“Ibu, Tuhan pernah menjawab doamu?”
Seorang anak perempuan dengan rambut pirang sebahu, saya perkirakan umurnya 7 atau 8 tahun. Bertanya polos kepada ibunya yang sama seperti saya dan banyak pengunjung lainnya, sedang mencari-cari kartu ucapan Hari Ibu yang tepat. Di sebuah toko Hallmark di Madison, Wisconsin-Amerika.
Terjadi dua hari menjelang peringatan Hari Ibu yang jatuh pada hari Minggu, 9 Mei 2010. Di bagian “Mother’s Day”, ratusan kartu (mungkin sebetulnya ribuan?) dengan berbagai macam ucapan untuk ibu dipajang di beberapa rak. Di depannya, banyak sekali orang berdiri, melihat-lihat, memilah-milah, dan memilih-milih.
Beberapa dari orang itu tersenyum, menoleh, mencoba mencari sumber suara dan pemilik pertanyaan polos itu. Si anak yang berdiri tak jauh dari saya asyik masyuk menatap sebuah kartu di rak khusus untuk kartu ucapan bertema religi.
Dari tempat saya berdiri, tak jelas apa tulisan di kartu itu. Yang pasti, berbau keagamaan. Barangkali, karena itulah si anak lalu bertanya ke ibunya, “Tuhan pernah menjawab doamu?”
“Tentu saja pernah. Ibu dan ayah berdoa banyak sebelum kamu lahir, meminta Tuhan supaya diberi anak kedua. Lalu ibu mengandung, dan lahirlah kamu,” jawab si ibu. Saya manggut-manggut mendengarnya. Jawaban yang sangat bijaksana dan penuh kasih sayang.
“Kalau begitu, Ibu dan Ayah pasti berdoa lebih banyak dan lebih lama ya untuk kakak (sambil menyebut nama kakaknya), sebelum kakak lahir?” tanya anak itu, kali ini sambil berjalan memutari rak bagian keagamaan itu. Beberapa pengunjung, termasuk saya, lagi-lagi tersenyum mendengar kepolosannya, meski tak begitu paham maksudnya.
“Kenapa?” si ibu balik bertanya.
“Soalnya kakak lebih pintar dari aku kan? Ibu dan Ayah selalu bilang “coba tanya sana sama kakakmu” kalau aku pengen bertanya tentang sesuatu, atau “contohlah kakakmu itu!” kalo dia berbuat sesuatu,” jawab si anak, masih sambil berputar-putar di sekitar rak.
Duh……..Si ibu menatap anak keduanya. Saya berusaha menahan senyum, mengambil beberapa lembar kartu dan berjalan ke kasir. Dua orang perempuan usia senja tersenyum di belakang rak sebelah.
Ketika berjalan ke tempat parkir, di belakang saya dua remaja laki-laki juga keluar dari toko, sama-sama berjalan ke tempat parkir. Salah satunya berkata.
“Ya Tuhan, aku jadi bertanya-tanya juga nih. Jangan-jangan orang tuaku dulu juga berdoa lebih lama dan lebih serius untuk saudara perempuanku. Mereka selalu bilang hal yang sama padaku!”
Kawannya terkekeh. Mereka masuk mobil, sambil bersenda gurau.