Terburu-buru. Dompet terbuka di depan mesin otomatis untuk beli tiket kereta. Tiket terbeli. Uang kembalian keluar. Masukkan ke dompet. Kuitansi keluar, belum sempat mengambil.
Mesin berdering mengingatkan. Dua orang antri di belakang. Tangan menyenggol dompet. Uang receh berjatuhan. Mesin berdering lebih keras lagi, mengingatkan untuk segera ambil kuitansi yang masih nempel di mesin.
“Iya iya, diam bentar kenapa sih….duh…berisik amat nih mesin,” tak sengaja menggerutu. Antrian bertambah dua orang.
“Tenang saja, gak perlu buru-buru kok. Mesinnya jangan dimarahi.” Seseorang dengan tongkat, kawan saya, mengingatkan. “Mesin ini dibuat bersuara ada tujuannya. Untuk orang yang tak bisa melihat seperti saya, misalnya.”
Read the rest of this entry »
Inilah pohon itu! Photo diambil di musim semi tahun ini, ketika mawar sedang mekar penuh.
Di depan rumah mantan host family saya jaman AFS dulu ada sebatang pohon bunga mawar. Kira kira dua meter tingginya. Musim semi lalu di tengah kunjungan rutin saya, ibu menjelaskan.
“Pohon ini awalnya cuma satu atau dua tangkai mawar pemberian X. Sebelum pulang ke negaranya, dia memberiku mawar itu, sekedar tanda terima kasih katanya. Dulunya aku tanam di pot kecil, tapi lihatlah betapa tingginya dia sekarang.”
“Si X temenku di Facebook Ma, ntar aku tunjukkan photo ini ke dia. Boleh kan?,” kata saya meminta ijin untuk memotret pohon dan mawar yang berkembang. Ibu mengangguk senang.
Dua bulan berlalu. Saya lupa memasang photo itu di Facebook. Entah kenapa.
Hingga beberapa hari lalu. Saya berkomentar di wall dia soal bunga mawar itu, betapa ibu “Jepang” kami masih merawatnya dengan baik. Si X sangat terharu dan langsung memasang komentar saya di statusnya. Saya pun mendapatkan ucapan terima kasih luar biasa. Nampaknya si X benar-benar terharu mendengarnya.
Malam hari setelah sampai di rumah, langsung saya pasang photo itu di wall si X, supaya dia bisa melihatnya secara langsung. Kami pun bernostalgia di Facebook, saling memandang sebatang pohon mawar, mengingat yang baik-baik dari pertemuan kami di Jepang, ketika si X juga sedang menuntut ilmu dan tinggal di rumah host family itu.
Pagi hari seperti biasa. Di pelataran parkir sepeda dekat stasiun, sepeda berjejer-jejer, para pemiliknya berangkat bekerja
Jet lag tak kunjung sembuh total. Kadang kepala masih pening, sebab tengah malam masih sering terbangun.
Printer rusak. Oke, jangan panik! Coba bersihkan dulu, ganti tinta dengan yang baru. Sip, coba lagi. Masih tak bergerak. Sabar, coba lagi. Masih sama. Satu jam berlalu. Naskah laporan dan pidato yang baru saja direvisi oleh beberapa staff tak dapat di-print. Baiklah, besok akan berangkat ke Kantor Kota lebih awal, supaya bisa dapat naskah itu dari staff lebih awal.
Pindah ke tugas lain. Selesai. Waktunya tidur.
Pagi hari. Pergi ke stasiun lebih awal. Di tengah jalan baru ingat, harus membawa stempel pribadi. Balik lagi ke rumah. Beberapa tetangga menyapa ramah. Senyum manis, jangan panik.
Sampai di stasiun, ratusan orang “terbengkalai” di stasiun. Mungkin mencapai ribuan, sebab dua stasiun saling berdekatan satu sama lain. Ada kecelakaan, orang bunuh diri, terjun di jalur kereta. Jadwal kereta pun kacau balau. Hanya beberapa yang berjalan, dengan kecepatan bagaikan keong. Pelan sekali.
Melirik HP, untuk melihat jam. Tak apa-apa, toh tadi sengaja berangkat lebih awal. Berdiri berdesak-desakkan, menunggu kereta. Seorang bapak tua (sangat tua, mungkin sekitar 80-an) bertanya jalur kereta. Saya menjawab, meskipun tak ditanyai. Sebab laki-laki muda yang dia tanyai, tak kunjung menjawab. Hanya menatap bapak tua itu dengan beku. Mungkin laki-laki muda itu kalut oleh jadwal yang kacau balau. Read the rest of this entry »
Makam Soekarno, proklamator kemerdekaan Indonesia
“Saya tidak punya rasa buruk apa-apa terhadap Amerika. Kita semua adalah manusia dengan tujuan sama, memperoleh kehidupan yang baik. Tugas kita semua untuk menjaga perdamaian.”
Dalam sebuah pesta pernikahan orang Jepang, dengan saya dan suami sebagai satu-satunya orang asing di daftar undangan, seorang bapak Jepang berkata dengan halus ke saya. Saya hanya tersenyum mengangguk, menyetujui dua kalimat terakhirnya.
Saya sangat paham maksud si bapak. Suami saya warga negara Amerika. Jepang pernah dibom atom Amerika dan menjadi satu-satunya negara di dunia yang menjadi korban serangan bom atom. Lalu ia diduduki oleh GHQ setelah kalah perang dalam Perang Dunia II (yang kemudian memberi peluang bagi Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya).
Saya tak tahu usia pasti si bapak Jepang itu, saya perkirakan beliau lahir di awal tahun 1950-an, merasakan pahitnya kehidupan dan kemiskinan di negara yang kalah perang dan harus tunduk pada tentara sekutu.
Beliau juga bukan orang pertama yang mengungkapkan pernyataan serupa. Beberapa kali generasi tua tiba-tiba mengatakan ke saya bahwa Jepang dan Amerika sekarang ini adalah sahabat yang harus bersama-sama membangun perdamaian dunia. Terutama setelah tahu kewarganegaraan suami.
Bulan ini genap satu tahun sejak saya mulai menulis di blog ini. Berkat kebaikan hati seorang kawan lama waktu kuliah di Yogya, yang kukuh menyarankan saya untuk menyalurkan hobi menulis di blog, yang lalu membuatkan blog ini dengan sukarela.
Terima kasih banyak, kawan! Semoga kebahagiaan & kesehatan selalu dilimpahkan kepadamu & istri sekeluarga. Dan semoga anak-anakmu yang lucu tumbuh sehat, kuat, dan riang gembira!
Hari Natal, sekolah dan kantor libur. Di bioskop orang berduyun-duyun datang dengan keluarga, hendak menonton “Sang Pemimpi”, difilmkan dari novel kedua Andrea Hirata.
Di tengah pemutaran film, ketika banyak orang tua sedang terharu melihat perjuangan Ikal, Arai, dan Jimbron yang gigih bekerja serabutan dan menabung untuk melanjutkan pendidikan, terdengarlah celetukan polos dari deretan kursi belakang.
“Ma, kok mereka nabungnya pake uang palsu sih. Kan gak boleh? Ma……kok uang palsu???”
Deg….saya tiba-tiba merasa sudah menjadi “manusia purba”. Lipatan uang lusuh yang dimasukkan Ikal dan Arai ke kotak yang tak kalah lusuh itu tentu saja bukan uang palsu. Lembaran seratus rupiah jaman saya kecil dan remaja dulu, warna merah khas. Dulu inilah uang saku saya, untuk membeli minum atau jajanan di sekolah. Membayar iuran kelas. Juga untuk arisan dan yang lain-lain.
Ibu si anak lalu berbisik-bisik menjelaskan bahwa itu bukan uang palsu, tapi uang yang dipakai di jaman itu.
Saya menoleh ke penjuru ruangan, para orang tua nampak menangis, terharu melihat perjuangan tiga remaja pengejar mimpi. Barangkali banyak yang mengingat masa sulit mereka. Saya termasuk salah satunya, teringat ketika hanya keyakinan bahwa pendidikan harus diperjuangkan semaksimal mungkin-lah yang membuat bertahan ketika uang di rantau semakin menipis.
Tapi saya bertanya-tanya, bisakah anak-anak kecil dan remaja yang sedang menonton itu merasakan “roh” perjuangan “Sang Pemimpi”?
Semoga bagi mereka ini bukan sekedar tontonan aneh dan mengada-ada dari jaman purba. Semoga mereka tak berpikir “mau sekolah aja kok susah amat sih? Masak sih?”
Jalanan menguning di musim gugur. Catatan: photo ini bukan jalan yang dimaksud dalam tulisan di blog, tak ada hubungan dengan seruas jalan di dekat gedung bekas TK
Di anak tangga sebuah bangunan bekas TK. Hanya beberapa langkah dari tempat saya berjalan. Dua remaja berseragam SMA duduk berdampingan, tak terlalu dekat. Sang gadis mukanya lunglai, menatap jalan beraspal yang penuh dengan daun kuning dan merah, rontok dan tersapu oleh angin musim gugur.
“Aku akan selalu mengingatmu, di mana pun aku berada,” kata si lelaki. Saya tinggal dua langkah saja dari mereka, berjalan sambil menatap lurus ke depan, pura-pura tak mendengar apa pun.
“Pasti kamu akan melupakanku. Karena itu kamu ingin putus kan? Sudahlah…..” sahut si gadis lemah, namun suaranya kering oleh rasa marah. Saya sudah berjalan melewati mereka, namun jalanan yang sangat sepi membuat angin “membawa” suara si gadis sampai ke telinga saya.
Lalu saya berbelok, meniti jalanan yang sebenarnya bernuansa sangat romantis di tengah musim gugur. Setelah beberapa langkah, saya berhenti, menunggu mobil-mobil lewat lalu menyeberang ke blok seberang. Namun suara sepeda dan isak tangis di belakang mengejutkan saya. Gadis SMA itu mengayuh sepedanya pelan dengan mata merah oleh air mata. Dia menggigit bibirnya, mungkin untuk menahan rasa pedih supaya air mata berhenti mengalir.
Saya keluarkan sekotak tisu dari tas, lalu saya ulurkan ke si gadis. Saya tak berkata apa-apa, si gadis pun hanya menerima tisu itu, tak berkata apa-apa. Diusapnya mata dan pipinya. Kami berdiri berdampingan menunggu dua truk besar lewat. Lalu jalanan sepi. Si gadis siap mengayuh sepedanya lagi. Dia menoleh ke saya, mengembalikan sisa tisu dan berkata lirih, “Terima kasih.” Matanya masih terus memerah, nampaknya air mata tak bisa dihentikan seketika.
Saya menggelengkan kepala, “Ambil saja semuanya. ” Si gadis patuh, dimasukkan tisu ke tasnya dan dia pun berlalu, mengayuh sepedanya menyusuri jalanan berwarna kuning dan merah, membelah deretan pohon-pohon yang mulai mengering, bersiap menghadapi musim dingin.
Sambil meneruskan perjalanan dan menatap punggung si gadis yang terus menjauh, saya berkata dalam hati, “Menangislah sepuasmu, Dik. Cicipilah patah hati dan kecewa ini, karena ini akan membuatmu tangguh menghadapi patah hati, sakit hati, dan kecewa hati yang lain….yang sayangnya akan banyak kau temui dalam perjalanan ke masa depan.”
Kisah raja-raja (photo diambil ketika berkunjung ke Keraton Yogyakarta)
Seorang sahabat orang Amerika pernah bertanya ke saya apakah ketika kecil orang tua saya membacakan cerita sebelum tidur. Saya jawab, bukan hanya sebelum tidur! Orang tua, terutama ibu saya, sungguh gemar membacakan cerita, mendongeng tentang kisah Nabi-Nabi, hikayat raja-raja, dan legenda para tokoh sejarah maupun pahlawan bangsa.
Saya balik bertanya ke kawan itu kenapa dia menanyakan soal itu. Dia yang kebetulan saat itu sedang bertugas di Beijing menjelaskan bahwa ada seorang kenalannya di sana, warga setempat, yang bilang ia tak mengerti dengan budaya orang Barat yang suka membacakan cerita ketika menidurkan anak kecil. “Apa fungsinya? Kenapa harus didongengi?” begitu tanya orang itu.
Lalu sahabat saya menanggapi, “Mungkin supaya si anak segera bisa tidur. Memangnya ketika kecil dan kamu tak segera tidur, apa yang biasanya dilakukan orang tuamu?”
Orang itu menjawab singkat, “Hm..mungkin, ayo cepat tidur, kalau tidak..polisi akan datang menangkapmu.” Menurut sahabat saya, orang itu lalu terkekeh-kekeh senang, entah maksudnya serius atau bercanda.
"Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya......"
Merdeka! Selamat ulang tahun ke-64 untuk Indonesia tercinta! Dari 64 peringatan, saya telah ikut mengalami 31 di antaranya. Sebagian dari 31 peringatan itu, saya hanya ingat samar-samar atau malah sudah lupa sama sekali. Tapi tak mengapa, jika Tuhan merestui, saya toh setiap tahun masih akan bertemu dengan peringatan baru.
TUJUH PULUH DELAPAN: inilah peringatan dirgahayu bangsa yang pertama bagi saya. Masih bayi ingusan umur 6 bulan. Tak ingat lagi apa yang terjadi. Mungkin ibu saya belepotan mengurus tiga anak kecil di hari kemerdekaan.
DELAPAN PULUH EMPAT: peringatan ke-7 dan upacara hari kemerdekaan pertama di sekolah. Berseragam merah putih yang telah diseterika licin mengkilat, langsung oleh tangan bapak saya. Dasi merah dan topi seragam.
Pentingnya pendidikan pengertian antarbudaya untuk anak-anak dan generasi muda
Menjawab pertanyaan anak-anak usia 8 sampai 10 tahun tentang negara kita, tentu harus memakai bahasa sederhana yang dipahami oleh mereka. Tak bisa terlalu rumit, malah membuat mereka bingung. Juga tak boleh terlalu abstrak, anak-anak akan mengalami kesulitan membayangkan dalam benak mereka. Sebisa mungkin hanya memberikan jawaban positif, lebih mengutamakan banyaknya persamaan daripada banyaknya perbedaan. Menghindari pernyataan yang terlalu negatif dan menjelek-jelekkan kebiasaan budaya lain.
Inilah dua contoh pertanyaan sederhana dari pola pikir kanak-kanak mereka yang selama ini paling banyak saya terima.
1. Apakah di negara Ibu orang-orangnya besar semua, atau kecil semua? Pertanyaan diajukan oleh murid SD umur 8 tahun, laki-laki.
Jawaban saya: tentu saja tidak. Selain saya tergolong pendek di sana, negara saya juga seperti negara lain. Ada yang tinggi besar, sedang-sedang saja, atau yang pendek. Waktu kecil saya tak terlalu suka minum susu dan benci sekali sayuran, mungkin karena pasokan makan yang tak seimbang ya.
Reaksi si anak: manggut-manggut dan terus menerus menatap saya dan seorang kawan secara bergantian. Kawan ini kebetulan tingginya sekitar 195 cm, bisa Anda bayangkan “keserasian” antara saya dan dia ketika kami berdiri di depan kelas di sebuah SD bersama-sama. Tentu merupakan “pemandangan” menarik bagi murid kelas 2 SD.