<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Elok&#039;s Simple Lessons</title>
	<atom:link href="http://elokhalimah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://elokhalimah.com</link>
	<description>Pelajaran Sederhana Dari Kehidupan Sehari-hari di Sana-Sini!  Simple Lessons From Our Daily Life!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Aug 2010 14:08:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kasus Penipuan. Pelaku: Dua Wanita (WNI dan WNA). Korban: Lelaki-Lelaki di Istanbul</title>
		<link>http://elokhalimah.com/kasus-penipuan-pelaku-dua-wanita-wni-dan-wna-korban-lelaki-lelaki-istanbul/</link>
		<comments>http://elokhalimah.com/kasus-penipuan-pelaku-dua-wanita-wni-dan-wna-korban-lelaki-lelaki-istanbul/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 13:54:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elok Halimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa & Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga & Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Dari Orang Tak Dikenal]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elokhalimah.com/kasus-penipuan-pelaku-dua-wanita-wni-dan-wna-korban-lelaki-lelaki-istanbul/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Sorry, suami dan anak kami menunggu di hotel. Mesti buru-buru.&#8221;
&#8220;Anak dia menangis di hotel, harus segera pulang.&#8221;
&#8220;Lagi menunggu suami, 2 menit lagi mereka datang.&#8221;
Bulan Februari lalu, seminggu di Istanbul saya dan sahabat orang Korea puluhan kali berbohong seperti di atas.
Modus operandi: berpura-pura menunggu atau sedang ditunggu suami dan anak.
Motif: &#8220;Menyelamatkan diri&#8221; dari tindakan usil para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Sorry, suami dan anak kami menunggu di hotel. Mesti buru-buru.&#8221;<br />
&#8220;Anak dia menangis di hotel, harus segera pulang.&#8221;<br />
&#8220;Lagi menunggu suami, 2 menit lagi mereka datang.&#8221;</p>
<p>Bulan Februari lalu, seminggu di Istanbul saya dan sahabat orang Korea puluhan kali berbohong seperti di atas.</p>
<p>Modus operandi: berpura-pura menunggu atau sedang ditunggu suami dan anak.<br />
Motif: &#8220;Menyelamatkan diri&#8221; dari tindakan usil para lelaki.</p>
<p>Turki masih diselimuti musim dingin. Kami berbaju tebal.<br />
Jas panjang dan syal menutup leher setiap hari.<br />
Kaos tangan juga. Kaki apalagi, tertutup sepenuhnya.<br />
Sexy? Barangkali, kalau Anda melihatnya pakai sedotan dari The Empire State Building di New York!</p>
<p>Tapi kami &#8220;hanya&#8221; dua perempuan saja, tak ada laki-laki di &#8220;kontingen&#8221; kami.<br />
Hari pertama langsung mendapat pelajaran berharga.<br />
Ditanya karyawan restoran (laki-laki) menjawab dengan jujur kalau kami hanya berdua.</p>
<p><span id="more-1045"></span>Eh, dia nekad mau &#8220;menyuapi&#8221; (meski hanya sekali!) kue manis ke kami.<br />
&#8220;Untuk cicip-cicip, kalau suka silakan beli!&#8221; begitu katanya.<br />
Tentu saja kami menolak. Dengan keras dan tegas!</p>
<p>Pun ketika menyelusuri jalanan di dekat Museum Ayasofya yang kesohor itu.<br />
Sedang asyik memperhatikan peta.<br />
Seorang laki-laki berpenampilan santun menghampiri.<br />
Ramah menjelaskan arah, tapi lalu ngotot mengajak minum kopi.<br />
Sambil membuntuti kami beberapa meter.<br />
&#8220;Sepuluh menit sajalah,&#8221; begitu katanya.</p>
<p>Mengikuti petunjuk beberapa buku panduan dan tips bepergian, kami langsung mengambil tindakan.<br />
&#8220;Sorry, suami dan anak-anak menunggu, kami sudah sangat terlambat.&#8221;<br />
&#8220;Oh, Anda berdua sudah menikah? Punya anak? Maaf,&#8221; jawabnya.<br />
Sambil langsung ngeloyor pergi.</p>
<p>Hari-hari berikutnya, selama perjalanan, kami selalu &#8220;berbohong&#8221;.<br />
&#8220;Self defense&#8221;, kalau menurut teori CSI atau serial defektif lainnya.<br />
Takut, itu pasti! Cemas, tentu saja!<br />
Tapi yang paling membuat kami merasa &#8220;teraniaya&#8221; adalah fakta ini.</p>
<p>Bahwa perempuan berjalan tanpa laki-laki (berbaju sangat tertutup!) bisa di-stop kapan saja, di mana saja.<br />
Tanpa tedeng aling-aling. Diusili, meski kebanyakan hanya secara verbal.</p>
<p>Di atas kapal yang membelah Selat Bhosporus, membawa kami dari Istanbul di bagian Eropa ke Istanbul di bagian Asia, situasi lebih baik.<br />
Sengaja memilih bangku di sebelah rombongan wisata dari Spanyol.<br />
Merasa lega.</p>
<p>Hari terakhir di taksi, menuju ke bandara. &#8220;Berbohong&#8221; terakhir kalinya ke sopir taksi, tentu saja laki-laki.</p>
<p>Mengatakan suami dan anak-anak sudah menunggu di bandara.</p>
<p>Pesawat lepas landas menuju Dubai.<br />
Hati sedih sebab berpisah dengan dua sahabat lama yang tinggal di Istanbul. Tak tahu kapan bisa bertemu lagi.<br />
Namun juga teramat sangat lega, sebab bisa menghentikan tindakan &#8220;penipuan&#8221; kami.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elokhalimah.com/kasus-penipuan-pelaku-dua-wanita-wni-dan-wna-korban-lelaki-lelaki-istanbul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pedagang Es vs Pedagang Payung</title>
		<link>http://elokhalimah.com/pedagang-es-vs-pedagang-payung/</link>
		<comments>http://elokhalimah.com/pedagang-es-vs-pedagang-payung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 02:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elok Halimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa & Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang dan Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga & Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Dari Orang Tak Dikenal]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elokhalimah.com/pedagang-es-vs-pedagang-payung/</guid>
		<description><![CDATA[Terburu-buru. Dompet terbuka di depan mesin otomatis untuk beli tiket kereta.
Tiket terbeli. Uang kembalian keluar. Masukkan ke dompet.
Kuitansi keluar, belum sempat mengambil.
Mesin berdering mengingatkan. Dua orang antri di belakang.
Tangan menyenggol dompet. Uang receh berjatuhan.
Mesin berdering lebih keras lagi, mengingatkan untuk segera ambil kuitansi yang masih nempel di mesin.
&#8220;Iya iya, diam bentar kenapa sih&#8230;.duh&#8230;berisik amat nih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terburu-buru. Dompet terbuka di depan mesin otomatis untuk beli tiket kereta.<br />
Tiket terbeli. Uang kembalian keluar. Masukkan ke dompet.<br />
Kuitansi keluar, belum sempat mengambil.</p>
<p>Mesin berdering mengingatkan. Dua orang antri di belakang.<br />
Tangan menyenggol dompet. Uang receh berjatuhan.<br />
Mesin berdering lebih keras lagi, mengingatkan untuk segera ambil kuitansi yang masih nempel di mesin.</p>
<p>&#8220;Iya iya, diam bentar kenapa sih&#8230;.duh&#8230;berisik amat nih mesin,&#8221; tak sengaja menggerutu.<br />
Antrian bertambah dua orang.</p>
<p>&#8220;Tenang saja, gak perlu buru-buru kok. Mesinnya jangan dimarahi.&#8221;<br />
Seseorang dengan tongkat, kawan saya, mengingatkan.<br />
&#8220;Mesin ini dibuat bersuara ada tujuannya. Untuk orang yang tak bisa melihat seperti saya, misalnya.&#8221;</p>
<p><span id="more-1036"></span>Saya tertegun. Malu.</p>
<p>&#8220;Orang yang bisa melihat bisa tahu kalo kuitansi sudah keluar. Saya tidak bisa melihat.&#8221;<br />
&#8220;Atau orang yang pendengarannya kurang baik, atau tak berfungsi normal,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Uang receh dan kuitansi sudah masuk semua ke dompet.<br />
Giliran kawan tadi maju ke mesin. Dirabanya beberapa tanda huruf Braille.<br />
Dirabanya juga beberapa koin, memastikan dia akan membayar dengan benar.</p>
<p>Saya menunggu. Muka merah menahan malu.<br />
Panik oleh hal sekecil kutu, lupa bahwa yang &#8220;berisik&#8221; bagi saya, membantu bagi orang lain.<br />
Seperti hujan yang menjengkelkan bagi pedagang es, tapi membawa rejeki bagi penjual payung.</p>
<p>Satu lagi pelajaran soal kepekaan sosial.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elokhalimah.com/pedagang-es-vs-pedagang-payung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Demokrasi&#8221; dan &#8220;Diplomasi&#8221; Laki-Laki Tiga Tahun</title>
		<link>http://elokhalimah.com/demokrasi-dan-diplomasi-laki-laki-tiga-tahun/</link>
		<comments>http://elokhalimah.com/demokrasi-dan-diplomasi-laki-laki-tiga-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 01:47:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elok Halimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jepang dan Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga & Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Dari Orang Tak Dikenal]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elokhalimah.com/demokrasi-dan-diplomasi-laki-laki-tiga-tahun/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;A, ayo kita main bareng,&#8221; ajak si B, anak laki-laki teman, umur 3 tahun.
&#8220;Gak mau,&#8221; jawab si A pendek, sambil tetap berbaring di tenda. Kami sedang pesta barbecue di pinggir pantai, daerah Taman Kasai Rinkai, Tokyo.  Hari Sabtu awal Agustus ini.
&#8220;Ayo dong main,&#8221; si B ngotot.
&#8220;Gak mau, pergi sana,&#8221; si A tak bergeming. Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;A, ayo kita main bareng,&#8221; ajak si B, anak laki-laki teman, umur 3 tahun.<br />
&#8220;Gak mau,&#8221; jawab si A pendek, sambil tetap berbaring di tenda. Kami sedang pesta barbecue di pinggir pantai, daerah Taman Kasai Rinkai, Tokyo.  Hari Sabtu awal Agustus ini.</p>
<p>&#8220;Ayo dong main,&#8221; si B ngotot.<br />
&#8220;Gak mau, pergi sana,&#8221; si A tak bergeming. Dia juga anak laki-laki umur 3 tahun.</p>
<p>Bruukkkkk! Si B tiba-tiba lompat di atas si A. Tenda kecil yang memang disediakan untuk anak-anak itu pun langsung bergoyang ke kanan dan ke kiri, mereka berusaha saling memukul. Si A marah, merasa kenyamanannya diganggu. Si B jengkel, merasa dicuekkin.</p>
<p>Orang tua si A dan si B hanya memandangi dari tenda sebelah. Tapi ayah-ayah mereka berdiri penuh kesiagaan. Jika perkelahian dua anak itu menjadi terlalu berlebihan dan berbahaya, barulah mereka turun tangan.</p>
<p>Tenda terus bergerak, makin lama makin keras. si A dan B berkejaran, berusaha saling mencakar satu sama lain. Ketika A hendak menjambak rambut B, ayahnya langsung berlari menghentikan. Ayah B juga segera membantu melerai pertikaian.</p>
<p><span id="more-1026"></span></p>
<p>&#8220;A, ingat! Bertengkar boleh, tapi jangan menyakiti temanmu! Ayo minta maaf ke B,&#8221; kata ayah A sambil membersihkan muka A dari pasir.</p>
<p>&#8220;B, kalo temanmu gak mau diajak main, mungkin dia sedang capek. Kan si A tadi lagi berbaring. Jangan ngotot begitu, apalagi lompat ke tubuhnya. Kalo dia terluka gimana? Ayo, minta maaf ke A,&#8221; ayah B juga sibuk mengibas-ngibaskan pasir yang menempel di pipi anaknya.</p>
<p>Sepuluh menit kemudian, A dan B sudah lupa dengan pertengkaran mereka. Keduanya sudah ganti kostum, memakai baju renang dan siap pindah arena bermain, mencebur ke pantai. Dari tenda kami terdengar derai tawa mereka, berkejaran, riang gembira.</p>
<p>&#8220;Demokrasi Anak Laki-Laki&#8221;. Begitulah saya dan teman-teman perempuan yang sudah menjadi ibu (termasuk ibu A dan ibu B) menyebut cara &#8220;sosialisasi&#8221; dua anak laki-laki itu. Umur sebaya, pertama kali bertemu. Awalnya malu-malu, lalu pelan-pelan mulai mau diajak main bersama. Setelah dua jam berlalu mereka pun mulai agresif, ngotot sana ngotot sini.</p>
<p>Dua minggu sebelum berangkat ke pantai, ibu A dan B yang bekerja di tempat yang sama sudah paham bahwa anak mereka pada satu titik akan bertengkar, bukan hanya &#8220;adu mulut&#8221;, tapi juga adu fisik. Mereka sepakat bahwa begitulah cara anak-anak belajar bersosialisasi, terutama anak laki-laki.</p>
<p>Hari itu, selama 6 jam bersama, tiga kali A dan B adu fisik. Satu di antaranya termasuk &#8220;kelas berat&#8221;, sampai berguling-guling di atas tanah, berusaha saling menendang satu sama lain. Beberapa menit setelah dilerai, mereka langsung lupa, asyik bermain lagi dengan rukunnya.</p>
<p>Lucunya, selain &#8220;demokrasi adu fisik&#8221;, nampaknya mereka juga paham soal &#8220;diplomasi&#8221;. Ayah si A menemukan serangga cicada (&#8220;semi&#8221; dalam bahasa Jepang) yang masih hidup, ,menggeletak di tanah. A langsung berteriak histeris, menyuruh ayahnya berhenti memegang serangga itu.</p>
<p>&#8220;Pa, kasihan kan? Jangan dipegangi begitu, letakkan saja di tanah. KASIHAN kan!!!&#8221; A berteriak kencang, anehnya sambil berdiri mematung di kejauhan, tak mau mendekati ayahnya, dengan muka meringis.</p>
<p>Usut punya usut, sebenarnya dia bukan merasa kasihan, tapi merasa takut pada si serangga yang masih bergerak itu. Lebih ajaibnya lagi, ketika dilihatnya B tak takut sama sekali, bahkan dengan perkasanya memegangi serangga itu, gengsi A nampaknya tersulut. Meski masih dengan muka meringis, dia memaksakan diri mendekati si serangga, lalu ikutan memeganginya.</p>
<p>&#8220;Kamu takut ya?&#8221; tanya B.<br />
&#8220;Nggak dong, aku tadi ngerasa kasihan aja kalo serangga ini dipegangin. Kan kasihan kalo dia ngerasa sakit,&#8221; jawab A spontan, berdiplomasi untuk melindungi gengsinya.</p>
<p>Sore hari kami bersiap-siap pulang. A melambaian tangan ke B.</p>
<p>&#8220;Ntar kita main bareng lagi ya!&#8221; teriaknya kencang.<br />
&#8220;Iya!!!&#8221; jawab B tak kalah kencang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elokhalimah.com/demokrasi-dan-diplomasi-laki-laki-tiga-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Mbantu-Mbantu, Dibayar Berapa Sih, Mbak?&#8221;</title>
		<link>http://elokhalimah.com/mbantu-mbantu-dibayar-berapa-sih-mbak/</link>
		<comments>http://elokhalimah.com/mbantu-mbantu-dibayar-berapa-sih-mbak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 15:53:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elok Halimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amerika dan Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa & Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang dan Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga & Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Dari Orang Tak Dikenal]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elokhalimah.com/mbantu-mbantu-dibayar-berapa-sih-mbak/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Aku tertarik nih ikutan gabung di &#8220;shimin dantai&#8221; (organisasi kemasyarakatan). Kenalin dong yang OK, yang bener-bener membantu masyarakat, yang gak terlalu menyita banyak waktu, gak sampe ngganggu jadwal weekend, gak pake rapat malam hari.&#8221;
Saya belum sempat menjawab pertanyaan di atas, tapi si penanya langsung menembakkan pertanyaan berikut.
&#8220;Eh, ngomong-ngomong bayarannya berapa sih Mbak, kalo mbantu-mbantu di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1033" class="wp-caption alignright" style="width: 235px"><a href="http://elokhalimah.com/wp-content/uploads/2010/08/P1010025-225x3001.jpg"><img class="size-full wp-image-1033" title="P1010025-225x300" src="http://elokhalimah.com/wp-content/uploads/2010/08/P1010025-225x3001.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">***bingung.com***</p></div>
<p>&#8220;Aku tertarik nih ikutan gabung di &#8220;shimin dantai&#8221; (organisasi kemasyarakatan). Kenalin dong yang OK, yang bener-bener membantu masyarakat, yang gak terlalu menyita banyak waktu, gak sampe ngganggu jadwal weekend, gak pake rapat malam hari.&#8221;</p>
<p>Saya belum sempat menjawab pertanyaan di atas, tapi si penanya langsung menembakkan pertanyaan berikut.</p>
<p>&#8220;Eh, ngomong-ngomong bayarannya berapa sih Mbak, kalo mbantu-mbantu di organisasi kayak gitu? Kalo mesti kerja di weekend dapet honor ekstra kan?&#8221;</p>
<p>Arggggggghhhhhhhhh&#8230;saya jadi melongo saja. Bingung dotcom.</p>
<p>Mungkin gara-gara Perdana Menteri Jepang yang baru, Naoto Kan, dulu memulai karirnya (kalau ini memang bisa disebut karir!) dari gerakan grass-root, aktif di organisasi kemasyarakatan lokal, akhir-akhir ini sering sekali kita dengar istilah &#8220;organisasi kemasyarakatan&#8221; disebut sana sini.</p>
<p>Naoto Kan dibandingkan, lalu didudukkan sama tinggi dengan Barack Obama, yang juga memulai langkahnya di masyarakat lokal, menjadi community organizer. Kalau ingatan saya tak salah, pendapatan Obama waktu itu tak lebih dari US$ 12.000 setahun (pernah baca di bukunya &#8220;Dreams From My Father&#8221;. Ini juga lagi-lagi kalau ingatan saya tak salah lho).</p>
<p><span id="more-1020"></span></p>
<p>Bagus, ini memberi bukti bahwa Anda tak harus lahir sebagai anak atau cucu seorang politikus dan negarawan kawakan kelas kakap untuk terjun ke dunia politik. Tak harus punya &#8220;darah biru politik&#8221;. Atau, Anda tak harus punya 20 perusahaan besar dan mampu menggaji ribuan karyawan untuk menjadi pelaku kelas kakap di dunia politik dan pemerintahan.</p>
<p>Tapi, eittssssss&#8230;tunggu dulu! Kita tidak boleh lupa sedetik pun, bahwa kebanyakan organisasi kemasyarakatan tidak punya dana, tidak bertujuan mencari profit, tidak mengenal bonus tahunan apalagi uang &#8220;lembur&#8221; di akhir pekan. Tak jarang kita harus rogoh kocek sendiri dalam-dalam, supaya program terus berjalan. Saya pribadi menolak menyebutnya sebagai &#8220;karir&#8221;, &#8220;batu loncatan&#8221;, &#8220;langkah awal&#8221;, dan seterusnya dan sebagainya.</p>
<p>Sebab ini memang bukan karir, tapi jalan pilihan atas dasar sukarela.</p>
<p>Maka saya pun langsung bingung dotcom ketika ditembak dua pertanyaan di atas. Alamak&#8230;bagaimana saya harus menjawabnya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>*****elok-lagi-bingung.com*****</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elokhalimah.com/mbantu-mbantu-dibayar-berapa-sih-mbak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bunga Mawar, Facebook, &#8220;Konferensi Balkan-Indonesia-Jerman-Jepang&#8221;.</title>
		<link>http://elokhalimah.com/bunga-mawar-facebook-konferensi-balkan-indonesia-jerman-jepang/</link>
		<comments>http://elokhalimah.com/bunga-mawar-facebook-konferensi-balkan-indonesia-jerman-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 00:34:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elok Halimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa & Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang dan Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga & Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elokhalimah.com/bunga-mawar-facebook-konferensi-balkan-indonesia-jerman-jepang/</guid>
		<description><![CDATA[Di depan rumah mantan host family saya jaman AFS dulu ada sebatang pohon bunga mawar. Kira kira dua meter tingginya. Musim semi lalu di tengah kunjungan rutin saya, ibu menjelaskan.
&#8220;Pohon ini awalnya cuma satu atau dua tangkai mawar pemberian X. Sebelum pulang ke negaranya, dia memberiku mawar itu, sekedar tanda terima kasih katanya. Dulunya aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1018" class="wp-caption alignright" style="width: 235px"><a href="http://elokhalimah.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_03711.jpg"><img class="size-medium wp-image-1018" title="IMG_0371" src="http://elokhalimah.com/wp-content/uploads/2010/08/IMG_03711-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Inilah pohon itu! Photo diambil di musim semi tahun ini, ketika mawar sedang mekar penuh.</p></div>
<p>Di depan rumah mantan host family saya jaman AFS dulu ada sebatang pohon bunga mawar. Kira kira dua meter tingginya. Musim semi lalu di tengah kunjungan rutin saya, ibu menjelaskan.</p>
<p>&#8220;Pohon ini awalnya cuma satu atau dua tangkai mawar pemberian X. Sebelum pulang ke negaranya, dia memberiku mawar itu, sekedar tanda terima kasih katanya. Dulunya aku tanam  di pot kecil, tapi lihatlah betapa tingginya dia sekarang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Si X temenku di Facebook Ma, ntar aku tunjukkan photo ini ke dia. Boleh kan?,&#8221; kata saya meminta ijin untuk memotret pohon dan mawar yang berkembang. Ibu mengangguk senang.</p>
<p>Dua bulan berlalu. Saya lupa memasang photo itu di Facebook. Entah kenapa.</p>
<p>Hingga beberapa hari lalu. Saya berkomentar di wall dia soal bunga mawar itu, betapa ibu &#8220;Jepang&#8221; kami masih merawatnya dengan baik. Si X sangat terharu dan langsung memasang komentar saya di statusnya. Saya pun mendapatkan ucapan terima kasih luar biasa. Nampaknya si X benar-benar terharu mendengarnya.</p>
<p>Malam hari setelah sampai di rumah, langsung saya pasang photo itu di wall si X, supaya dia bisa melihatnya secara langsung. Kami pun bernostalgia di Facebook, saling memandang sebatang pohon mawar, mengingat yang baik-baik dari pertemuan kami di Jepang, ketika si X juga sedang menuntut ilmu dan tinggal di rumah host family itu.</p>
<p><span id="more-1015"></span></p>
<p>Ibu &#8220;Jepang&#8221;, sebatang pohon dan saya di Jepang. Si X yang aslinya dari sebuah negara Balkan tapi saat ini sedang bermukim di Jerman. Di antara kami ada Facebook yang menautkan memori, rasa terima kasih mendalam kepada keluarga Jepang yang bersedia menampung saya dan si X.</p>
<p>Saya pikir, beginilah seharusnya Facebook dimanfaatkan. Untuk yang baik-baik. Jika bertemu teman lama misalnya, untuk sama-sama mengenang yang baik-baik. Yang buruk-buruk tidak usah dipasang. Jangan sampai malah menjadi &#8220;anti-social media&#8221;, berseberangan dengan istilah &#8220;social media&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elokhalimah.com/bunga-mawar-facebook-konferensi-balkan-indonesia-jerman-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Baju Dinas Penampilan Tua&#8221;</title>
		<link>http://elokhalimah.com/baju-dinas-penampilan-tua/</link>
		<comments>http://elokhalimah.com/baju-dinas-penampilan-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 02:07:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elok Halimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jepang dan Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga & Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Dari Orang Tak Dikenal]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elokhalimah.com/baju-dinas-penampilan-tua/</guid>
		<description><![CDATA[Berita gembira buat yang pengen selalu tampil lebih muda dari umur yang sebenarnya. Yang sering &#8220;syirik&#8221; sama orang Jepang, sebab kebanyakan dari mereka selalu kelihatan (jauh) lebih muda dari umur aslinya.
&#8220;Tenkyu pujiannya. Tapi wajah muda ini sering bikin masalah kalo ada rapat penting dengan para senior atau petinggi organisasi. Tahu sendiri kan, biasanya kalo penampilan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berita gembira buat yang pengen selalu tampil lebih muda dari umur yang sebenarnya. Yang sering &#8220;syirik&#8221; sama orang Jepang, sebab kebanyakan dari mereka selalu kelihatan (jauh) lebih muda dari umur aslinya.</p>
<p>&#8220;Tenkyu pujiannya. Tapi wajah muda ini sering bikin masalah kalo ada rapat penting dengan para senior atau petinggi organisasi. Tahu sendiri kan, biasanya kalo penampilan berwibawa dan kelihatan sudah &#8220;senior&#8221;, otomatis akan dianggap sudah senior, lebih berpengalaman, dan biasanya omongannya lebih didengarkan. Muka muda begini lebih sering dianggap &#8220;anak bawang&#8221;, bau kencur kemarin sore. Padahal sebenarnya sudah cukup umur dan sudah hampir dua dekade bekerja di bidang ini,&#8221; kata seorang rekan Jepang yang bekerja di sebuah organisasi kelas dunia, berpangkat &#8220;tukang abdi dunia&#8221;.</p>
<p>&#8220;Betul-betul! Aku juga begitu. Kadang ngerasa &#8220;divonis&#8221; sebagai &#8220;anak bau kencur&#8221; dari penampilan baby face-ku. Padahal pengalaman sudah lumayan. Mau gimana lagi, ini DNA Jepangku kali ya,&#8221; sahut seorang rekan lain, yang bekerja di sebuah organisasi dunia lainnya, yang biasanya identik dengan perkumpulan Davos.</p>
<p><span id="more-1013"></span></p>
<p>&#8220;Tahu gak, ada kolegaku yang punya kloset khusus berisi &#8220;baju dinas penampilan tua&#8221;. Blazer, celana, rok, sepatu, kaca mata, aksesoris…semuanya dipilih dengan ekstra hati-hati, yang bisa membuat dia terkesan lebih tua, lebih senior, dan lebih berwibawa. Karena memang umur dan pengalamannya sebenarnya sudah kelas senior. Supaya gak dianggap &#8220;anak bawang&#8221; lagi,&#8221; sahut rekan yang pertama tadi.</p>
<p>Dulu saya juga sering mendengar cerita yang sama, dari beberapa pengacara Jepang. Umur dan pengalaman sudah senior, tapi muka muda membuat mereka sering &#8220;gerah&#8221;, diperlakukan dengan sebelah mata, kan masih anak &#8220;bau kencur&#8221;?</p>
<p>Ah…lega saya mendengarnya! Minimal saya tak perlu susah-susah menyediakan kloset khusus &#8220;baju dinas penampilan tua&#8221;. Ternyata, rumput tetangga juga ada bintik-bintiknya, tak berwarna hijau melulu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elokhalimah.com/baju-dinas-penampilan-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&quot;Kamu Sebenarnya Orang Mana, Sih?&quot;</title>
		<link>http://elokhalimah.com/kamu-sebenarnya-orang-mana-sih/</link>
		<comments>http://elokhalimah.com/kamu-sebenarnya-orang-mana-sih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 01:23:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elok Halimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amerika dan Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa & Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang dan Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga & Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elokhalimah.com/kamu-sebenarnya-orang-mana-sih/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Elok-san, kamu sebenarnya orang mana sih? Orang Jepang?&#8221;
Dua anak tetangga bertanya, kelas 4 dan 2 SD. Dua-duanya perempuan. Suatu sore hari, minggu lalu. Di depan rumah. Saya sedang membuka kotak surat, mengambil koran harian dan beberapa surat.
&#8220;Bukan orang Jepang, orang Indonesia. Kenapa?&#8221; jawab saya.
Saya dan dua anak itu sudah akrab. Sore hari mereka dan beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Elok-san, kamu sebenarnya orang mana sih? Orang Jepang?&#8221;</p>
<p>Dua anak tetangga bertanya, kelas 4 dan 2 SD. Dua-duanya perempuan. Suatu sore hari, minggu lalu. Di depan rumah. Saya sedang membuka kotak surat, mengambil koran harian dan beberapa surat.</p>
<p>&#8220;Bukan orang Jepang, orang Indonesia. Kenapa?&#8221; jawab saya.</p>
<p>Saya dan dua anak itu sudah akrab. Sore hari mereka dan beberapa anak dari kompleks sekitar suka bermain di halaman depan. Saya kadang main bulutangkis dengan mereka, lempar-lemparan bola, atau hanya sekedar mengobrol sambil berdiri (sebab tak ada kursi di halaman, kecuali ketika mereka sedang pesta atau piknik di sana).</p>
<p>&#8220;Kemarin aku tiba-tiba kepikiran aja. Dari dulu kita kan selalu ngobrol pake bahasa Jepang, tapi kalo dipikir-pikir kamu dan suami kan bukan orang Jepang? Makanya jadi bingung….&#8221; jawab yang kelas 2 SD sambil bersender pada seruas kayu tempat kotak surat tertempel.</p>
<p>Benar sekali! Sejak dia masih TK kami sudah sering ngobrol, tentu saja dalam bahasa Jepang. Dan baru pertama kali ini dia menanyakan &#8220;identitas&#8221; saya, asal usul saya..</p>
<p>Pernahkah Anda mencoba berpikir, kapankah anak-anak usia dini mulai bisa mempertanyakan identitas kewarganegaraan, asal usul daerah, atau identitas berdasarkan ras?</p>
<p><span id="more-1012"></span>Bagi saya ini sebuah misteri mempesona. Di kereta atau supermarket misalnya. Anak umur 2 sampai 4 tahun sering dengan cueknya mengajak saya &#8220;ngobrol&#8221; atau bermain. Mereka melihat muka saya, namun tak perduli sama sekali dengan kenyataan bahwa saya &#8220;berbeda&#8221;. Barangkali karena otak mereka belum mencerna.</p>
<p>Namun, anak umur 5 tahun ke atas biasanya mulai meraba-raba. Jika melihat saya atau orang asing lain, mereka akan menatap dengan mata bertanya-tanya, memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jangankan mengajak bermain, jika saya sapa dalam bahasa Jepang saja, mata mereka langsung membelalak terkejut, lalu buru-buru berpaling, paling sering menyembunyikan muka di belakang ibunya.</p>
<p>Saya pernah naik kereta dengan seorang teman dari Haiti yang nenek moyangnya  dia bilang dari Benua Afrika. Selama di kereta, kami sadar sedang dipelototi secara terus menerus oleh beberapa anak kecil berseragam SD swasta, mungkin masih kelas 1 SD. Teman Haiti itu lalu menyapa. Anak-anak itu benar-benar terkejut, salah satunya berteriak kecil &#8220;Whaa……&#8221;.</p>
<p>Di keluarga host family Jepang, kakak perempuan punya anak laki-laki kelas 1 SD. Anak ini sudah sangat terbiasa dengan saya, sejak lahir kami sudah sering bertemu. Sudah seperti anggota keluarga yang sebenarnya.</p>
<p>Namun suatu hari, setelah dia umur 5 tahun, tiba-tiba dia bertanya ke saya. Tiba-tiba saja, ketika kami sedang berkumpul di rumah neneknya.</p>
<p>&#8220;Elok, kamu sebenarnya orang mana sih? Kok ngomong bahasa Jepang sama Ayah Ibu? Tapi ngomong pake bahasa lain sama Donald?&#8221;</p>
<p>Setelah menjelaskan identitas dan asal-usul kami, saya ganti bertanya ke dia.</p>
<p>&#8220;Sejak kapan kamu mulai heran dan pengen bertanya soal asal usulku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sejak kemarin-kemarin, aku lihat di TV. Aku kan orang Jepang, jadi ngomong pake bahasa Jepang. Tapi di TV, orang seperti kamu dan Donald bukan orang Jepang, jadi ngomng pake bahasa lain. Aku jadi bingung kan……,&#8221; jawabnya lugas.</p>
<p>Beberapa dari Anda tentu akan berargurmen tentang masyarakat Jepang yang terkenal dan memang cenderung masih sangat homogen. Namun saya pikir ini saja tidak cukup untuk  menjawab misteri yang mempesona tadi, sejak kapankah sebenarnya anak-anak mulai sadar soal perbedaan warna kulit, bahasa, identitas ras? Sebab saya mengalami hal ini di tempat lain juga, termasuk di komunitas yang notabene lebih heterogen.</p>
<p>Adik ipar saya di kampung halaman suami punya kerabat yang bulan Agustus nanti genap umur 3 tahun. Saya tak sabar menunggu hingga dia berusia 5 tahun. Pertanyaan apakah yang akan dia lempar, ketika suatu hari tiba-tiba dia melihat saya dan suami bicara dengan bahasa lain, bukan Bahasa Inggris?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elokhalimah.com/kamu-sebenarnya-orang-mana-sih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&quot;Ibu, Pernahkah Tuhan Menjawab Doamu?&quot;</title>
		<link>http://elokhalimah.com/ibu-pernahkah-tuhan-menjawab-doamu/</link>
		<comments>http://elokhalimah.com/ibu-pernahkah-tuhan-menjawab-doamu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 11:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elok Halimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amerika dan Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa & Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga & Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Dari Orang Tak Dikenal]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elokhalimah.com/ibu-pernahkah-tuhan-menjawab-doamu/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ibu, Tuhan pernah menjawab doamu?&#8221;
Seorang anak perempuan dengan rambut pirang sebahu, saya perkirakan umurnya 7 atau 8 tahun. Bertanya polos kepada ibunya yang sama seperti saya dan banyak pengunjung lainnya, sedang mencari-cari kartu ucapan Hari Ibu yang tepat. Di sebuah toko Hallmark di Madison, Wisconsin-Amerika.
Terjadi dua hari menjelang peringatan Hari Ibu yang jatuh pada hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Ibu, Tuhan pernah menjawab doamu?&#8221;</p>
<p>Seorang anak perempuan dengan rambut pirang sebahu, saya perkirakan umurnya 7 atau 8 tahun. Bertanya polos kepada ibunya yang sama seperti saya dan banyak pengunjung lainnya, sedang mencari-cari kartu ucapan Hari Ibu yang tepat. Di sebuah toko Hallmark di Madison, Wisconsin-Amerika.</p>
<p>Terjadi dua hari menjelang peringatan Hari Ibu yang jatuh pada hari Minggu, 9 Mei 2010.  Di bagian &#8220;Mother&#8217;s Day&#8221;, ratusan kartu (mungkin sebetulnya ribuan?) dengan berbagai macam ucapan untuk ibu dipajang di beberapa rak. Di depannya, banyak sekali orang berdiri, melihat-lihat, memilah-milah, dan memilih-milih.</p>
<p>Beberapa dari orang itu tersenyum, menoleh, mencoba mencari sumber suara dan pemilik pertanyaan polos itu. Si anak yang berdiri tak jauh dari saya asyik masyuk menatap sebuah kartu di rak khusus untuk kartu ucapan bertema religi.</p>
<p>Dari tempat saya berdiri, tak jelas apa tulisan di kartu itu. Yang pasti, berbau keagamaan. Barangkali, karena itulah si anak lalu bertanya ke ibunya, &#8220;Tuhan pernah menjawab doamu?&#8221;</p>
<p><span id="more-976"></span>&#8220;Tentu saja pernah. Ibu dan ayah berdoa banyak sebelum kamu lahir, meminta Tuhan supaya diberi anak kedua. Lalu ibu mengandung, dan lahirlah kamu,&#8221; jawab si ibu. Saya manggut-manggut mendengarnya. Jawaban yang sangat bijaksana dan penuh kasih sayang.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, Ibu dan Ayah pasti berdoa lebih banyak dan lebih lama ya untuk kakak (sambil menyebut nama kakaknya), sebelum kakak lahir?&#8221; tanya anak itu, kali ini sambil berjalan memutari rak bagian keagamaan itu. Beberapa pengunjung, termasuk saya, lagi-lagi tersenyum mendengar kepolosannya, meski tak begitu paham maksudnya.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221; si ibu balik bertanya.</p>
<p>&#8220;Soalnya kakak lebih pintar dari aku kan? Ibu dan Ayah selalu bilang &#8220;coba tanya sana sama kakakmu&#8221; kalau aku pengen bertanya tentang sesuatu, atau &#8220;contohlah kakakmu itu!&#8221; kalo dia berbuat sesuatu,&#8221; jawab si anak, masih sambil berputar-putar di sekitar rak.</p>
<p>Duh&#8230;&#8230;..Si ibu menatap anak keduanya. Saya berusaha menahan senyum, mengambil beberapa lembar kartu dan berjalan ke kasir. Dua orang perempuan usia senja tersenyum di belakang rak sebelah.</p>
<p>Ketika berjalan ke tempat parkir, di belakang saya dua remaja laki-laki juga keluar dari toko, sama-sama berjalan ke tempat parkir. Salah satunya berkata.</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan, aku jadi bertanya-tanya juga nih. Jangan-jangan orang tuaku dulu juga berdoa lebih lama dan lebih serius untuk saudara perempuanku. Mereka selalu bilang hal yang sama padaku!&#8221;</p>
<p>Kawannya terkekeh. Mereka masuk mobil, sambil bersenda gurau.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elokhalimah.com/ibu-pernahkah-tuhan-menjawab-doamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepeda? (Ke Laut Aje Kali Ye)&#8230;&#8230;&#8230;.???</title>
		<link>http://elokhalimah.com/sepeda-ke-laut-aje-kali-ye/</link>
		<comments>http://elokhalimah.com/sepeda-ke-laut-aje-kali-ye/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 03:53:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elok Halimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jepang dan Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga & Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elokhalimah.com/sepeda-ke-laut-aje-kali-ye/</guid>
		<description><![CDATA[Sepeda saya pembuat onar! Sering membuat pusing tujuh keliling. Kadang juga membuat saya dapat ceramah gratis dari beberapa petugas, swasta dan pemerintah, yang dapat gaji maupun para tenaga sukarela. Belum lagi harus ngos-ngoson, putar ke kiri dan ke kanan, kadang sengaja menyiapkan waktu 30 menit untuk si sepeda.
Murah dan menyehatkan, minimal untuk otot kaki. Ramah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_951" class="wp-caption alignright" style="width: 235px"><img class="size-medium wp-image-951" title="IMG_0173" src="http://img23.imageshack.us/img23/4804/img0173225x300.jpg" alt="Tanda &quot;Dilarang Parkir Sepeda&quot; di dekat Stasiun Shin-Kawasaki, Saiwai-ku, Kawasaki. Lokasi photo ini tidak ada hubungan dengan lokasi kejadian di tulisan blog ini. Kebetulan saya sedang ada di sana dan tertarik untuk memotretnya." width="225" height="300" /><p class="wp-caption-text">Tanda &quot;Dilarang Parkir Sepeda&quot; di dekat Stasiun Shin-Kawasaki, Saiwai-ku, Kawasaki. Lokasi photo ini tidak ada hubungan dengan lokasi kejadian di tulisan blog ini. Kebetulan saya sedang ada di sana dan tertarik untuk memotretnya.</p></div>
<p>Sepeda saya pembuat onar! Sering membuat pusing tujuh keliling. Kadang juga membuat saya dapat ceramah gratis dari beberapa petugas, swasta dan pemerintah, yang dapat gaji maupun para tenaga sukarela. Belum lagi harus ngos-ngoson, putar ke kiri dan ke kanan, kadang sengaja menyiapkan waktu 30 menit untuk si sepeda.</p>
<p>Murah dan menyehatkan, minimal untuk otot kaki. Ramah lingkungan dan tidak mengeluarkan gas emisi.  Sempurna, bukan?</p>
<p>Dan saya ingin selalu mematuhi peraturan parkir yang sudah ditetapkan. Tak boleh sembarangan parkir sepeda, maka di pagi hari saya selalu memarkir sepeda di tempat yang sudah ditetapkan, di dekat stasiun kereta terdekat. Harus membayar, tentu saja. Ada sistem kontrak bulanan, atau bisa juga harian. Tak masalah! Para petugas di tempat parkir itu pun sudah saya anggap teman. Saling menyapa, kadang bertukar cerita beberapa saat ketika waktu sama-sama memungkinkan.</p>
<p>Yang jadi masalah adalah jika saya harus pergi ke tempat lain. Pernah pergi ke bank. Cuaca cerah, pas untuk mengayuh sepeda sambil menikmati hembusan udara di sepanjang Sungai Tamagawa. Niatnya hanya mau transfer uang, 5 menit pasti selesai. Tapi tak ada tempat parkir sama sekali. Bank itu nampaknya tak punya ide sama sekali bahwa akan ada nasabah yang datang dengan sepeda???</p>
<p>Seorang bapak, petugas penertib parkir, berdiri tegak di depan gedung di dekat bank (sebetulnya bank itu ada di dalam kawasan gedung itu juga, lantai pertama). Saya tahu siapa pun dilarang parkir di sekitar gedung itu, maka saya bertanya ke bapak itu, dimana ada tempat parkir. Mengikuti petunjuk, saya kayuh sepeda ke tempat parkir, dengan ongkos 150 yen satu kali parkir.</p>
<p><span id="more-949"></span>Eh, sudah penuh. Petugasnya menghadang saya dengan suara tegas, &#8220;Sudah penuh!&#8221; Saya tanya, &#8220;Di mana ya yang kira-kira masih ada?&#8221; Pak petugas diam membisu, berpikir keras. Saya tunggu dengan sabar. Lalu, inilah jawaban ramah yang saya dapat, &#8220;Jam segini semuanya rata-rata sudah penuh.&#8221;</p>
<p>Saya kayuh lagi sepeda saya, berputar-putar mencari tempat parkir yang memungkinkan. Di beberapa sudut berdiri petugas mengawasi lalu-lalang orang di jalanan, mungkin untuk memastikan tak akan ada orang yang memarkir sepedanya sembarangan. Saya tanya dua orang di antara mereka, sayangnya tak dapat jawaban yang membantu.</p>
<div id="attachment_953" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-953" title="IMG_0172" src="http://img168.imageshack.us/img168/8360/img0172300x225.jpg" alt="Dua sepeda &quot;ngeyel&quot;, terparkir di depan tanda &quot;Dilarang Parkir&quot;" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Dua sepeda &quot;ngeyel&quot;, terparkir di depan tanda &quot;Dilarang Parkir&quot;</p></div>
<p>Lima belas menit berlalu. Akhirnya, saya kayuh sepeda ke gym langganan saya. Meskipun pagi itu tidak ada jadwal ke sana, dengan terpaksa saya parkir sepeda di depan gedung mereka. Jalan kaki hampir 10 menit, sampai di bank. Transaksi hanya 4 menit, selesai.</p>
<p>Di bulan Maret saya pernah menulis tentang pengalaman yang mirip-mirip di blog Bahasa Jepang saya, dengan alokasi waktu dan lokasi yang berbeda. Judulnya pun mentereng, &#8220;Pencarian Tempat Parkir Sepeda Selama 25 Menit&#8221;. Jam 9:30 pagi, berkeliling ke tiga tempat parkir yang berbeda. Semuanya penuh.</p>
<p>Ketika bertanya ke seorang petugas, saya mendapat &#8220;kuliah gratis&#8221;, &#8220;Kamu telat banget sih&#8230;jam segini mah udah pada penuh semua&#8230;..&#8221;. Saya dan sepeda saya sendirian, empat orang petugas berdiri tegak di hadapan kami. Mereka tak bisa memberikan solusi, saya pun sudah tak tahu harus ke mana lagi.</p>
<p>Merasa nelangsa karena sepertinya kok saya yang salah karena punya jadwal kerja agak siang (padahal berniat baik untuk memarkir sepeda di tempat yang ditentukan), plus keringat dingin karena jika tak segera naik kereta, saya akan terlambat tiba di sebuah SD untuk memberikan ceramah singkat, lagi-lagi dengan sangat terpaksa saya parkir sepeda saya di depan sebuah supermarket, padahal sama sekali tak ada rencana belanja.</p>
<p>Setelah selesai urusan, saya ambil sepeda malang itu, sebelumnya mampir dulu di supermarket itu untuk membeli beberapa buah alpukat, mangga, dan pepaya.</p>
<p>Masih banyak lagi pengalaman-pengalaman memusingkan seputar kendaraan roda dua saya ini.</p>
<div id="attachment_956" class="wp-caption alignright" style="width: 235px"><img class="size-medium wp-image-956" title="IMG_0174" src="http://img13.imageshack.us/img13/4287/img0174225x300.jpg" alt="Pemerintah kota secara berkala menertibkan sepeda-sepeda yang diparkir di tempat terlarang, memindahkan dan mengangkut mereka ke lokasi penampungan sepeda tertentu. Setelah itu, pihak kota memasang pengumuman tentang penertiban yang baru dilaksanakan, kapan dan di mana, lengkap dengan alamat dan peta tempat penampungan. Para pemilik sepeda bisa mengambil sepeda mereka di sana, dengan membayar sejumlah uang (berbeda di setiap kota dan daerah)." width="225" height="300" /><p class="wp-caption-text">Pemerintah kota secara berkala menertibkan sepeda-sepeda yang diparkir di tempat terlarang, memindahkan dan mengangkut mereka ke lokasi penampungan sepeda tertentu. Setelah itu, pihak kota memasang pengumuman tentang penertiban yang baru dilaksanakan, kapan dan di mana, lengkap dengan alamat dan peta tempat penampungan. Para pemilik sepeda bisa mengambil sepeda mereka di sana, dengan membayar sejumlah uang (berbeda di setiap kota dan daerah).</p></div>
<p>Pernah antri di depan McDonald untuk beli Apple Pie, niatnya untuk dibawa pulang. Kira-kira 5 menit, tiba-tiba seorang laki-laki memindahkan sepeda saya, ditumpuk dengan beberapa sepeda lain. Saya hampiri dia dan jelaskan bahwa saya sedang antri di McDonald yang letaknya tepat di samping sepeda saya, hanya beberapa langkah. Tak lupa saya tambahi, saya tidak akan makan di sana, hanya beli dan bawa pulang.</p>
<p>Si bapak dengan tegas menjawab bahwa seluruh area di situ adalah terlarang untuk parkir. Saya jawab bahwa saya mengerti, tapi saya dalam perjalanan pulang dan sudah terlanjur mengambil sepeda saya dari tempat parkir langganan, saya tunjukkan juga tag parkir resmi sebagai buktinya. Meskipun nampak kurang senang, si bapak akhirnya berbaik hati membiarkan sepeda saya di tempat asalnya. Sebelum pergi, dia wanti-wanti, &#8220;Setelah dapat yang Anda beli, langsung pulang kan? Gak mau makan di sini berlama-lama kan?&#8221;</p>
<p>Kapok dengan situasi di atas, sekarang saya ganti strategi. Jika berniat membeli sesuatu dalam perjalanan pulang, saya sengaja pergi ke toko itu dulu, jalan kaki. Lalu baru ambil sepeda di tempat parkir. Memakan waktu dan energi lebih banyak (karena berarti harus berbalik arah, lalu kembali ke arah lain dan lewat depan stasiun lagi), tapi jitu untuk menghindari &#8220;komunikasi&#8221; jenis apa pun dengan petugas penertiban parkir sepeda.</p>
<p>Peristiwa terakhir terjadi hari Minggu lalu. Pergi sebentar ke sebuah kafe. Suami ada janji dengan kenalan. Sepeda diparkir tepat di depan kafe itu. Dari jendela pun bisa terlihat. Dengan asumsi bahwa sebagai tamu kafe dia berhak memarkir sepedanya di situ (dan memang ada ruang kosong di sana, meskipun tak terlalu luas), dia pun larut dalam bincang-bincang dengan kawan itu.</p>
<p>Eh, satu jam kemudian, ketika bersiap hendak kembali ke rumah, sepeda itu tak ada di tempatnya! Lenyap! Dia bertanya ke karyawan kafe, yang juga hanya bisa bingung. Untungnya karyawan itu langsung menanyakan ke pihak tertentu, dan ternyata sepedanya telah dipindahkan jauh ke tempat lain. Di depan kafe itu DILARANG PARKIR. Suami bertanya di mana bisa parkir jika dia mau makan dan minum di kafe itu. Petugas memberi petunjuk, tentu saja lengkap dengan ekpresi tak mengerti, seakan-akan suami adalah biang keladi dari semuanya, &#8220;Ih, kok bisa-bisanya parkir sepeda di depan kafe sih?&#8221;</p>
<p>Begitulah, sepeda saya (juga sepeda sport suami) ini memang suka bikin ulah! Suka bikin pusing tujuh keliling! Suka bikin kami dapat &#8220;kuliah gratis&#8221; dari banyak orang. Suka bikin onar, bikin capek keliling sana sini, mencari tempat parkir.</p>
<p>Tapi, sebab dia murah, menyehatkan, dan baik untuk lingkungan, saya pun tetap mencintainya. Tetap mengendarainya setiap hari. Para petugas di tempat parkir langganan pun sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elokhalimah.com/sepeda-ke-laut-aje-kali-ye/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Rabu Yang Tidak Sempurna</title>
		<link>http://elokhalimah.com/hari-rabu-yang-tidak-sempurna/</link>
		<comments>http://elokhalimah.com/hari-rabu-yang-tidak-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 04:23:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elok Halimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa & Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang dan Sekitarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga & Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Dari Orang Tak Dikenal]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elokhalimah.com/hari-rabu-yang-tidak-sempurna/</guid>
		<description><![CDATA[Jet lag tak kunjung sembuh total. Kadang kepala masih pening, sebab tengah malam masih sering terbangun.
Printer rusak. Oke, jangan panik! Coba bersihkan dulu, ganti tinta dengan yang baru. Sip, coba lagi. Masih tak bergerak. Sabar, coba lagi. Masih sama. Satu jam berlalu. Naskah laporan dan pidato yang baru saja direvisi oleh beberapa staff tak dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_937" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-937" title="IMG_0171" src="http://img80.imageshack.us/img80/3107/img0171300x225.jpg" alt="Pagi hari seperti biasa. Di pelataran parkir sepeda dekat stasiun, sepeda berjejer-jejer, para pemiliknya berangkat bekerja" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Pagi hari seperti biasa. Di pelataran parkir sepeda dekat stasiun, sepeda berjejer-jejer, para pemiliknya berangkat bekerja</p></div>
<p>Jet lag tak kunjung sembuh total. Kadang kepala masih pening, sebab tengah malam masih sering terbangun.</p>
<p>Printer rusak. Oke, jangan panik! Coba bersihkan dulu, ganti tinta dengan yang baru. Sip, coba lagi. Masih tak bergerak. Sabar, coba lagi. Masih sama. Satu jam berlalu. Naskah laporan dan pidato yang baru saja direvisi oleh beberapa staff tak dapat di-print. Baiklah, besok akan berangkat ke Kantor Kota lebih awal, supaya bisa dapat naskah itu dari staff lebih awal.</p>
<p>Pindah ke tugas lain. Selesai. Waktunya tidur.</p>
<p>Pagi hari. Pergi ke stasiun lebih awal. Di tengah jalan baru ingat, harus membawa stempel pribadi. Balik lagi ke rumah. Beberapa tetangga menyapa ramah. Senyum manis, jangan panik.</p>
<p>Sampai di stasiun, ratusan orang &#8220;terbengkalai&#8221; di stasiun. Mungkin mencapai ribuan, sebab dua stasiun saling berdekatan satu sama lain. Ada kecelakaan, orang bunuh diri, terjun di jalur kereta. Jadwal kereta pun kacau balau. Hanya beberapa yang berjalan, dengan kecepatan bagaikan keong. Pelan sekali.</p>
<p>Melirik HP, untuk melihat jam. Tak apa-apa, toh tadi sengaja berangkat lebih awal. Berdiri berdesak-desakkan, menunggu kereta. Seorang bapak tua (sangat tua, mungkin sekitar 80-an) bertanya jalur kereta. Saya menjawab, meskipun tak ditanyai. Sebab laki-laki muda yang dia tanyai, tak kunjung menjawab. Hanya menatap bapak tua itu dengan beku. Mungkin laki-laki muda itu kalut oleh jadwal yang kacau balau.<span id="more-934"></span></p>
<p>Penumpang terus berdatangan di peron yang semakin penuh sesak. Kereta tak kunjung datang. Mulai terasa panas. Jarum jam terus bergerak.</p>
<div id="attachment_939" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-939" title="IMG_0190" src="http://img85.imageshack.us/img85/7371/img0190300x225.jpg" alt="Siang hari. Para pegawai berdiri, mengantri untuk makan siang. Di pertokoan bawah tanah, Stasiun Otemachi-Tokyo. Lokasi photo ini tidak ada hubungan dengan isi tulisan di blog." width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Siang hari. Para pegawai berdiri, mengantri untuk makan siang. Di pertokoan bawah tanah, Stasiun Otemachi-Tokyo. Lokasi photo ini tidak ada hubungan dengan isi tulisan di blog.</p></div>
<p>Akhirnya kereta datang. Ratusan penumpang serentak menyerbu. Tak perlu melangkahkan kaki, secara otomatis sudah terdorong oleh arus kuat, langsung tersungkur di sudut. Berdiri, tangan kanan berpegangan pada tiang besi kecil, penyangga kursi.</p>
<p>Setiap kali kereta berhenti di stasiun tertentu, jumlah penumpang terus bertambah. Semakin tersudut. Tak sengaja kaki menginjak kaki seorang ibu. Minta maaf. Mencoba berdiri tegak, tapi terus tersungkur. Selama beberapa menit berdiri miring. Tas terhimpit tak karuan. Seperti menjadi ikan sarden di kaleng yang sangat kecil.</p>
<p>Sabar, tenang. Yang penting sampai di ruang pertemuan dengan selamat. HP bergetar. Terasa di bawah lengan. Tak bisa mengangkat. Menggerakkan badan pun mustahil. Biarkan saja.</p>
<p>Sampai di stasiun tujuan. Terdorong kuat ke pintu keluar. Akhirnya. Berjalan menepi ke pinggir. Buka HP, kantor sekretariat telpon dua kali. Ada apa gerangan? Tak apa, biarkan saja. Beberapa menit lagi sampai sana.</p>
<p>Sampai di kantor sekretariat. Beberapa tersenyum lega. &#8220;Ah&#8230;.syukurlah. Tadi kami khawatir, ada bunuh diri di jalur keretamu. Kami sempat agak panik. Dua belas orang anggota DPRD siap mendengarkan laporan kita, berabe kan kalo kamu terlambat,&#8221; kata seorang dari mereka sambil tersenyum riang. Ikut tersenyum.</p>
<p>Rapat pertama. Ramah tamah dengan pimpinan. Sebelumnya mendapat &#8220;sekedar informasi&#8221;, bahwa salah satu dari mereka dulu tidak pernah menyetujui usulan, atau bahkan eksistensi kami. Dan dia gigih dalam ketidaksetujuannya.</p>
<p>Tak apa-apa. Tak perlu grogi. Tenang, bicara seperlunya saja. Berikan kartu nama seperti biasa,  anggukkan kepala seperti biasa. Jawab pertanyaan seperti biasa. Selesai. Beberapa staff nampak lega. Ikut lega.</p>
<p>Seorang pegawai protokol datang. Mempersilahkan kami memasuki ruang sidang.</p>
<div id="attachment_942" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-942" title="P1010072" src="http://img683.imageshack.us/img683/668/p1010072300x225.jpg" alt="&quot;Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Selama nyawa masih terjaga&quot;. Kalimat keramat ibu angkat orang Jepang, host mother jaman SMA dulu." width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">&quot;Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Selama nyawa masih terjaga&quot;. Kalimat keramat ibu angkat orang Jepang, host mother jaman SMA dulu.</p></div>
<p>Memulai laporan. Di tengah-tengah membuat beberapa kesalahan fatal dan mencolok. Salah baca data penting, salah baca huruf Kanji, lupa baca beberapa istilah akademik dalam Kanji. Tenang, jangan panik. Menoleh ke rekan yang duduk di sebelah. Maksud hati bertanya dalam bahasa Jepang, yang keluar hanya bahasa Inggris. &#8220;Tolong, ini bacanya apa ya?&#8221;</p>
<p>Selesai rapat laporan tahunan. Keluar ruangan, menuju ke ruang rapat yang lain. Materi yang dipersiapkan oleh pihak sekretariat bolong di sana sini, tak lengkap sana sini. Susunannya pun tak beraturan.</p>
<p>&#8220;Tenang, jangan marah, jangan panik, jangan emosi,&#8221; bicara dalam hati, pada diri sendiri.</p>
<p>Menjelaskan apa-apa yang kurang, apa-apa yang harus dipersiapkan. Empat orang staff mencatat sana sini. Denting jam berbunyi keras sekali. Tanda waktu makan siang.</p>
<p>Berjalan ke stasiun. Ada jadwal makan siang di rumah sebelum pergi ke pertemuan lain. HP bergetar. &#8220;Mana naskah sambutan untuk pertemuan bulan depan?&#8221;. SMS masuk. &#8220;Kok outline penelitian gak ada ya? Bikin tiga?&#8221;<br />
Pesan di voice mail juga. &#8220;Jadwal hari Jumat bisa diganti gak? Jam 9 sampai jam 3? Makan siang sama murid-murid SD?&#8221;</p>
<p>Di dalam kereta buka email. Banyak sekali yang belum sempat dibalas. Satu per satu. HP bergetar lagi. &#8220;Jangan lupa lusa ulang tahun si A. Juga kirim paket untuk si B di C, dan si D di E. Eh, pernikahan si S di Z gimana, pergi? Dah beli tiket?&#8221;</p>
<p>Kembali ke deretan email. Beberapa berisi pesan sama, &#8220;Deadline 26 Mei&#8221;. Hari ini. Semua butuh diselesaikan tepat waktu.</p>
<div id="attachment_944" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-944 " title="P1010067" src="http://img64.imageshack.us/img64/6452/p1010067300x225.jpg" alt="Dan memang, semuanya akan baik-baik saja :-)" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Dan memang, semuanya akan baik-baik saja.</p></div>
<p>Turun di stasiun. Berhenti di kamar kecil. Kepala pening. Berharap bisa tidur, sebab jet lag menyerang lagi. Ambil HP, tekan nomor yang selalu tertekan setiap kali butuh penenangan.</p>
<p>&#8220;Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Selama nyawa masih terjaga,&#8221; begitu kata suara di seberang.</p>
<p>Itulah kalimat &#8220;keramat&#8221; ibu angkat orang Jepang jaman SMA dulu. Membesarkan tiga orang anak, dua orang keponakan, dan menjadi ibu angkat dari banyak sekali siswa asing. Setiap kali kami terbeban tumpukan masalah, atau sekedar terhimpit oleh kesibukan yang bertubi-tubi, dia selalu menghibur dengan cara yang sama.</p>
<p>&#8220;Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja, selama nyawa masih terjaga&#8221;.</p>
<p>Tutup telepon. Keluar dari kamar kecil. Seorang nenek bertanya di mana kantor pos. Karena letaknya agak tersembunyi, kami berjalan bersama ke sana. Sampai. Nenek membungkuk hormat mengucapkan terima kasih. Dua orang muda berlari-lari sambil bicara di telepon, pegawai kantoran, dari arah berlawanan. Nampak sangat terburu-buru. Salah satunya tak sengaja sedikit menabrak si nenek. Nenek agak terhuyung.</p>
<p>&#8220;Anda tidak apa-apa?&#8221; tegur saya.</p>
<p>&#8220;Jangan khawatir, saya baik-baik saja. Nyawa masih terjaga,&#8221; jawab nenek itu sambil sedikit tersenyum jenaka. Melambaikan tangan kecilnya.</p>
<p>Saya tertegun. Lalu tersenyum. &#8220;Ya, semua akan baik-baik saja. Selama nyawa masih terjaga.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elokhalimah.com/hari-rabu-yang-tidak-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
