
Pagi hari seperti biasa. Di pelataran parkir sepeda dekat stasiun, sepeda berjejer-jejer, para pemiliknya berangkat bekerja
Jet lag tak kunjung sembuh total. Kadang kepala masih pening, sebab tengah malam masih sering terbangun.
Printer rusak. Oke, jangan panik! Coba bersihkan dulu, ganti tinta dengan yang baru. Sip, coba lagi. Masih tak bergerak. Sabar, coba lagi. Masih sama. Satu jam berlalu. Naskah laporan dan pidato yang baru saja direvisi oleh beberapa staff tak dapat di-print. Baiklah, besok akan berangkat ke Kantor Kota lebih awal, supaya bisa dapat naskah itu dari staff lebih awal.
Pindah ke tugas lain. Selesai. Waktunya tidur.
Pagi hari. Pergi ke stasiun lebih awal. Di tengah jalan baru ingat, harus membawa stempel pribadi. Balik lagi ke rumah. Beberapa tetangga menyapa ramah. Senyum manis, jangan panik.
Sampai di stasiun, ratusan orang “terbengkalai” di stasiun. Mungkin mencapai ribuan, sebab dua stasiun saling berdekatan satu sama lain. Ada kecelakaan, orang bunuh diri, terjun di jalur kereta. Jadwal kereta pun kacau balau. Hanya beberapa yang berjalan, dengan kecepatan bagaikan keong. Pelan sekali.
Melirik HP, untuk melihat jam. Tak apa-apa, toh tadi sengaja berangkat lebih awal. Berdiri berdesak-desakkan, menunggu kereta. Seorang bapak tua (sangat tua, mungkin sekitar 80-an) bertanya jalur kereta. Saya menjawab, meskipun tak ditanyai. Sebab laki-laki muda yang dia tanyai, tak kunjung menjawab. Hanya menatap bapak tua itu dengan beku. Mungkin laki-laki muda itu kalut oleh jadwal yang kacau balau.
Penumpang terus berdatangan di peron yang semakin penuh sesak. Kereta tak kunjung datang. Mulai terasa panas. Jarum jam terus bergerak.

Siang hari. Para pegawai berdiri, mengantri untuk makan siang. Di pertokoan bawah tanah, Stasiun Otemachi-Tokyo. Lokasi photo ini tidak ada hubungan dengan isi tulisan di blog.
Akhirnya kereta datang. Ratusan penumpang serentak menyerbu. Tak perlu melangkahkan kaki, secara otomatis sudah terdorong oleh arus kuat, langsung tersungkur di sudut. Berdiri, tangan kanan berpegangan pada tiang besi kecil, penyangga kursi.
Setiap kali kereta berhenti di stasiun tertentu, jumlah penumpang terus bertambah. Semakin tersudut. Tak sengaja kaki menginjak kaki seorang ibu. Minta maaf. Mencoba berdiri tegak, tapi terus tersungkur. Selama beberapa menit berdiri miring. Tas terhimpit tak karuan. Seperti menjadi ikan sarden di kaleng yang sangat kecil.
Sabar, tenang. Yang penting sampai di ruang pertemuan dengan selamat. HP bergetar. Terasa di bawah lengan. Tak bisa mengangkat. Menggerakkan badan pun mustahil. Biarkan saja.
Sampai di stasiun tujuan. Terdorong kuat ke pintu keluar. Akhirnya. Berjalan menepi ke pinggir. Buka HP, kantor sekretariat telpon dua kali. Ada apa gerangan? Tak apa, biarkan saja. Beberapa menit lagi sampai sana.
Sampai di kantor sekretariat. Beberapa tersenyum lega. “Ah….syukurlah. Tadi kami khawatir, ada bunuh diri di jalur keretamu. Kami sempat agak panik. Dua belas orang anggota DPRD siap mendengarkan laporan kita, berabe kan kalo kamu terlambat,” kata seorang dari mereka sambil tersenyum riang. Ikut tersenyum.
Rapat pertama. Ramah tamah dengan pimpinan. Sebelumnya mendapat “sekedar informasi”, bahwa salah satu dari mereka dulu tidak pernah menyetujui usulan, atau bahkan eksistensi kami. Dan dia gigih dalam ketidaksetujuannya.
Tak apa-apa. Tak perlu grogi. Tenang, bicara seperlunya saja. Berikan kartu nama seperti biasa, anggukkan kepala seperti biasa. Jawab pertanyaan seperti biasa. Selesai. Beberapa staff nampak lega. Ikut lega.
Seorang pegawai protokol datang. Mempersilahkan kami memasuki ruang sidang.

"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Selama nyawa masih terjaga". Kalimat keramat ibu angkat orang Jepang, host mother jaman SMA dulu.
Memulai laporan. Di tengah-tengah membuat beberapa kesalahan fatal dan mencolok. Salah baca data penting, salah baca huruf Kanji, lupa baca beberapa istilah akademik dalam Kanji. Tenang, jangan panik. Menoleh ke rekan yang duduk di sebelah. Maksud hati bertanya dalam bahasa Jepang, yang keluar hanya bahasa Inggris. “Tolong, ini bacanya apa ya?”
Selesai rapat laporan tahunan. Keluar ruangan, menuju ke ruang rapat yang lain. Materi yang dipersiapkan oleh pihak sekretariat bolong di sana sini, tak lengkap sana sini. Susunannya pun tak beraturan.
“Tenang, jangan marah, jangan panik, jangan emosi,” bicara dalam hati, pada diri sendiri.
Menjelaskan apa-apa yang kurang, apa-apa yang harus dipersiapkan. Empat orang staff mencatat sana sini. Denting jam berbunyi keras sekali. Tanda waktu makan siang.
Berjalan ke stasiun. Ada jadwal makan siang di rumah sebelum pergi ke pertemuan lain. HP bergetar. “Mana naskah sambutan untuk pertemuan bulan depan?”. SMS masuk. “Kok outline penelitian gak ada ya? Bikin tiga?”
Pesan di voice mail juga. “Jadwal hari Jumat bisa diganti gak? Jam 9 sampai jam 3? Makan siang sama murid-murid SD?”
Di dalam kereta buka email. Banyak sekali yang belum sempat dibalas. Satu per satu. HP bergetar lagi. “Jangan lupa lusa ulang tahun si A. Juga kirim paket untuk si B di C, dan si D di E. Eh, pernikahan si S di Z gimana, pergi? Dah beli tiket?”
Kembali ke deretan email. Beberapa berisi pesan sama, “Deadline 26 Mei”. Hari ini. Semua butuh diselesaikan tepat waktu.

Dan memang, semuanya akan baik-baik saja.
Turun di stasiun. Berhenti di kamar kecil. Kepala pening. Berharap bisa tidur, sebab jet lag menyerang lagi. Ambil HP, tekan nomor yang selalu tertekan setiap kali butuh penenangan.
“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Selama nyawa masih terjaga,” begitu kata suara di seberang.
Itulah kalimat “keramat” ibu angkat orang Jepang jaman SMA dulu. Membesarkan tiga orang anak, dua orang keponakan, dan menjadi ibu angkat dari banyak sekali siswa asing. Setiap kali kami terbeban tumpukan masalah, atau sekedar terhimpit oleh kesibukan yang bertubi-tubi, dia selalu menghibur dengan cara yang sama.
“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja, selama nyawa masih terjaga”.
Tutup telepon. Keluar dari kamar kecil. Seorang nenek bertanya di mana kantor pos. Karena letaknya agak tersembunyi, kami berjalan bersama ke sana. Sampai. Nenek membungkuk hormat mengucapkan terima kasih. Dua orang muda berlari-lari sambil bicara di telepon, pegawai kantoran, dari arah berlawanan. Nampak sangat terburu-buru. Salah satunya tak sengaja sedikit menabrak si nenek. Nenek agak terhuyung.
“Anda tidak apa-apa?” tegur saya.
“Jangan khawatir, saya baik-baik saja. Nyawa masih terjaga,” jawab nenek itu sambil sedikit tersenyum jenaka. Melambaikan tangan kecilnya.
Saya tertegun. Lalu tersenyum. “Ya, semua akan baik-baik saja. Selama nyawa masih terjaga.”