh berjatuhan. Mesin berdering lebih keras lagi, mengingatkan untuk segera ambil kuitansi yang masih nempel di mesin.
“Iya iya, diam bentar kenapa sih….duh…berisik amat nih mesin,” tak sengaja menggerutu. Antrian bertambah dua orang.
“Tenang saja, gak perlu buru-buru kok. Mesinnya jangan dimarahi.” Seseorang dengan tongkat, kawan saya, mengingatkan. “Mesin ini dibuat bersuara ada tujuannya. Untuk orang yang tak bisa melihat seperti saya, misalnya.”
Read the rest of this entry »
“A, ayo kita main bareng,” ajak si B, anak laki-laki teman, umur 3 tahun. “Gak mau,” jawab si A pendek, sambil tetap berbaring di tenda. Kami sedang pesta barbecue di pinggir pantai, daerah Taman Kasai Rinkai, Tokyo. Hari Sabtu awal Agustus ini.
“Ayo dong main,” si B ngotot. “Gak mau, pergi sana,” si A tak bergeming. Dia juga anak laki-laki umur 3 tahun.
Bruukkkkk! Si B tiba-tiba lompat di atas si A. Tenda kecil yang memang disediakan untuk anak-anak itu pun langsung bergoyang ke kanan dan ke kiri, mereka berusaha saling memukul. Si A marah, merasa kenyamanannya diganggu. Si B jengkel, merasa dicuekkin.
Orang tua si A dan si B hanya memandangi dari tenda sebelah. Tapi ayah-ayah mereka berdiri penuh kesiagaan. Jika perkelahian dua anak itu menjadi terlalu berlebihan dan berbahaya, barulah mereka turun tangan.
Tenda terus bergerak, makin lama makin keras. si A dan B berkejaran, berusaha saling mencakar satu sama lain. Ketika A hendak menjambak rambut B, ayahnya langsung berlari menghentikan. Ayah B juga segera membantu melerai pertikaian.
***bingung.com***
“Aku tertarik nih ikutan gabung di “shimin dantai” (organisasi kemasyarakatan). Kenalin dong yang OK, yang bener-bener membantu masyarakat, yang gak terlalu menyita banyak waktu, gak sampe ngganggu jadwal weekend, gak pake rapat malam hari.”
Saya belum sempat menjawab pertanyaan di atas, tapi si penanya langsung menembakkan pertanyaan berikut.
“Eh, ngomong-ngomong bayarannya berapa sih Mbak, kalo mbantu-mbantu di organisasi kayak gitu? Kalo mesti kerja di weekend dapet honor ekstra kan?”
Arggggggghhhhhhhhh…saya jadi melongo saja. Bingung dotcom.
Mungkin gara-gara Perdana Menteri Jepang yang baru, Naoto Kan, dulu memulai karirnya (kalau ini memang bisa disebut karir!) dari gerakan grass-root, aktif di organisasi kemasyarakatan lokal, akhir-akhir ini sering sekali kita dengar istilah “organisasi kemasyarakatan” disebut sana sini.
Naoto Kan dibandingkan, lalu didudukkan sama tinggi dengan Barack Obama, yang juga memulai langkahnya di masyarakat lokal, menjadi community organizer. Kalau ingatan saya tak salah, pendapatan Obama waktu itu tak lebih dari US$ 12.000 setahun (pernah baca di bukunya “Dreams From My Father”. Ini juga lagi-lagi kalau ingatan saya tak salah lho).
Inilah pohon itu! Photo diambil di musim semi tahun ini, ketika mawar sedang mekar penuh.
Di depan rumah mantan host family saya jaman AFS dulu ada sebatang pohon bunga mawar. Kira kira dua meter tingginya. Musim semi lalu di tengah kunjungan rutin saya, ibu menjelaskan.
“Pohon ini awalnya cuma satu atau dua tangkai mawar pemberian X. Sebelum pulang ke negaranya, dia memberiku mawar itu, sekedar tanda terima kasih katanya. Dulunya aku tanam di pot kecil, tapi lihatlah betapa tingginya dia sekarang.”
“Si X temenku di Facebook Ma, ntar aku tunjukkan photo ini ke dia. Boleh kan?,” kata saya meminta ijin untuk memotret pohon dan mawar yang berkembang. Ibu mengangguk senang.
Dua bulan berlalu. Saya lupa memasang photo itu di Facebook. Entah kenapa.
Hingga beberapa hari lalu. Saya berkomentar di wall dia soal bunga mawar itu, betapa ibu “Jepang” kami masih merawatnya dengan baik. Si X sangat terharu dan langsung memasang komentar saya di statusnya. Saya pun mendapatkan ucapan terima kasih luar biasa. Nampaknya si X benar-benar terharu mendengarnya.
Malam hari setelah sampai di rumah, langsung saya pasang photo itu di wall si X, supaya dia bisa melihatnya secara langsung. Kami pun bernostalgia di Facebook, saling memandang sebatang pohon mawar, mengingat yang baik-baik dari pertemuan kami di Jepang, ketika si X juga sedang menuntut ilmu dan tinggal di rumah host family itu.
Berita gembira buat yang pengen selalu tampil lebih muda dari umur yang sebenarnya. Yang sering “syirik” sama orang Jepang, sebab kebanyakan dari mereka selalu kelihatan (jauh) lebih muda dari umur aslinya.
“Tenkyu pujiannya. Tapi wajah muda ini sering bikin masalah kalo ada rapat penting dengan para senior atau petinggi organisasi. Tahu sendiri kan, biasanya kalo penampilan berwibawa dan kelihatan sudah “senior”, otomatis akan dianggap sudah senior, lebih berpengalaman, dan biasanya omongannya lebih didengarkan. Muka muda begini lebih sering dianggap “anak bawang”, bau kencur kemarin sore. Padahal sebenarnya sudah cukup umur dan sudah hampir dua dekade bekerja di bidang ini,” kata seorang rekan Jepang yang bekerja di sebuah organisasi kelas dunia, berpangkat “tukang abdi dunia”.
“Betul-betul! Aku juga begitu. Kadang ngerasa “divonis” sebagai “anak bau kencur” dari penampilan baby face-ku. Padahal pengalaman sudah lumayan. Mau gimana lagi, ini DNA Jepangku kali ya,” sahut seorang rekan lain, yang bekerja di sebuah organisasi dunia lainnya, yang biasanya identik dengan perkumpulan Davos.
“Elok-san, kamu sebenarnya orang mana sih? Orang Jepang?”
Dua anak tetangga bertanya, kelas 4 dan 2 SD. Dua-duanya perempuan. Suatu sore hari, minggu lalu. Di depan rumah. Saya sedang membuka kotak surat, mengambil koran harian dan beberapa surat.
“Bukan orang Jepang, orang Indonesia. Kenapa?” jawab saya.
Saya dan dua anak itu sudah akrab. Sore hari mereka dan beberapa anak dari kompleks sekitar suka bermain di halaman depan. Saya kadang main bulutangkis dengan mereka, lempar-lemparan bola, atau hanya sekedar mengobrol sambil berdiri (sebab tak ada kursi di halaman, kecuali ketika mereka sedang pesta atau piknik di sana).
“Kemarin aku tiba-tiba kepikiran aja. Dari dulu kita kan selalu ngobrol pake bahasa Jepang, tapi kalo dipikir-pikir kamu dan suami kan bukan orang Jepang? Makanya jadi bingung….” jawab yang kelas 2 SD sambil bersender pada seruas kayu tempat kotak surat tertempel.
Benar sekali! Sejak dia masih TK kami sudah sering ngobrol, tentu saja dalam bahasa Jepang. Dan baru pertama kali ini dia menanyakan “identitas” saya, asal usul saya..
Pernahkah Anda mencoba berpikir, kapankah anak-anak usia dini mulai bisa mempertanyakan identitas kewarganegaraan, asal usul daerah, atau identitas berdasarkan ras?
Tanda "Dilarang Parkir Sepeda" di dekat Stasiun Shin-Kawasaki, Saiwai-ku, Kawasaki. Lokasi photo ini tidak ada hubungan dengan lokasi kejadian di tulisan blog ini. Kebetulan saya sedang ada di sana dan tertarik untuk memotretnya.
Sepeda saya pembuat onar! Sering membuat pusing tujuh keliling. Kadang juga membuat saya dapat ceramah gratis dari beberapa petugas, swasta dan pemerintah, yang dapat gaji maupun para tenaga sukarela. Belum lagi harus ngos-ngoson, putar ke kiri dan ke kanan, kadang sengaja menyiapkan waktu 30 menit untuk si sepeda.
Murah dan menyehatkan, minimal untuk otot kaki. Ramah lingkungan dan tidak mengeluarkan gas emisi. Sempurna, bukan?
Dan saya ingin selalu mematuhi peraturan parkir yang sudah ditetapkan. Tak boleh sembarangan parkir sepeda, maka di pagi hari saya selalu memarkir sepeda di tempat yang sudah ditetapkan, di dekat stasiun kereta terdekat. Harus membayar, tentu saja. Ada sistem kontrak bulanan, atau bisa juga harian. Tak masalah! Para petugas di tempat parkir itu pun sudah saya anggap teman. Saling menyapa, kadang bertukar cerita beberapa saat ketika waktu sama-sama memungkinkan.
Yang jadi masalah adalah jika saya harus pergi ke tempat lain. Pernah pergi ke bank. Cuaca cerah, pas untuk mengayuh sepeda sambil menikmati hembusan udara di sepanjang Sungai Tamagawa. Niatnya hanya mau transfer uang, 5 menit pasti selesai. Tapi tak ada tempat parkir sama sekali. Bank itu nampaknya tak punya ide sama sekali bahwa akan ada nasabah yang datang dengan sepeda???
Seorang bapak, petugas penertib parkir, berdiri tegak di depan gedung di dekat bank (sebetulnya bank itu ada di dalam kawasan gedung itu juga, lantai pertama). Saya tahu siapa pun dilarang parkir di sekitar gedung itu, maka saya bertanya ke bapak itu, dimana ada tempat parkir. Mengikuti petunjuk, saya kayuh sepeda ke tempat parkir, dengan ongkos 150 yen satu kali parkir.
Pagi hari seperti biasa. Di pelataran parkir sepeda dekat stasiun, sepeda berjejer-jejer, para pemiliknya berangkat bekerja
Jet lag tak kunjung sembuh total. Kadang kepala masih pening, sebab tengah malam masih sering terbangun.
Printer rusak. Oke, jangan panik! Coba bersihkan dulu, ganti tinta dengan yang baru. Sip, coba lagi. Masih tak bergerak. Sabar, coba lagi. Masih sama. Satu jam berlalu. Naskah laporan dan pidato yang baru saja direvisi oleh beberapa staff tak dapat di-print. Baiklah, besok akan berangkat ke Kantor Kota lebih awal, supaya bisa dapat naskah itu dari staff lebih awal.
Pindah ke tugas lain. Selesai. Waktunya tidur.
Pagi hari. Pergi ke stasiun lebih awal. Di tengah jalan baru ingat, harus membawa stempel pribadi. Balik lagi ke rumah. Beberapa tetangga menyapa ramah. Senyum manis, jangan panik.
Sampai di stasiun, ratusan orang “terbengkalai” di stasiun. Mungkin mencapai ribuan, sebab dua stasiun saling berdekatan satu sama lain. Ada kecelakaan, orang bunuh diri, terjun di jalur kereta. Jadwal kereta pun kacau balau. Hanya beberapa yang berjalan, dengan kecepatan bagaikan keong. Pelan sekali.
Melirik HP, untuk melihat jam. Tak apa-apa, toh tadi sengaja berangkat lebih awal. Berdiri berdesak-desakkan, menunggu kereta. Seorang bapak tua (sangat tua, mungkin sekitar 80-an) bertanya jalur kereta. Saya menjawab, meskipun tak ditanyai. Sebab laki-laki muda yang dia tanyai, tak kunjung menjawab. Hanya menatap bapak tua itu dengan beku. Mungkin laki-laki muda itu kalut oleh jadwal yang kacau balau. Read the rest of this entry »
Makam Soekarno, proklamator kemerdekaan Indonesia
“Saya tidak punya rasa buruk apa-apa terhadap Amerika. Kita semua adalah manusia dengan tujuan sama, memperoleh kehidupan yang baik. Tugas kita semua untuk menjaga perdamaian.”
Dalam sebuah pesta pernikahan orang Jepang, dengan saya dan suami sebagai satu-satunya orang asing di daftar undangan, seorang bapak Jepang berkata dengan halus ke saya. Saya hanya tersenyum mengangguk, menyetujui dua kalimat terakhirnya.
Saya sangat paham maksud si bapak. Suami saya warga negara Amerika. Jepang pernah dibom atom Amerika dan menjadi satu-satunya negara di dunia yang menjadi korban serangan bom atom. Lalu ia diduduki oleh GHQ setelah kalah perang dalam Perang Dunia II (yang kemudian memberi peluang bagi Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya).
Saya tak tahu usia pasti si bapak Jepang itu, saya perkirakan beliau lahir di awal tahun 1950-an, merasakan pahitnya kehidupan dan kemiskinan di negara yang kalah perang dan harus tunduk pada tentara sekutu.
Beliau juga bukan orang pertama yang mengungkapkan pernyataan serupa. Beberapa kali generasi tua tiba-tiba mengatakan ke saya bahwa Jepang dan Amerika sekarang ini adalah sahabat yang harus bersama-sama membangun perdamaian dunia. Terutama setelah tahu kewarganegaraan suami.
Saya sedang berdiri memandangi deretan majalah gosip artis di bagian majalah impor, toko buku Kinokuniya. Berpikir, sebaiknya beli “People” atau “Us”.
“Maaf, sekarang jam berapa ya?”
Suara laki-laki muda di belakang saya. Setelah menoleh, tahulah saya dia sedang bertanya ke perempuan muda berdiri di sebelahnya. Si perempuan tak langsung menjawab, mengernyitkan dahi. Saya juga langsung mengernyitkan dahi. Di tangan kanan laki-laki itu, bertenggerlah jam tangan berkilau, nampak barang mahal. Di tangan yang lain dia menenteng majalah sepakbola.
Saya perhatikan raut muka si laki-laki, sambil pura-pura membuka-buka gambar artis Hollywood. Mukanya merah padam. Pahamlah saya seketika! Olala, dia sedang “ngecengin” si perempuan muda memakai rok biru muda itu.
“Jam Anda rusak?” jawab si perempuan dengan nada ketus, tak berperasaan. Aduh….muka saya langsung saya tutupi dengan majalah “People”, untuk menahan jeritan simpati (mungkin juga sedikit tawa?).