»
S
I
D
E
B
A
R
«
Sepeda? (Ke Laut Aje Kali Ye)……….???
June 2nd, 2010 by Elok Halimah
Tanda "Dilarang Parkir Sepeda" di dekat Stasiun Shin-Kawasaki, Saiwai-ku, Kawasaki. Lokasi photo ini tidak ada hubungan dengan lokasi kejadian di tulisan blog ini. Kebetulan saya sedang ada di sana dan tertarik untuk memotretnya.

Tanda "Dilarang Parkir Sepeda" di dekat Stasiun Shin-Kawasaki, Saiwai-ku, Kawasaki. Lokasi photo ini tidak ada hubungan dengan lokasi kejadian di tulisan blog ini. Kebetulan saya sedang ada di sana dan tertarik untuk memotretnya.

Sepeda saya pembuat onar! Sering membuat pusing tujuh keliling. Kadang juga membuat saya dapat ceramah gratis dari beberapa petugas, swasta dan pemerintah, yang dapat gaji maupun para tenaga sukarela. Belum lagi harus ngos-ngoson, putar ke kiri dan ke kanan, kadang sengaja menyiapkan waktu 30 menit untuk si sepeda.

Murah dan menyehatkan, minimal untuk otot kaki. Ramah lingkungan dan tidak mengeluarkan gas emisi. Sempurna, bukan?

Dan saya ingin selalu mematuhi peraturan parkir yang sudah ditetapkan. Tak boleh sembarangan parkir sepeda, maka di pagi hari saya selalu memarkir sepeda di tempat yang sudah ditetapkan, di dekat stasiun kereta terdekat. Harus membayar, tentu saja. Ada sistem kontrak bulanan, atau bisa juga harian. Tak masalah! Para petugas di tempat parkir itu pun sudah saya anggap teman. Saling menyapa, kadang bertukar cerita beberapa saat ketika waktu sama-sama memungkinkan.

Yang jadi masalah adalah jika saya harus pergi ke tempat lain. Pernah pergi ke bank. Cuaca cerah, pas untuk mengayuh sepeda sambil menikmati hembusan udara di sepanjang Sungai Tamagawa. Niatnya hanya mau transfer uang, 5 menit pasti selesai. Tapi tak ada tempat parkir sama sekali. Bank itu nampaknya tak punya ide sama sekali bahwa akan ada nasabah yang datang dengan sepeda???

Seorang bapak, petugas penertib parkir, berdiri tegak di depan gedung di dekat bank (sebetulnya bank itu ada di dalam kawasan gedung itu juga, lantai pertama). Saya tahu siapa pun dilarang parkir di sekitar gedung itu, maka saya bertanya ke bapak itu, dimana ada tempat parkir. Mengikuti petunjuk, saya kayuh sepeda ke tempat parkir, dengan ongkos 150 yen satu kali parkir.

Eh, sudah penuh. Petugasnya menghadang saya dengan suara tegas, “Sudah penuh!” Saya tanya, “Di mana ya yang kira-kira masih ada?” Pak petugas diam membisu, berpikir keras. Saya tunggu dengan sabar. Lalu, inilah jawaban ramah yang saya dapat, “Jam segini semuanya rata-rata sudah penuh.”

Saya kayuh lagi sepeda saya, berputar-putar mencari tempat parkir yang memungkinkan. Di beberapa sudut berdiri petugas mengawasi lalu-lalang orang di jalanan, mungkin untuk memastikan tak akan ada orang yang memarkir sepedanya sembarangan. Saya tanya dua orang di antara mereka, sayangnya tak dapat jawaban yang membantu.

Dua sepeda "ngeyel", terparkir di depan tanda "Dilarang Parkir"

Dua sepeda "ngeyel", terparkir di depan tanda "Dilarang Parkir"

Lima belas menit berlalu. Akhirnya, saya kayuh sepeda ke gym langganan saya. Meskipun pagi itu tidak ada jadwal ke sana, dengan terpaksa saya parkir sepeda di depan gedung mereka. Jalan kaki hampir 10 menit, sampai di bank. Transaksi hanya 4 menit, selesai.

Di bulan Maret saya pernah menulis tentang pengalaman yang mirip-mirip di blog Bahasa Jepang saya, dengan alokasi waktu dan lokasi yang berbeda. Judulnya pun mentereng, “Pencarian Tempat Parkir Sepeda Selama 25 Menit”. Jam 9:30 pagi, berkeliling ke tiga tempat parkir yang berbeda. Semuanya penuh.

Ketika bertanya ke seorang petugas, saya mendapat “kuliah gratis”, “Kamu telat banget sih…jam segini mah udah pada penuh semua…..”. Saya dan sepeda saya sendirian, empat orang petugas berdiri tegak di hadapan kami. Mereka tak bisa memberikan solusi, saya pun sudah tak tahu harus ke mana lagi.

Merasa nelangsa karena sepertinya kok saya yang salah karena punya jadwal kerja agak siang (padahal berniat baik untuk memarkir sepeda di tempat yang ditentukan), plus keringat dingin karena jika tak segera naik kereta, saya akan terlambat tiba di sebuah SD untuk memberikan ceramah singkat, lagi-lagi dengan sangat terpaksa saya parkir sepeda saya di depan sebuah supermarket, padahal sama sekali tak ada rencana belanja.

Setelah selesai urusan, saya ambil sepeda malang itu, sebelumnya mampir dulu di supermarket itu untuk membeli beberapa buah alpukat, mangga, dan pepaya.

Masih banyak lagi pengalaman-pengalaman memusingkan seputar kendaraan roda dua saya ini.

Pemerintah kota secara berkala menertibkan sepeda-sepeda yang diparkir di tempat terlarang, memindahkan dan mengangkut mereka ke lokasi penampungan sepeda tertentu. Setelah itu, pihak kota memasang pengumuman tentang penertiban yang baru dilaksanakan, kapan dan di mana, lengkap dengan alamat dan peta tempat penampungan. Para pemilik sepeda bisa mengambil sepeda mereka di sana, dengan membayar sejumlah uang (berbeda di setiap kota dan daerah).

Pemerintah kota secara berkala menertibkan sepeda-sepeda yang diparkir di tempat terlarang, memindahkan dan mengangkut mereka ke lokasi penampungan sepeda tertentu. Setelah itu, pihak kota memasang pengumuman tentang penertiban yang baru dilaksanakan, kapan dan di mana, lengkap dengan alamat dan peta tempat penampungan. Para pemilik sepeda bisa mengambil sepeda mereka di sana, dengan membayar sejumlah uang (berbeda di setiap kota dan daerah).

Pernah antri di depan McDonald untuk beli Apple Pie, niatnya untuk dibawa pulang. Kira-kira 5 menit, tiba-tiba seorang laki-laki memindahkan sepeda saya, ditumpuk dengan beberapa sepeda lain. Saya hampiri dia dan jelaskan bahwa saya sedang antri di McDonald yang letaknya tepat di samping sepeda saya, hanya beberapa langkah. Tak lupa saya tambahi, saya tidak akan makan di sana, hanya beli dan bawa pulang.

Si bapak dengan tegas menjawab bahwa seluruh area di situ adalah terlarang untuk parkir. Saya jawab bahwa saya mengerti, tapi saya dalam perjalanan pulang dan sudah terlanjur mengambil sepeda saya dari tempat parkir langganan, saya tunjukkan juga tag parkir resmi sebagai buktinya. Meskipun nampak kurang senang, si bapak akhirnya berbaik hati membiarkan sepeda saya di tempat asalnya. Sebelum pergi, dia wanti-wanti, “Setelah dapat yang Anda beli, langsung pulang kan? Gak mau makan di sini berlama-lama kan?”

Kapok dengan situasi di atas, sekarang saya ganti strategi. Jika berniat membeli sesuatu dalam perjalanan pulang, saya sengaja pergi ke toko itu dulu, jalan kaki. Lalu baru ambil sepeda di tempat parkir. Memakan waktu dan energi lebih banyak (karena berarti harus berbalik arah, lalu kembali ke arah lain dan lewat depan stasiun lagi), tapi jitu untuk menghindari “komunikasi” jenis apa pun dengan petugas penertiban parkir sepeda.

Peristiwa terakhir terjadi hari Minggu lalu. Pergi sebentar ke sebuah kafe. Suami ada janji dengan kenalan. Sepeda diparkir tepat di depan kafe itu. Dari jendela pun bisa terlihat. Dengan asumsi bahwa sebagai tamu kafe dia berhak memarkir sepedanya di situ (dan memang ada ruang kosong di sana, meskipun tak terlalu luas), dia pun larut dalam bincang-bincang dengan kawan itu.

Eh, satu jam kemudian, ketika bersiap hendak kembali ke rumah, sepeda itu tak ada di tempatnya! Lenyap! Dia bertanya ke karyawan kafe, yang juga hanya bisa bingung. Untungnya karyawan itu langsung menanyakan ke pihak tertentu, dan ternyata sepedanya telah dipindahkan jauh ke tempat lain. Di depan kafe itu DILARANG PARKIR. Suami bertanya di mana bisa parkir jika dia mau makan dan minum di kafe itu. Petugas memberi petunjuk, tentu saja lengkap dengan ekpresi tak mengerti, seakan-akan suami adalah biang keladi dari semuanya, “Ih, kok bisa-bisanya parkir sepeda di depan kafe sih?”

Begitulah, sepeda saya (juga sepeda sport suami) ini memang suka bikin ulah! Suka bikin pusing tujuh keliling! Suka bikin kami dapat “kuliah gratis” dari banyak orang. Suka bikin onar, bikin capek keliling sana sini, mencari tempat parkir.

Tapi, sebab dia murah, menyehatkan, dan baik untuk lingkungan, saya pun tetap mencintainya. Tetap mengendarainya setiap hari. Para petugas di tempat parkir langganan pun sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Leave a Reply

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa