“Elok-san, kamu sebenarnya orang mana sih? Orang Jepang?”
Dua anak tetangga bertanya, kelas 4 dan 2 SD. Dua-duanya perempuan. Suatu sore hari, minggu lalu. Di depan rumah. Saya sedang membuka kotak surat, mengambil koran harian dan beberapa surat.
“Bukan orang Jepang, orang Indonesia. Kenapa?” jawab saya.
Saya dan dua anak itu sudah akrab. Sore hari mereka dan beberapa anak dari kompleks sekitar suka bermain di halaman depan. Saya kadang main bulutangkis dengan mereka, lempar-lemparan bola, atau hanya sekedar mengobrol sambil berdiri (sebab tak ada kursi di halaman, kecuali ketika mereka sedang pesta atau piknik di sana).
“Kemarin aku tiba-tiba kepikiran aja. Dari dulu kita kan selalu ngobrol pake bahasa Jepang, tapi kalo dipikir-pikir kamu dan suami kan bukan orang Jepang? Makanya jadi bingung….” jawab yang kelas 2 SD sambil bersender pada seruas kayu tempat kotak surat tertempel.
Benar sekali! Sejak dia masih TK kami sudah sering ngobrol, tentu saja dalam bahasa Jepang. Dan baru pertama kali ini dia menanyakan “identitas” saya, asal usul saya..
Pernahkah Anda mencoba berpikir, kapankah anak-anak usia dini mulai bisa mempertanyakan identitas kewarganegaraan, asal usul daerah, atau identitas berdasarkan ras?
Bagi saya ini sebuah misteri mempesona. Di kereta atau supermarket misalnya. Anak umur 2 sampai 4 tahun sering dengan cueknya mengajak saya “ngobrol” atau bermain. Mereka melihat muka saya, namun tak perduli sama sekali dengan kenyataan bahwa saya “berbeda”. Barangkali karena otak mereka belum mencerna.
Namun, anak umur 5 tahun ke atas biasanya mulai meraba-raba. Jika melihat saya atau orang asing lain, mereka akan menatap dengan mata bertanya-tanya, memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jangankan mengajak bermain, jika saya sapa dalam bahasa Jepang saja, mata mereka langsung membelalak terkejut, lalu buru-buru berpaling, paling sering menyembunyikan muka di belakang ibunya.
Saya pernah naik kereta dengan seorang teman dari Haiti yang nenek moyangnya dia bilang dari Benua Afrika. Selama di kereta, kami sadar sedang dipelototi secara terus menerus oleh beberapa anak kecil berseragam SD swasta, mungkin masih kelas 1 SD. Teman Haiti itu lalu menyapa. Anak-anak itu benar-benar terkejut, salah satunya berteriak kecil “Whaa……”.
Di keluarga host family Jepang, kakak perempuan punya anak laki-laki kelas 1 SD. Anak ini sudah sangat terbiasa dengan saya, sejak lahir kami sudah sering bertemu. Sudah seperti anggota keluarga yang sebenarnya.
Namun suatu hari, setelah dia umur 5 tahun, tiba-tiba dia bertanya ke saya. Tiba-tiba saja, ketika kami sedang berkumpul di rumah neneknya.
“Elok, kamu sebenarnya orang mana sih? Kok ngomong bahasa Jepang sama Ayah Ibu? Tapi ngomong pake bahasa lain sama Donald?”
Setelah menjelaskan identitas dan asal-usul kami, saya ganti bertanya ke dia.
“Sejak kapan kamu mulai heran dan pengen bertanya soal asal usulku?”
“Sejak kemarin-kemarin, aku lihat di TV. Aku kan orang Jepang, jadi ngomong pake bahasa Jepang. Tapi di TV, orang seperti kamu dan Donald bukan orang Jepang, jadi ngomng pake bahasa lain. Aku jadi bingung kan……,” jawabnya lugas.
Beberapa dari Anda tentu akan berargurmen tentang masyarakat Jepang yang terkenal dan memang cenderung masih sangat homogen. Namun saya pikir ini saja tidak cukup untuk menjawab misteri yang mempesona tadi, sejak kapankah sebenarnya anak-anak mulai sadar soal perbedaan warna kulit, bahasa, identitas ras? Sebab saya mengalami hal ini di tempat lain juga, termasuk di komunitas yang notabene lebih heterogen.
Adik ipar saya di kampung halaman suami punya kerabat yang bulan Agustus nanti genap umur 3 tahun. Saya tak sabar menunggu hingga dia berusia 5 tahun. Pertanyaan apakah yang akan dia lempar, ketika suatu hari tiba-tiba dia melihat saya dan suami bicara dengan bahasa lain, bukan Bahasa Inggris?